Fenomena Langka di Desa Lemahbang Wonogiri: Warga Alami Kretin Massal

Muhammad Aris Munandar - detikJateng
Minggu, 22 Mei 2022 09:32 WIB
Suasana di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Foto diambil pada Jumat (20/5/2022).
Suasana di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Foto diambil pada Jumat (20/5/2022). Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng
Wonogiri -

Kondisi yang terjadi di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri ini memang cukup langka. Puluhan warganya mengalami kretin, baik dengan gejala keterbelakangan mental maupun disabilitas.

Kondisi ini berlangsung sejak lama dan turun-temurun. Apa sebabnya?

Berdasarkan data yang dihimpun detikJateng dari Pemerintah Desa (Pemdes) Lemahbang, dari sekitar 4.555 jumlah penduduk di desa itu, ada 41 warga di desa itu yang menyandang kretin. Rinciannya, 22 laki-laki dan 19 perempuan.

Adapun jenis gejala atau disabilitas yang dialami cukup beragam, seperti tunarungu-wicara sebanyak 18 orang, keterbelakangan mental 13 orang, tunadaksa 7 orang, tunanetra 2 orang dan kelainan fisik 1 orang.

Terdapat empat dusun yang berada di Desa Lemahbang. Penderita kretin ditemukan di semua dusun, meliputi 21 orang di Dusun Setren, 10 orang di Dusun Sambeng, 7 orang di Dusun Janggle dan 3 orang di Dusun Lemahbang.

Berdasarkan pantauan detikJateng di lokasi, kondisi geografis di Lemahbang terbagi dua, yakni dataran rendah dan dataran tinggi. Dusun Lemahbang dan Janggle berada di dataran rendah. Sedangkan Dusun Setren dan Sambeng berada di dataran tinggi atau perbukitan. Dusun Setren merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Suasana lingkungan di dataran tinggi dan dataran rendah sedikit berbeda. Di daerah perbukitan, khususnya di Setren, jarak antarrumah warga berjauhan. Selain itu kampungnya lebih sepi dibandingkan tiga dusun lainnya.

Kepala Desa Lemahbang, Sugito menyebutkan, Dusun Setren dan Sambeng merupakan daerah terpencil. Dimungkinkan pada zaman dahulu banyak warga yang terjangkit kretin karena faktor alam atau geografis. Selain itu, faktor ekonomi dan tingkat pengetahuan warga yang rendah diduga juga menjadi pendorongnya.

"Setren dan Sambeng, itu di daerah perbukitan. Dulu pernah diteliti, memang kadar iodium di daerah perbukitan itu rendah, sampel air di sana menunjukkan kadar yodium dirasa kurang. Sehingga masyarakat kami yang terdampak kretin rata-rata yang berada di pinggiran (Setren dan Sambeng)," kata Sugito, saat ditemui beberapa hari lalu.

Suasana di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Foto diambil pada Jumat (20/5/2022).Suasana di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Foto diambil pada Jumat (20/5/2022). Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng

Kondisi air tanah atau sumur di desa itu memang terlihat tidak layak untuk dikonsumsi. Saat direbus, terdapat endapan kapur cukup pekat di dasar alat masak. Kadar yodium di air tanah yang miskin diyakini menjadi penyebab kretin.

Sejak bertahun-tahun silam, kelainan kretin dialami oleh warga dusun itu tanpa pandang bulu, baik dari warga miskin maupun warga yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih mapan.

"Kami sering diskusi tentang kretin, yang belum terjawab itu kenapa masyarakat dengan ekonomi mapan, mampu makanan gizi tapi ketika lahiran masih ada satu dua (anggota keluarga) yang kretin. Kalau faktor gen, orang tuanya juga normal. Jadi kretin ini bukan hanya sekedar kekurangan gizi ataupun lemah secara ekonomi, tapi ada faktor lain," kata Sugito.

Kondisi Sudah Semakin Membaik

Fenomena yang terjadi di Desa Lemahbang itu menarik perhatian banyak pihak, baik pemerintah maupun para peneliti. Berbagai upaya dilakukan agar kondisi itu tidak semakin berkepanjangan.

Hasilnya memang cukup terlihat. Dari 41 penyandang kretin di desa itu, rata-rata dari mereka adalah kelahiran sebelum 1990. Sedangkan warga yang menderita kretin dengan kelahiran setelah tahun 2000 hanya ada empat orang.

Peningkatan ekonomi yang ada di desa itu diyakini juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi, Warga tak lagi mengandalkan air berkapur dan miskin iodium dari desa itu untuk dikonsumsi. Bahkan, sebagian sudah memilih menggunakan air kemasan isi ulang.

"Dari faktor-faktor yang ada, dimungkinkan konsumsi air yang rendah yodium ini menjadi faktor utama kretin. Sebab kalau dari sisi ekonomi, justru grafik di Setren dan Sambeng itu meningkat. Warga yang merantau sudah banyak, otomatis pengetahuan juga semakin luas. Cara bertaninya juga sudah modern," ujar Sugito.

Meski demikian, bukan berarti desa itu selesai dari masalah. Kini, mereka masih harus memerangi stunting.

"Saat ini ada sekitar 23 anak yang masuk dalam kategori stunting. Ini kita upayakan dengan pemberian gizi dan pemantauan agar tumbuh kembangnya bisa baik. Kalau penderita kretin yang sudah tua, kami pantau dengan upaya lain," kata Sugito.



Simak Video "Lembut Nan Lezat, Menikmati Sayur Lombok Tempe Mlanding Wonogiri"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/rih)