Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak seperti sapi ternyata sudah menyebar di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Saat ini ada 66 ekor sapi di Blora yang dinyatakan suspek PMK dan 10 ekor sapi yang positif PMK.
Kabupaten Blora pun disebut sudah zona merah karena ada ternak yang positif PMK.
"Intinya Blora sudah merah, artinya sudah ada sapi yang kena PMK," kata Kepala Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora, Gundala Wejasena, melalui pesan singkatnya kepada detikJateng, Kamis (26/5/2022).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gundala mengatakan, penyebaran virus penyakit mulut dan kuku pada ternak tidak mengenal batas wilayah.
"Penularannya bisa melalui udara sampai 10 kilometer. Lewat ban truk juga bisa," ujar dia.
Sementara itu, Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Blora Bidang Ekonomi Pembangunan, Hariyanto, mengungkapkan sejauh ini sudah terdeteksi 10 ekor sapi positif PMK di Blora.
"Yang positif ada 10 ekor sapi dan yang masuk kategori suspek ada 66 ekor sapi," ungkap Hariyanto.
Hariyanto menjelaskan, 10 ekor sapi positif penyakit mulut dan kuku itu tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kedungtuban, Randublatung, dan Ngawen. Sedangkan sapi yang suspek PMK tersebar di hampir tiap kecamatan.
Menurut Hariyanto, penyebaran PMK di Blora ini diduga karena tertular sapi dari luar kota.
"Dari data di lapangan, (penularan) karena mobilisasi blantik yang membawa sapi masuk ke Blora," terangnya.
Meski sudah ada sapi yang dinyatakan positif PMK, Pemkab Blora belum berencana menutup pasar hewan.
"Belum, ada kami masih menunggu instruksi dari Pak Bupati. Hal ini sudah kami laporkan ke beliau," kata Hariyanto.
Sub Koordinator Kesehatan Hewan DP4, Asngadi, menjelaskan terkait ciri-ciri sapi yang mengidap penyakit mulut dan kuku. Yaitu, sapi mengalami kepincangan, air liur berlebih atau berbusa, pembengkakan kelenjar submandibular, melepuh di sekitar mulut, lidah, gusi, nostril, kulit sekitar teracak, dan puting.
Selain itu, sapi yang terkena PMK juga tampak lemah, sering berbaring, dan demam hingga suhu badannya mencapai 41 derajat celsius.
"Jika ada gejala seperti itu, ternaknya jangan dijual, tapi langsung laporkan ke DP4. Kami akan langsung menindaklanjutinya. Wabah ini dulu pernah terjadi di Blora, saat saya masih sekolah," jelas Asngadi.
(dil/rih)