Harga Rp 10 Ribu, Ini Penampakan Menu Dapur Sehat SD di Solo yang Tolak MBG

Tara Wahyu NV - detikJateng
Senin, 29 Sep 2025 13:12 WIB
Siswa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo menerima menu makan siang Rp 10 ribu dari dapur sehat di sekolahnya, Senin (29/9/2025). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Solo -

Sejumlah wali murid SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo menolak rencana pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka pilih membayar Rp 10 ribu ke sekolah untuk menu makan anaknya dengan penerapan dapur sehat. Ini penampakan menu dapur sehat di SD tersebut.

Pantauan detikJateng di sekolah itu sekira pukul 09.00 WIB, sejumlah juru masak masih menyiapkan makanan. Mereka sedang menggoreng galantin yang menjadi menu hari ini.

Terlihat juga juru masak lain yang sedang memasak sayur sop. Masakan matang sekira pukul 11.00 WIB dan langsung didistribusikan. Menu yang dihidangkan ialah nasi putih, sayur sop, galantin, dan pisang.

Siswa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo menerima menu makan siang Rp 10 ribu dari dapur sehat di sekolahnya, Senin (29/9/2025). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

Makanan itu disiapkan di luar kelas, lalu para murid mengambil sendiri. Tampak para siswa antre membawa piring masing-masing. Mereka mengambil nasi, galantin, dan buah secara prasmanan. Sedangkan sayurnya diambilkan wali kelas.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, Sri Sayekti, menyebut kantin merupakan pilar bagi pembelajaran. Menurutnya, apabila kantinnya baik maka siswa bisa belajar dengan baik.

"Yang pada akhirnya prestasi anak-anak baik akademik maupun akademiknya akan baik, jadi kantin bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran berdirinya SD Muhammadiyah 1," kata Sayekti di SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Senin (29/9/2025).

Siswa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo menerima menu makan siang Rp 10 ribu dari dapur sehat di sekolahnya, Senin (29/9/2025). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

Sayekti menjelaskan, menu yang setiap hari disajikan itu sudah direncanakan selama sebulan. Dia bilang pihaknya juga telah mengantongi sertifikasi halal dari MUI dan BPOM.

"Menu makanan sudah dibuat, selama satu bulan nanti masak apa. Kita masaknya juga fresh, jadi diberikan ke siswa itu setelah matang ya," ujarnya.

Pihaknya juga mempertimbangkan nasib dapur sehat bila nanti ada pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, bila ada MBG, maka dapur harus ditiadakan.

"Kemudian saya juga punya tenaga-tenaga yang selama ini sudah bekerja dengan kami selama 10 tahun yang tentunya setelah ini ini saya harus memikirkan beliau-beliau akan saya arahkan ke mana," ungkapnya.

Siswa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo menerima menu makan siang Rp 10 ribu dari dapur sehat di sekolahnya, Senin (29/9/2025). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

"Karena praktis setelah MBG masuk pasti dapur tidak akan produksi lagi. Jadi saya minta diberikan waktu untuk berupaya sebaik mungkin, karena kami punya dapur. Karena kami punya dapur, saya minta izin untuk bisa berupaya terlebih dahulu agar bisa mengelola sendiri," sambungnya.

Pihaknya juga belum bisa memutuskan membuat SPPG sendiri. Dirinya harus berkoordinasi dengan Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Solo.

"Untuk jadi SPPG sendiri sendiri kalau itu harus seizin PDM, karena sekolah ini sekolah milik Muhammadiyah. Saya tidak punya kewenangan menentukan apakah sekolah ini akan jadi SPPG atau tidak," pungkasnya.



Simak Video "Video Prabowo: Anak-anak Harus Dapat Pendidikan yang Baik, MBG Saja Tak Cukup"


(ahr/dil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork