Mantap! Siswa SMK di Pemalang Sulap Sampah Plastik Jadi BBM

Robby Bernardi - detikJateng
Selasa, 09 Agu 2022 15:12 WIB
Siswa SMK Satya Praja 2, Petarukan, Pemalang membuat mesin pengolah sampah plastik menjadi Bahan bakar Minyak (BBM).
Siswa SMK Satya Praja 2, Petarukan, Pemalang membuat mesin pengolah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). (Foto: Robby Bernardi/detikJateng)
Pemalang -

Siswa SMK Satya Praja 2, Petarukan, Kabupaten Pemalang, membuat mesin pengolah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Pengolahan sampah ini disebut bisa menghasilkan sejumlah jenis BBM.

Kepala SMK Satya Praja 2 Purwo Setya Witanto mengatakan awal mula penciptaan mesin pengolah sampah adalah adanya masalah sampah yang perlu ditangani dengan serius.

"Ide awalnya karena sampah plastik ini menjadi masalah yang serius dimanapun, termasuk di Pemalang ini kan, makanya kami dari sekolah bekerja sama dengan Perhimpunan Alumni Jerman, membuat alat sampah plastik menjadi bahan bakar," kata Purwo kepada detikJateng, Selasa (9/8/2022).


Purwo menyampaikan pihaknya sudah melakukan riset sejak lama. Hingga akhirnya masuk tahap pembuatan alat yang membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, termasuk uji coba.

"Jadi bahan yang kami coba adalah oli bekas 100 liter, sampah plastik 50 kg, menghasilkan solar 41 liter, minyak tanah 47 liter, bensin 600 mililiter, total ada 88,6 liter," jelasnya.

"Untuk hasil sudah kita uji coba dengan mesin disel, baik mobil maupun traktor, semuanya berjalan lancar," imbuhnya.

Mesin pengolah sampah ini memiliki kapasitas 500-1.000 liter per hari. BBM yang dihasilkan telah diuji laboratorium dengan kualitas Euro 4 dari hasil uji Sucofindo.

Siswa SMK Satya Praja 2, Petarukan, Pemalang membuat mesin pengolah sampah plastik menjadi Bahan bakar Minyak (BBM).Siswa SMK Satya Praja 2, Petarukan, Pemalang membuat mesin pengolah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Foto: Robby Bernardi/detikJateng

Menurutnya, dari pengelolaan sampah dan oli bekas tersebut, saat diproses menghasilkan 85-94 persen bahan bakar sejenis solar. Sisanya, sebanyak 6-15 persen, berupa nafta (sejenis minyak tanah, bensin, avtur, dan thinner).

Dengan adanya mesin ini, diharapkan Purwo, ke depan semua sampah plastik akan dikoordinir melalui tingkat RT untuk dibeli kemudian diolah menjadi BBM.

"Harapannya seperti itu, alat akan dimaksimalkan fungsinya, sehingga di Kabupaten Pemalang, akan mengatasi limbah plastik," jelasnya.

Acara launching mesin ini baru akan dilakukan pihak sekolah pada 16 Agustus 2022 mendatang.

Di lokasi yang sama, Ketua Tim Pengolahan Sampah Plastik, Wahludi, mengatakan proses awal bahan plastik dan oli bekas dimasukkan ke dalam tabung. Kemudian dilakukan pembakaran dengan suhu 300-400 derajat. Uapnya akan masuk ke saluran dan filter-filter.

"Prosesnya sekitar enam jam untuk bisa menghasilkan bahan bakar minyak," ucapnya yang juga pengajar di sekolah setempat.

"Jadi, secara umumnya, kerja mesin itu mengubah plastik atau oli bekas menjadi hidrokarbon, melalui komponen mesin yang ada, seperti reaktor, tower katalis, pemurni solar, penampung nafta, penampung bensin, dan bak sirkulasi pendingin. Untuk gas buang juga kita gunakan air agar tidak menimbulkan polusi udara," imbuhnya.



Simak Video "Buntut Kenaikan BBM, Harga Cabai di Kulon Progo Ikut-ikutan Meroket"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/rih)