Usai panen raya, suasana persawahan di Desa Sumub Lor, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan mendadak meriah, Kamis (28/8/2025). Bukan untuk menanam padi, melainkan menggelar lomba ketangkasan traktor roda dua.
Kegiatan ini diikuti 20 peserta dari perwakilan kelompok tani se-Kabupaten Pekalongan dan pelajar SMK. Mereka adu cepat dan adu keterampilan mengendalikan traktor di area sawah yang berlumpur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, Ari Lailani, mengatakan lomba ini digelar dalam rangka memperingati HUT ke-80 RI sekaligus HUT ke-403 Pemkab Pekalongan.
"Tujuan lomba ini untuk mendukung swasembada pangan yang menjadi program prioritas Presiden. Tahun 2025 kita harus swasembada pangan dan bisa menghentikan impor beras," ujar Lailani.
![]() |
Ia menambahkan, semua traktor yang dipakai wajib memenuhi kriteria panitia, yakni mesin standar tanpa modifikasi. Yang dinilai adalah kecepatan sekaligus keterampilan operator mengendalikan traktor.
Lomba itu, menurutnya juga untuk melihat secara langsung, bagaimana generasi muda ikut andil untuk memajukan sektor pertanian.
"Antusias generasi muda sangat tinggi. Para operator muda-muda. Ini menunjukkan mereka telah punya andil untuk memajukan sektor pertanian di masing-masing wilayah," katanya.
Danang (22), warga Desa Sumub Lor, Kecamatan Sragi, Pekalongan misalnya. Ia menekuni petani sejak usia 18 tahun. Padahal, dulunya ia belajar di SMK Teknik Mesin. Namun, karena kecintaan dan penerus petani dari orang tuanya, sudah 4 tahun ini ia nikmati dunia pertanian.
"Saya sudah empat tahun jadi petani. Dulu sejak umur 18 tahun lulus SMK jurusan mesin, tapi enak bertani, meneruskan orang tua," katanya.
Menurutnya menjadi petani tidak ada jam kantornya dan bisa disambi kerja apa saja dan kapan pun.
"Jadi petani enak. Gak ada jam kerjanya. Saya juga operator traktor. Apalagi operator traktor, selalu dapat uang dari penyewanya," katanya.
Ia mengikuti lomba adu ketangkasan traktor karena sesuai dengan pekerjaannya juga, memakai traktor saat bertani.
"Ya seru tadi. Tadi nomor satu di depan. Kalau saya, tidak ada kesulitan, sudah biasa di medan seperti ini, sat-set," ungkapnya.
"Harapannya pertanian di Indonesia, terutama Pekalongan lebih maju lagi. Ayo anak muda, jangan malu terjun ke sawah, kalian gak tahu asyiknya saat bersawah," kata Danang.
Sementara bagi pelajar, lomba ini memberi pengalaman baru. Arino Ciptaningbowo, siswa SMK Diponegoro Karanganyar, Pekalongan, misalnya. Di sekolah ia mengambil jurusan pertanian. Ia juga senang ke sawah. Dengan adanya lomba ini, sekalian praktik operator sawah.
"Ikut lomba biar nambah ilmu soal traktor dan pertanian. Walau start kalah jauh karena traktornya jarang dipakai," ucap Arino.
Lomba unik ini pun ramai ditonton warga sekitar. Mereka bersorak mendukung peserta yang berjibaku dengan traktor di sawah becek, menambah semarak suasana pedesaan. Meskipun terik panas, tidak dirasakan warga. Warga bertahan karena angin khas areal persawahan yang justru kian siang banyak warga yang berkunjung melihat keramaian lomba ini.
(rih/dil)