Kolom Minggu Pagi

Buya Syafii, Memasuki Sejarah...

Muchus Budi R. - detikJateng
Minggu, 29 Mei 2022 07:55 WIB
Profil Buya Syafii Maarif
Buya Syafii Maarif (Foto: Ristu Hanafi/detikcom)
Solo -

Yang sering menyimak dan mendengar Buya Ahmad Syafii Maarif bicara, pasti akan sepakat bahwa sebagai seorang cendekiawan penting di negeri ini, beliau adalah orang yang sangat langka ditemukan. Tanpa ragu dan jernih menyampaikan pendapat dan kebenaran, tokoh besar yang tak pernah mendudukkan diri sebagai tokoh besar, serta sederhana menjalani hidup.

Bicaranya runtut dan runut: menyejarah. Beliau memang seorang maha guru atau guru besar bidang ilmu sejarah. Karenanya kegelisahan-kegelisahan pemikirannya tentang nilai-nilai kemanusiaan selalu nampak tebal sisi kesejarahan tersebut.

Manusia adalah makhluk menyejarah, yang menjadi pembeda dengan makhluk lainnya yakni berorientasi pada masa depan; selalu diwarnai dengan proses mengambil dan membuang untuk kehidupan yang ideal selanjutnya. Ini berangkat dari kesadaran menyejarah bahwa kreativitas atau daya cipta tidak pernah merupakan penciptaan dari nol.


Buya, dalam pemikiran menyejarah ini, menempatkan masa lalu sebagai sebuah warisan yang amat sangat berharga, sedangkan masa depan adalah sebuah kemungkinan dan tantangan-tantangan yang harus dikondisikan, sedangkan masa kini adalah inisiatif mengambil pelajaran dari masa lalu untuk menciptakan masa depan yang ideal.

Buya sangat merindukan persatuan bangsa. Bersama Gus Dur, Buya sangat ingin mengupayakan agar Muhammadiyah dan NU, dua organisasi muslim terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia, bahu-membahu menciptakan perdamaian dunia serta mengarusutamakan perjuangan kesejahteraan umat.

Buya juga sering sekali mengingatkan tentang mengambil api spirit agama untuk suluh jiwa manusia. Buya tegas mengecam pembunuhan dan kesadisan atas nama agama, karena agama datang untuk membangun peradaban, bukan untuk kebiadaban.

Dalam hal ini, nampak sekali Buya ingin memberi panduan bagi anak bangsa. Bicaranya kadang nampak layaknya menampar untuk mengingatkan yang sedang lalai. Bahkan kadang terasa memukul sekeras-kerasnya jika melihat situasi yang membuatnya berang.

Namun demikian, Buya tetap tak pernah keluar dari posisinya sebagai seorang guru. Guru adalah pembuka kesempatan untuk memahami kehidupan dan ajaran. Semarah apapun, dia tak akan menjadi pembenci.

Hal yang langsung mengemuka dari banyak kenangan banyak kolega dan orang-orang dekatnya ketika mengenang Buya Syafii adalah soal kerendahhatian dan kesederhanaannya. Keteladanan yang sangat langka dan mahal darinya, meskipun dia adalah satu satu dari tiga cendekiawan Indonesia --yang oleh Gus Dur disebut sebagai-- 'Pendekar Chicago'. Julukan itu diberikan Gus Dur kepada Nurcholis Madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syafii Maarif, yang merupakan generasi pertama cendekiawan muslim Indonesia lulusan Universitas Chicago.

Buya pastinya bukan orang sempurna, tapi kelebihan-kelebihannya jauh lebih menonjol dibanding sisi-sisi kekurangannya untuk diceritakan. Sebagai seorang cendekiawan terkemuka, guru besar terhormat, mantan pemimpin organisasi muslim besar, beliau tak pernah memanfaatkan privilege yang pasti itu melekat pada dirinya dan setiap saat bisa digunakannya.

Beliau biasa berjalan kaki sendirian tanpa mau merepotkan orang lain untuk membantunya, biasa antre di halte bus untuk mendatangi kampus tempatnya mengajar atau tempat-tempat yang akan ditujunya untuk menjadi pembicara seminar, dan bahkan telah berwasiat untuk dimakamkan di makam sederhana meskipun sebagai penerima Bintang Mahaputra Utama dari Pemerintah Indonesia, dia punya hak dimakamkan di taman makam pahlawan utama.

Buya juga tidak bersedia ketika ditawari menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ketika pada tahun 2015 pihak istana menghubunginya untuk menawarkan jabatan tersebut. Alasannya, merasa sudah tua dan memberi kesempatan kepada yang lebih muda untuk mengambil peran tersebut. Lagi-lagi inilah pemikiran menyejarah itu: peduli regenerasi.

Separo kerusakan di muka bumi ini terjadi akibat ulah orang-orang yang merasa penting. Separonya lagi adalah akibat perbuatan orang serakah. Hingga wafatnya, Buya nampak sekali menghindari kedua hal ini.

Akhirnya... selamat jalan, guru bangsa. Anda telah tunai menjalankan tugas. Apakah semua ajaran dan petunjuk panduanmu nantinya akan berlalu begitu saja sepeninggalmu seiring gebalau bangsa yang sering abai pada peringatan, atau akan menyublim dalam benak sejarah perjalanan bangsamu, masih perlu ditunggu pengujiannya.

Namun kepulanganmu harus dimaknai sebagai kepercayaan kepada manusia, kepercayaan bahwa generasi-generasi setelahnya mampu mengambil keteladanan manusia sebagai manusia menyejarah seutuhnya.


Solo, 29 Mei 2022

Muchus Budi R, wartawan detikcom
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi



Simak Video "Penjelasan Dokter soal Penyebab Buya Syafii Maarif Meninggal"
[Gambas:Video 20detik]
(mbr/sip)