Balai Besar Veteriner Wates: Seluruh Wilayah Jateng Terjangkit PMK

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Selasa, 28 Jun 2022 19:55 WIB
Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Hendra Wibawa. (Achmad Hussein Syauqi detikJateng)
Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Hendra Wibawa. (Foto: Achmad Syauqi/detikcom )
Klaten -

Kementerian Pertanian menyebut bahwa penyakit kuku dan mulut (PMK) sudah menyebar ke seluruh wilayah di Provinsi Jawa Tengah. Hal ini diketahui dari temuan ternak terjangkit PMK di 35 kota/kabupaten di Jateng berdasarkan pemeriksaan laboratorium.

"Kalau terkonfirmasi sudah semua kabupaten/ kota. Sudah seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah sudah melaporkan ada kasus terkonfirmasi secara laboratorium," ungkap Kepala Balai Besar Veteriner Wates Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa kepada wartawan usai launching vaksinasi PMK di Desa Socakangsi, Kecamatan Jatinom, Klaten, Selasa (28/6/2022) siang

Dijelaskan Hendra, balai besar di Wates selama ini menangani wilayah kerja Jateng, Jatim dan Yogyakarta. Sejauh ini kemampuan balai tidak masalah untuk memeriksa.


"Insyaallah kita mampu menguji dari seluruh wilayah kerja kita. Satu kabupaten kita ambil 20 sampel, ada 78 kabupaten kota di Jateng, Jatim dan DIY yang terkonfirmasi jadi sekitar 1.500 yang sudah kita uji," papar Hendra.

Proses pengujian laboratorium, terang Hendra juga tidak membutuhkan waktu lama di balai. Jika sampel datang pagi sore hari sudah jadi tapi di awal ada keterbatasan reagen.

"Di awal kasus jumlah reagen tidak begitu banyak, yang diuji yang pertama kali dilaporkan. PMK gejala sangat kentara, artinya jika di kabupaten melaporkan kasus dan dijumpai kasus yang mirip, bisa dikatakan 90-100 persen positif," jelas Hendra.

Menurut Hendra, sejak marak PMK, balai telah melakukan beberapa langkah. Pertama yang dilakukan adalah melakukan investigasi.

"Kita lakukan investigasi kasus untuk peneguhan diagnosa di kasus pertama. Kita juga investigasi kasus baru, penentuan diagnosa dan sosialisasi," kata Hendra.

Kepada masyarakat, Hendra meminta ikut mencegah penyebaran PMK. Caranya, memelihara ternak dengan baik dengan asupan yang baik, gizi dan lingkungan yang baik.

"Kurangi akses masuk ke kandang, jadi kurangi tamu yang tidak berkepentingan. Ketiga, tidak menambah tanpa dipastikan kesehatannya," tambah Hendra.

Berdasarkan investigasi, ujar Hendra, penularan disebabkan dua hal. Yaitu beli sapi baru dari pasar dan pedagang yang membawa virus masuk ke kandang.

"Pencetusnya beli sapi baru dari pasar dan pedagang yang membawa virus masuk ke kandang. Pasar dibuka, tapi peternak yang ke sana harus mandi dulu, ganti baju dan sendal," pungkas Hehdra.



Simak Video "Ganjar Minta Peternak Tak Panik Wabah PMK, Segera Melapor"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/ahr)