Urban Downhill Pertama di Semarang Sajikan Trek Sempit di Perkampungan

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Minggu, 14 Agu 2022 21:41 WIB
Pesepeda menuruni jalur urban downhill di Semarang, Minggu (14/8/2022).
Pesepeda menuruni jalur urban downhill di Semarang, Minggu (14/8/2022). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Jakarta -

Ajang gowes Urban Downhill pertama di Kota Semarang digelar dua hari sejak Sabtu (13/8) kemarin. Peserta dari berbagai wilayah Indonesia ikut andil mengayuh sepeda dengan medan sulit di tengah perkampungan.

Digelar di Kelurahan Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur, tercatat ada 208 peserta yang datang. Mereka mengikuti berbagai kategori yaitu kategori lokal Semarang, hartil, usia mainude 15-16 tahun, main junior 17-18 tahun, main elite yaitu atlet 19 tahun ke atas, main open yaitu para pehobi sepeda usia 19 tahun ke atas, master A usia 30 - 39 tahun, master B usia 40-49 tahun, dan master C 50 tahun ke atas.

Jarak lintasan memang hanya sekitar 1,1 km, tapi medan turunan yang dilalui sangat menantang mulai dari jalan sempit, masuk rumah kosong, lewat bekas kandang kambing, pekarangan rumah warga dan menuruni anak tangga. Beberapa peserta sempat jatuh di sejumlah titik terutama saat menuruni tangga di perkampungan itu.


"Peserta terjauh ada dari Batam. Target kami ke depan ada peserta yang datang dari luar negeri," kata Ketua Panitia Bendungan Urban Downhill Competition 2022, Bagyo Putranto kepada wartawan, Minggu (14/8/2022).

Ia menjelaskan dalam penyelenggaraan Bendungan Urban Downhill, panitia bekerjasama dengan warga sekitar seperti membantu dalam penjualan UMKM di sekitar Gajahmungkur. Para ibu rumah tangga juga digandeng dalam menyiapkan makanan.

"Kita libatkan semua warga, intinya event ini dari warga untuk warga. Tujuannya agar perekonomian warga bisa terangkat pasca pandemi," ujarnya.

Salah satu peserta, Wahyu Purnomo dari tim Garuda Leader House Blora mengatakan cukup tertantang dengan medan Bendungan Urban Downhill. Namun ia berharap keamanan warga sekitar bisa lebih diperhatikan walau saat ini sudah baik.

"Treknya sih perkampungan, keren sih ini dan asik. Semakin sulit itu semakin menantang. Lintasan yang turun anak tangga itu susah, saya sempat terjatuh. Tapi asik sih, saya harap event ini rutin digelar, dan kedepan keamanan warga juga lebih dipikirkan," kata Wahyu.

Sementara itu salah satu warga, Masrukan mengatakan senang kampungnya jadi ramai karena ajang itu bisa ditonton gratis oleh warga. Walaupun ketika hendak keluar rumah harus menunggu aba-aba panitia biar aman.

"Kalau mau keluar rumah ya harus nunggu aba-aba dari petugas dulu. Nggak apa-apa Tapi senang kampung jadi ramai," ujarnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (Hendi) berharap event tersebut bisa digelar tahunan. Karena selain untuk ajang olahraga juga bisa jadi agenda wisata dan tentunya memberikan manfaat kepada warga di sekitar lokasi acara terutama.

"Bismillah kita jadikan event tahunan. Dengan gotong-royong ini yang bisa memberikan hasil luar biasa," kata Hendi.



Simak Video "Duka Tragedi Kanjuruhan, Suporter PSIS Semarang Gelar Doa Bersama"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/aku)