Misteri 11 Sumur yang Disebut Jejak Tragedi 1965 di Pati

Misteri 11 Sumur yang Disebut Jejak Tragedi 1965 di Pati

Dian Utoro Aji - detikJateng
Sabtu, 17 Sep 2022 15:52 WIB
Lokasi perhutani Regaloh, Kecamatan Tlogowungu, Pati, yang diduga lokasi tragedi 1965, Rabu (7/9/2022).
Lokasi perhutani Regaloh, Kecamatan Tlogowungu, Pati, yang diduga tempat tragedi 1965, Rabu (7/9/2022). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Pati -

Sebanyak 11 sumur atau lubang di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, disebut menjadi jejak tragedi tahun 1965. Sumur hingga sekarang belum pernah dibongkar untuk dibuat layak pemakaman pada umumnya.

detikJateng menemui eks Ketua Yayasan Peneliti Peristiwa (YPKP) 1965 Kabupaten Pati, Handoyo Triatmojo, di rumahnya Desa Jati Mulyo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati. Handoyo mengaku menjadi keluarga korban tragedi tahun 1965-1966 tersebut.

"Memang saya satu-satunya anak korban dan pelaku. Ketika semua orang saya dinyatakan terlibat, yang masih hidup di tahanan, di penjara, gedung nasional, gedung Kerisidenan itu," kata Handoyo ditemui di rumahnya, Selasa (13/9/2022).


"Waktu itu mbah saya menjadi kepala desa, bapak saya menjadi kepala guru SR (sekolah rakyat), ibu saya menjadi sekretaris desa, mbah saya dari muda pejuang sejati, sejak melawan Belanda, Jepang, sehingga menjadi kepala desa paling lama. Fanatik dengan Pak Karno," Handoyo mengimbuhkan.

Handoyo lalu menjelaskan pada masa Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dia melakukan penelitian terhadap kejadian tahun 1965. Dia mencatat ada 11 sumur diduga terkait pembantaian massal di Pati.

"Orang Pati yang belum pulang sampai sekarang itu 324 orang. Itu yang tidak pulang. Di Pati ada 11 lubang sumur pembantaian, saya pernah mengadakan penelusuran dan penelitian di situ juga terjadi peristiwa yang irasional. Ada yang tidak mati, akhirnya terpaksa dimasukkan, dikubur-kubur hidup. Itu keterangan dari saksi," jelasnya.

Eks Ketua Yayasan Peneliti Peristiwa (YPKP) 1965 Kabupaten Pati, Handoyo Triatmojo, Selasa (13/9/2022).Eks Ketua Yayasan Peneliti Peristiwa (YPKP) 1965 Kabupaten Pati, Handoyo Triatmojo, Selasa (13/9/2022). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Handoyo mengatakan 11 sumur itu berada di hutan Jeglong Desa Ronggo Kecamatan Jaken, hutan Desa Brati Kecamatan Kayen, di Kecamatan Dukuhseti, dan hutan di Desa Regaloh Kecamatan Tlogowungu.

"Jeglong Jaken itu ada 10 lubang sumur, tiga ada isinya yang tujuh tidak ada isinya. Jadi 15 orang, lima orang, lima orang total ada 25 orang yang ada di sana," jelasnya.

"Yang terdata rapi itu ada 11 titik, jadi Brati Kayen ada dua lubang, terus Jeglong Ronggo Kecamatan Jaken, ada lubang 10 yang terisi tiga lubang, terus kali Telo Dukuhseti ada tiga, terus di Puncel ada dua lubang. Alas Lamin Kecamatan Tlogowungu ada dua lubang," terang Handoyo.

Handoyo pernah mengusulkan untuk dilakukan pembongkaran sumur-sumur tersebut. Namun hingga sekarang disebutnya belum juga disetujui oleh pemerintah.

"Orang Pati keseluruhan yang dibawa ke Pulau Buru ada 500-an orang. Di Pati belum ada pembongkaran, waktu itu saya dapat restu pembongkaran Pak Luhut satu pembongkaran saja. Tapi diganti Pak Wiranto, saya diminta menghadap lagi tapi tidak mau," kata Handoyo.

Handoyo mengaku menemukan informasi kejadian orang tuanya yang menjadi korban dilakukan di Jembatan Bengawan Cepu.

"Saya telisik orang tua saya di mana kuburnya, saya dapat informasi, malahan dari Jakarta jika orang tua saya dievakuasi di Bengawan Cepu pas di jembatan," ungkap dia.

Oleh karena itu, Handoyo pun berharap agar negara peduli turun langsung.

"Negara harus peduli untuk diresmikan jadi makam, atau jadi pusarannya. Rata-rata malah dihilangkan, ditanduri," pungkas Handoyo.