Kemdikbud Berharap Bisa Pulangkan Prasasti Pucangan dari India Tahun Depan

Kemdikbud Berharap Bisa Pulangkan Prasasti Pucangan dari India Tahun Depan

Eko Susanto - detikJateng
Rabu, 07 Sep 2022 19:48 WIB
Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid dan prasasti Pucangan (dok. Instagram Hilmarfarid)
Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid dan prasasti Pucangan (dok. Instagram Hilmarfarid)
Magelang -

Pemerintah Indonesia akan membawa pulang Prasasti Pucangan peninggalan era Airlangga dari India. Prasasti tersebut telah berada di India selama lebih dari 2 abad.

Prasasti Pucangan merupakan peninggalan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Prasasti ini memuat silsilah dari Raja Airlangga dan berbagai peristiwa yang terjadi pada masa kepemimpinan Raja Airlangga di abad ke-11.

Ditargetkan pada November 2023 bersamaan dengan KTT G20 di India, prasasti tersebut bisa dibawa pulang ke Indonesia.


"Kemarin kunjungan di India, kita lihat langsung Prasasti Pucangan itu. Langkah kita mau ngirim tim ahli, mungkin tim ahli 2 orang. Satu orang yang menyangkut substansi dari prasasti itu, satu lagi yang fokus pada provenance research, yaitu penelitian mengenai asal usul prasasti itu kenapa bisa sampai kesana (India)," kata Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud Ristek, Hilmar Farid kepada wartawan di Museum H Widayat, Rabu (7/9/2022).

Peneliti tersebut, kata Hilmar, melakukan kajian bersama dengan peneliti dari India untuk menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi.

"Pembicaraan mengenai pengembalian itu sebenarnya dimulai dari 3 tahun yang lalu oleh KBRI kita, berbicara dengan pejabat di Kementerian Kebudayaan India. Dalam pertemuan itu sudah dinyatakan dari pihak India tidak keberatan seandainya Indonesia meminta benda itu dikembalikan di Indonesia," kata Hilmar.

"Mudah-mudahan November tahun depan saat berlangsungnya KTT G20 di India itu sudah bisa dieksekusi. Kita mau melihatnya dalam rangkaian itu lah. Ada teman-teman yang pingin lebih cepat, kalau saya juga maunya besok, tapi kenyataan di lapangan segala macam proses. Kita menyiapkan dokumentasi, melakukan riset yang bener, kesepakatan terus memerlukan waktu," imbuh Hilmar.

"Itu (prasasti) dalam 2 bahasa, satu sisi Bahasa Sansekerta, satunya lagi Jawa Kuno. Nah itu, justru menunjukkan bahwa kerja sama memang mutlak diperlukan karena pihak India bisa Bahasa Sansekerta, pihak kitanya bisa Jawa Kunonya," lanjut Hilmar.

Hilmar menambahkan, prasasti kuno itu diangkut ke luar negeri saat Inggris berkuasa di Jawa pada 1814. Kemudian prasasti itu diserahkan kepada Lord Minto, Gubernur Jenderal Inggris di India pada waktu itu.

Keberadaan Prasasti Pucangan, katanya, para ahli mengetahui keberadaan prasasti dari catatan sejarah. Menurutnya sudah banyak peneliti yang melakukan riset terhadap prasasti itu.

"Di India ada di dalam gudang, dalam keadaan yang baik. Paling nggak waktu kemarin saya kesana itu ada di bagian (dalam gudang), tetapi di bagian koleksi yang sedang disiapkan untuk dipamerkan," ujar Hilmar.



Simak Video "Ayda Prasasti, Putri Ki Joko Bodo yang Enggan Jadi Paranormal"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/dil)