Sebanyak 53 anak yang sempat diamankan Polres Magelang Kota terkait demo ricuh dibebaskan. Mereka sebelum dibebaskan diminta meminta maaf dan sungkem kepada orang tuanya masing-masing.
Acara pembebasan 53 orang yang kebanyakan masih remaja itu dikemas dalam 'Parenting Polres Magelang Kota kepada Pemuda dan Remaja'. Hal ini dilakukan untuk menjaga kamtibmas yang kondusif di wilayah hukum Polres Magelang Kota.
Dalam acara ini hadir, Kapolres Magelang Kota AKBP Anita Indah Setyaningrum, Dandim 0705/Magelang Letkol Inf Afrizal Rakham, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Bupati Temanggung Agus Setyawan, dan Ketua DPRD Kabupaten Magelang Sakir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari ini, kami Polres Magelang Kota dengan Forpimda dari Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Temanggung juga dengan Dandim melakukan kegiatan parenting. Untuk anak-anak yang kemarin (Jumat) melakukan aksi unjuk rasa di wilayah Kota Magelang," kata Anita kepada wartawan di Polres Magelang Kota, Sabtu (30/8/2025).
"Ada sebanyak 53 (sebelumnya diberitakan 44 orang) anak yang kami amankan kemarin malam. Sore ini sudah kami bisa keluarkan dengan membuat surat pernyataan di dampingi oleh orang tuanya dan para kades dan camatnya masing-masing," sambung Anita.
Langkah selanjutnya, kata Anita, bakal melakukan pembinaan dan edukasi terhadap anak-anak tersebut. Pihaknya berharap anak-anak tersebut bisa berubah sikap dan pola pikirnya untuk tidak mengulangi kembali.
"Intinya (surat pernyataan) tidak melakukan perbuatan lagi. Dan nanti untuk handphone (HP) disita akan dikembalikan minggu depan. Nanti diberlakukan wajib apel, Selasa dan Kamis," tambahnya.
"Yang ketiga isinya adalah kendaraan akan dikembalikan minggu depannya secara bertahap," ujarnya.
Perihal adanya sorotan terhadap kepolisian dalam penangkapan tersebut salah sasaran, Anita mengklarifikasi.
"Jadi semua sesuai dengan pada saat kejadian ,di lokasi yang bersangkutan ada berbarengan dengan massa. Dan diamankan oleh rekan-rekan TNI dan Polri," katanya.
Sungkem dan Minta Maaf
Dalam parenting tersebut menghadirkan Budi Irawanto dari Yayasan Sandal Jepitan Bareng (SJB). Pihaknya sempat memperlihatkan video seorang kakek-kakek dan nenek-nenek yang masih berjualan.
Budi pun di akhir parenting, mengajak 53 anak-anak tersebut mencari orang tuanya masing-masing yang duduk di kursi deretan belakang.
Saat itu, pihaknya meminta anak-anak untuk menyampaikan permohonan maaf dan sungkem. Suasana yang semula hening menjadi tangis haru, baik anak maupun orang tua.
"Dari kami (materi) itu pendekatan emosional supaya teman-teman (anak-anak) membuka nilai kesadaran saja. Saat ini, untuk mengimbau, menegur atau dengan kata-kata jangan, pasti tidak mengena ke hati," kata Budi.
"Kami percaya mereka masih punya kesadaran dan hati nurani yang disentuh. Kami mengajak untuk berpikir lebih luas, di mana saat ini ada doa orangtua, ada perjuangan orang tua. Masa depannya masih luas," tuturnya.
(apu/apu)