Mulai Kekeringan, Warga Merapi Beli Air Bersih dari Tangki Swasta

Mulai Kekeringan, Warga Merapi Beli Air Bersih dari Tangki Swasta

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Minggu, 11 Sep 2022 17:27 WIB
Droping air di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten.
Droping air di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Foto: dok BPBD Klaten
Klaten -

Warga kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Merapi di Klaten mulai kesulitan air bersih. Mereka terpaksa membeli air bersih yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah untuk satu tangki 5.000 liter.

"Untuk secara umum, yang untuk konsumsi warga satu-dua sudah mulai ada yang beli. Untuk harga satu tangki sampai balai desa harga Rp 275.000, semakin ke atas beda lagi lebih mahal," ungkap Koordinator Organisasi Pengurangan Risiko Bencana Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Subur kepada detikJateng, Minggu (11/9/2022) siang.

Sedangkan untuk fasilitas umum seperti tempat ibadah dan sekolah, BPBD Pemkab Klaten telah melakukan dropping air bersih untuk mencukupi kebutuhan.


"Beberapa hari ini BPBD terus melakukan droping. Tapi untungnya di desa saya mulai ada hujan meskipun tidak merata dan belum deras," sambung Subur.

Di desanya, sebut Subur, memang sudah ada fasilitas air program Pamsimas. Namun airnya belum mencukupi semua rumah tangga.

"Yang Pamsimas yang tercukupi baru dua RT karena debit belum maksimal, demikian juga sumber air dari Sapu Angin. Semoga BBM naik bantuan air tetap mencukupi," jelas Subur.

Di bawah Desa Tegalmulyo, yaitu Desa Tlogowatu, harga air lebih murah. Satu tangki masih seharga Rp 140.000.

"Harga Rp 140.000 saat ini. Untuk air hujan sudah ada tapi belum deras. Air hujan hanya untuk tanaman," kata warga Desa Tlogowatu, Subari kepada detikJateng.

Menurut Subari, di desanya belum ada fasilitas air bersih seperti Pamsimas. Sumber utama air bersih warga hanya dengan membeli dari tangki air swasta.

"Belum ada Pamsimas. Sumber utama tetap air tadah hujan jadi kalau habis ya beli," imbuh Subari.

Di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, air bersih harganya di atas Rp 200.000 per tangki. Untuk tangki besar 8.000 liter sampai Rp 270.000.

"Di tempat saya satu dua warga masih ada yang beli meskipun sebagian sudah terpenuhi dari mata air Bebeng. Untuk 5.000 liter Rp 220.000 dan 8.000 liter Rp 270.000," jelas ketua RT 16 RW 6 Desa Sidorejo, Jenarto kepada detikJateng.

Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Pemkab Klaten, Rujedi menyatakan di Klaten tahun ini ada tiga kecamatan rawan krisis air bersih. Ada beberapa desa di wilayah tersebut.

"Desa tersebut yaitu Desa Sidorejo, Tegalmulyo, Tlogowatu (Kecamatan Kemalang), Bandungan (Kecamatan Jatinom), Wiro, Krikilan, Jarum, Ngerangan dan Jambakan (Kecamatan Bayat). Tahun ini anggaran air bersih Rp 350 juta," papar Rujedi.



Simak Video "Gunung Mauna Loa Erupsi, AS Terbitkan Kode Merah Peringatan Penerbangan"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/aku)