Empat pelaku pelecehan seksual di Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan modus gim truth or dare telah dijatuhi sanksi. Dua pelaku di antaranya merupakan mahasiswa aktif. Keduanya dikenai sanksi skors kuliah selama 1 semester.
Juru bicara Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto, mengatakan pemeriksaan dilakukan oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS).
"Ada empat pelaku pelecehan seksual. Dua orang alumni dan dua mahasiswa aktif," kata dia saat dihubungi detikJateng, Selasa (30/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menjelaskan, keempat pelaku terbukti melakukan pelanggaran etika akademik.
"Sanksi administratif tingkat sedang bagi yang masih berstatus mahasiswa aktif berupa skorsing kuliah selama satu semester dan dilarang menjadi pengurus pada kegiatan intrakampus," ujarnya.
Sedangkan sanksi untuk dua pelaku yang berstatus alumni yaitu dilarang menerima beasiswa dari lembaga manapun di lingkungan UNS.
"Bagi yang berstatus alumni UNS, dilarang menerima beasiswa dari lembaga mana pun jika melanjutkan perkuliahan pascasarjana di UNS," pungkasnya.
Diketahui, kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh mahasiswa UNS itu sempat viral di media sosia setelah diunggah di akun Instagram @kentingansantuy, Desember lalu.
Menurut kronologi yang diunggah akun @kentingansantuy, awalnya korban berada di kos temannya untuk mengerjakan tugas bersama dua orang lainnya. Namun karena teman korban enggan diajak mengerjakan di luar, ia bersama temannya tetap mengerjakan tugas di kos.
"Pada malam hari yang sama, anak-anak dari acara voli ***** ***** yang baru selesai bertanding malam itu datang ke kos tersebut yang merupakan tempat yang sama dimana korban dan teman- temannya sedang kumpul," tulis akun tersebut seperti dikutip detikJateng, Rabu (3/12).
Namun karena sudah tidak ingin lagi mengerjakan skripsi, mereka memutuskan untuk bermain. Disebutkan permainan itu dilakukan dalam kondisi sadar.
"Dikarenakan sudah terlalu ramai dan sudah tidak nyaman untuk mengerjakan skripsi, mereka memutuskan bermain game agar suasana tidak terlalu membosankan. Hal ini juga dilakukan tanpa alkohol maupun obat2-an terlarang. Game yang dipilih adalah Truth or Dare (ToD), yang pada ya adalah permainan biasa. Namun tanpa alasan yang jelas, dan tanpa diketahui korban sebelumnya, arah ainan ToD malah berubah menjadi "dare" yang bernuansa seksual dan mesum," tulisnya.
Dalam cerita tersebut, korban sudah menolak berkali-kali untuk game tersebut. Tapi para pelaku tetap memaksa dan dibuat kalah terus. Para pelaku melecehkan korban dengan dalih sportivitas. Korban yang merasa dilecehkan sempat melawan, namun tetap dipaksa oleh para pelaku.
Saat itu, pihak UNS melalui Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), Ismi Dwi Astuti, menyatakan Satgas PPKS sudah menerima laporan sejak Senin (1/12).
"Kasusnya sudah dilaporkan ke Satgas 1 Desember dan saat ini sedang dalam proses pemeriksaan," kata dia dihubungi detikJateng, Rabu (3/12).
Ismi melanjutkan, pihaknya menggelar pemeriksaan terhadap pelapor pelecehan seksual hingga pihak yang dilaporkan. Saat itu Satgas PPKS UNS juga tengah menunggu permintaan korban apakah membutuhkan psikolog atau tidak.
"Di mekanisme kami, korban bisa dirujuk ke direktorat konseling mahasiswa jika yang bersangkutan menyatakan membutuhkan layanan konseling psikolog," jelasnya.
(dil/dil)











































