Polisi Jelaskan soal Luka Lebam Santri yang Tewas di Ponpes Sragen

Polisi Jelaskan soal Luka Lebam Santri yang Tewas di Ponpes Sragen

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Rabu, 23 Nov 2022 15:38 WIB
ilustrasi jenazah
Ilustrasi. Foto: thinkstock
Sragen -

Santri salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, DWW (15) tewas setelah mendapatkan hukuman keras dari seniornya.

Jasad korban sudah dipulangkan ke rumah orang tuanya dan tiba di rumah duka di Desa Katikan, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, pada Minggu (10/11). Jenazah korban lalu dikebumikan pada malamnya. Saat jenazahnya tiba, keluarga melihat ada luka lebam di bagian dada korban.

"Hasil otopsi, kami belum mengetahui. Tapi ada luka lebam di bagian dada. Merah-merah gitu. Di muka tidak ada, cuma di bagian dada," kata Nurhuda saat ditemui di Mapolres Sragen, Rabu (23/11/2022).


Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujianto mengatakan, dari hasil visum tidak ditemukan adanya luka lebam di tubuh korban. Namun untuk kondisi pastinya, pihaknya masih menunggu hasil otopsi.

"Kalau hasil visum pada saat itu belum ditemukan memar. Namun demikian kita tindaklanjuti dengan otopsi," kata Iptu Ari.

Proses autopsi dilakukan di RSUD dr. Moewardi Solo. Hingga saat ini, hasil autopsi belum diumumkan oleh pihak rumah sakit.

"Sementara hasil autopsi belum turun. Kita masih menunggu hasil autopsi yang dilakukan di RSUD Muwardi Solo," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang santri salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Sragen meninggal dunia. Diduga santri tersebut mendapatkan perlakuan keras dari seniornya.

Kapolres Sragen AKBP Piter Yanottama melalui Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujianto membenarkan kejadian itu. Ia menyampaikan kejadian itu terjadi pada Sabtu (19/11) malam. Sementara santri yang tewas berinisial DWW (14) asal Ngawi, Jawa Timur

"Sementara kita proses di Polres Sragen, tentunya baru proses penyelidikan. Tapi yang pasti, sudah kami tindaklanjuti," kata dia saat dihubungi detikJateng, Selasa (22/11/2022).

Ia menuturkan, sebelum korban tewas, dia sempat mendapatkan pembinaan yang keras dari seniornya. Bahkan, korban sempat dipukul.

"Itu tindakan senior ke juniornya, tidak ada unsur dendam. Istilahnya, kayak tradisi indisipliner dari senior kepada junior," ucapnya.



Simak Video "Pengacara Santri Korban Penganiayaan Tak Akan Laporkan Ponpes Gontor"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/dil)