Banting Tulang Pasiah Nenek 70 Tahun Asal Magelang demi Hidupi Keluarga

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 01 Agu 2022 16:55 WIB
Mbah Pasiah asal Magelang.
(Mbah Pasiah asal Magelang. Foto: dok. berbuatbaik.id)
Solo -

Di usai senjanya, Mbah Pasiah asal Desa Tanjungsari, Magelang, masih harus terus berjuang untuk menghidupi keluarganya. Nenek 70 tahun ini harus jadi tulang punggung keluarga karena suaminya telah lama meninggal sementara anaknya sakit.

Meski sudah dimakan usia, langkah Mbah Pasiah tetap tegap menyusuri jalan-jalan dusun di kaki Gunung Sumbing itu. Berkeliling dia menjajakan sayur di dalam keranjang yang digendongnya ke mana-mana.

Sayur itu dibelinya dengan cara utang. Dari jualan keliling, Mbah Pasiah hanya mengambil untung Rp 500 hingga Rp 2.000. Jika terlampau tinggi dia mematok harga, Pasiah takut ditinggal pelanggan.


Mbah Pasiah tidak punya pilihan lain, sebab dia harus menjadi tulang punggung keluarga dan menghidupi anak, menantu dan cucunya karena suaminya telah lama meninggal dunia. Sementara anaknya, Kibtiyah, tak bisa terlalu keras karena sakit dan menantunya hanya tukang ojek.

Si Mbah juga terkadang memetik pucuk teh dan mengolahnya berjam-jam untuk bisa dijual. Proses ini membutuhkan waktu berjam-jam namun bermodal sabar, semua bisa dilalui Mbah Pasiah.

"Saya menghidupi dan menikahkan anak saya ya dari pundak (usaha) saya sendiri, banting tulang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala semua untuk anak-anak," ucap Mbah Pasiah, seperti dilansir berbuatbaik.id, Mei lalu.

Anaknya, Kibtiyah tak bisa melakoni pekerjaan berat usai sakit pascaoperasi sesar anak keduanya. Suami Kibtiyah, Slamet bekerja sebagai tukang ojek dengan penghasilan yang tak menentu. Motornya pun boleh dipinjam dan dihargai Rp 15 ribu per hari untuk biaya sewa.

Kondisi itu memaksa Pasiah banting tulang demi kelangsungan keluarganya. Padahal nenek ini menderita katarak. Sering kali dia tidak bisa melihat dan matanya sakit jika dirinya lelah. Sakit ini tak pernah dirasanya.

"Kalau badan sehat nggak apa-apa, kalau capek ya terasa, kalau lihat jauh nggak bisa. Kalau dekat masih bisa," sambung Pasiah.

Penderitaan ini dia rasakan dan tahan begitu lama. Tidur pun, Mbah Pasiah harus meringkuk kedinginan karena di beberapa bagian rumah berbilik bambu ini bolong. Tikus-tikus di rumahnya yang menyebabkan kerusakan rumah di sana sini.

Tak hanya itu, rumah tersebut juga tidak memiliki sarana MCK yang memadai. Kalaupun ada tempat untuk sekadar membersihkan diri, lokasinya jauh bersekatan dengan kandang kambing.

"Hidup memang berat, semoga ketika saya diambil Tuhan, semoga saya diberikan jalan yang mudah. Cuma itu keinginan saya," ucapnya lirih.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita menjadi orang yang meringankan beban hidup mereka. Tujuannya, keluarga bisa tinggal di rumah yang layak dan Kibtiyah bisa mempunyai usaha untuk membantu perekonomian keluarga. Diharapkan juga, suaminya bisa mendapatkan motor pribadi dan tak lagi meminjam untuk mengojek.

Semuanya bisa terwujud jika kita bersama memberikan kebaikan untuk Mbah Pasiah. Cara sederhananya dengan memberikan donasi melalui berbuatbaik.id, atau klik di sini.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang diikuti, berikut update terkininya.



Simak Video "Ditendang Sapi, Leher Rafli Bolong dan Infeksi Saluran Pernapasan"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/rih)