Peringatan World Heart Day, Mengenal Perintis Bedah Jantung di Indonesia

Peringatan World Heart Day, Mengenal Perintis Bedah Jantung di Indonesia

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 29 Sep 2022 02:00 WIB
ilustrasi operasi
Ilustrasi operasi. Foto: thinkstock
Solo -

Setiap 29 September selalu diperingati sebagai World Heart Day atau Hari Jantung Sedunia. Perayaan ini menjadi momentum tahunan untuk gerakan kampanye kesehatan jantung di dunia.

Penyakit kardiovaskuler atau jantung dan stroke tercatat menjadi penyebab kematian terbesar di dunia, termasuk juga di Indonesia.

Dalam peringatan Hari Jantung Sedunia ini, tidak ada salahnya kita melacak perkembangan teknologi di dunia medis terhadap penanganan penyakit jantung di Indonesia. Ternyata, rintisan operasi bedah jantung sudah mulai dilakukan pada era kemerdekaan.


Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, perintis tersebut adalah Margono Soekarjo, dokter pribumi pertama yang diakui oleh pemerintahan Hindia Belanda. Dia merupakan dokter kelahiran Sokaraja, Banyumas pada 1897.

Dia tercatat pernah bersekolah di di Europesche Logere School (ELS), kemudian melanjutkan ke Sekolah Kedokteran Bumiputera atau School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).

Kecerdasan membawanya memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan kedokteran spesialis di Belanda. Saat itu dia memilih untuk mengambil spesialis bedah.

Sepulang dari Belanda, Margono Soekardjo dipercaya untuk menjadi pengajar di sebuah pendidikan kedokteran di Surabaya. dia juga pernah menjadi direktur di sebuah rumah sakit di Jawa Tengah, Centraale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ).

Di masa menjelang kemerdekaan, Margono juga ikut berkiprah mengobati para pejuang yang terluka karena kekejaman Jepang. Hal itu menjadi bukti bahwa dia ikut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan.

Pada 1948, Margono Soekardjo telah berhasil melakukan operasi mitral stenosis atau penggantian katup mitral jantung. Dia lantas melaporkan keberhasilannya dalam operasi itu di sebuah pertemuan ilmiah di Prancis.

Sejumlah prestasi membuat Pemerintah Indonesia beberapa kali memberikan penghargaan. Dia pernah memperoleh penghargaan berupa pisau bedah emas. Selain itu, dia juga pernah memperoleh penghargaan Satya Lencana Kebudayaan.

Dokter yang sangat cerdas itu meninggal pada 1970 dan dimakamkan di daerah asalnya, Sokaraja, Banyumas. Namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit milik pemerintah di Purwokerto.



Simak Video "Lucu! Saat Jan Ethes Ucapkan Selamat untuk Kaesang yang Bakal Nikah"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/ams)