Hama Uret di Klaten Belum Reda, Petani: Dibantu Obat Cuma 50 Bungkus

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Rabu, 10 Agu 2022 16:30 WIB
Hama uret yang menyerang petani palawija di Klaten.
Hama uret yang menyerang petani palawija di Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Serangan hama uret atau gayas di beberapa desa penghasil palawija di Klaten tak kunjung mereda. Petani mengaku dibantu obat tapi jumlahnya tidak sebanding dengan luas lahan.

"Dari Provinsi dan Kabupaten datang sosialisasi. Dibantu obat tapi cuma 50 bungkus," kata Ketua Kelompok Tani Eka Gatra Desa Beteng, Kecamatan Jatinom, Wahono, kepada detikJateng, Rabu (10/8/2022).

Menurutnya obat bantuan itu cukup manjur. Begitu obat disebar di tanah sekeliling tanaman, uret tidak mendekat. Namun jumlah bantuan obat tidak sebanding dengan luas lahan.


"Uret memang tidak mendekat tapi bantuan itu cuma sampel. Luas lahan sedesa sekitar 182 hektare," terang Wahono.

Dari 182 hektare di desanya itu, ungkap Wahono, semua diserang uret. Gagal panen singkong dan kacang sudah dua tahun ini dialami petani.

"Gagal panen singkong dan kacang sudah dua kali, dua tahun ini. Pepaya juga diserang tapi yang lebih aman itu tanaman jagung," ujarnya.

Wahono berharap serangan uret itu segera diatasi karena jika tidak akan terus meluas. Wilayah Kecamatan Karangnongko tahun ini mulai diserang karena berbatasan.

"Karena berbatasan bisa terserang juga. Jika uret dibiarkan besar dari larva menjadi kumbang, pucuk pohon juga akan diserang lagi," imbuhnya.

Sementara itu, petani warga Desa Bengking, Kecamatan Jatinom, Ngatman, mengaku dirinya menanam cabai enam kotak benih dan kini ludes diserang uret.

"Cabai enam kotak Rp 400 ribu habis semua. Singkong, sayur juga sama nasibnya habis semua tapi yang aman itu rumput gajah tapi masak semua ditanami rumput gajah," ungkap Ngatman saat ditemui di sawahnya.

Terpisah, Plt Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkab Klaten Lilik Nugraharja menjelaskan kegiatan sosialisasi pengendalian hama uret sudah dilakukan. Narasumber dari BPTPH Provinsi Jateng, Laboratorium PTH Palur, laboratorium perkebunan Salatiga, dan balai pelatihan Soropadan.

"Sosialisasi sudah dilakukan. Materi tentang antisipasi hama uret dengan Metarizium dan bantuan dari Laboratorium Palur berupa Furadan satu kuintal," ungkap Lilik kepada detikJateng.

Sebelumnya diberitakan, serangan hama uret atau gayas mengganas di beberapa wilayah Kecamatan Jatinom dan Karangnongko, Klaten. Serangan hama itu membuat petani palawija pusing karena hasil panennya anjlok.

"Normalnya satu pohon ketela itu kalau panen isinya 5 kilogram. Kali ini maksimal cuma dapat 2 kilogram, pusing kalau dipikir," ungkap Supadi (55) petani warga Desa Blimbing, Kecamatan Karangnongko, Rabu (3/8).



Simak Video "Baliho Raksasa Ajak Nikah Mbak Maya Nangkring di Klaten"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/apl)