Menakjubkan! Begini Proses Penulisan Al-Qur'an Raksasa di Wonosobo

Uje Hartono - detikJateng
Jumat, 15 Apr 2022 16:29 WIB
Hayatuddin saat menulis Alquran berukuran raksasa di Masjid Baitul Qur’an KH Muntaha Al Hafidz di Wonosobo, Jumat (15/4/2022).
Sebuah Al-Qur'an di Wonosobo, Jawa Tengah berukuran raksasa sehingga mencuri perhatian. Bukan hanya soal ukurannya, ternyata seluruh ayat dalam Al-Qur'an ditulis secara manual. Menakjubkan! (Foto: Uje Hartono/detikJateng)
Wonosobo -

Sebuah Al-Qur'an di Wonosobo, Jawa Tengah berukuran raksasa sehingga mencuri perhatian. Bukan hanya soal ukurannya, ternyata seluruh ayat dalam Al-Qur'an ditulis secara manual. Menakjubkan!

Al-Qur'an berukuran 2 x 1,5 meter itu disimpan di Masjid Baitul Qur'an KH Muntaha Al Hafidz di Wonosobo, Jawa Tengah. Rencananya Al-Qur'an ini akan diberikan kepada Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Keberadaan Al-Qur'an raksasa atau akbar ini tidak lepas dari nama Hayatuddin, warga Desa Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Ia sebagai ketua tim penulisan Al-Qur'an Akbar Universitas Sains Al-Qur'an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo.

Ditemui detikJateng, Jumat (15/4/2022), Hayatuddin tampak terampil menggoreskan pena di atas kertas putih berukuran besar. Kertas itu membentang di atas meja di salah satu ruangan lantai empat di Masjid Baitul Qur'an KH Muntaha Alhafidz, Wonosobo.

Di tempat ini, pria kelahiran 6 April 1965 itu lalu menulis huruf demi huruf hingga terangkai menjadi mushaf Al-Qur'an. Hingga saat ini, sudah 11 Al-Qur'an akbar yang selesai ia kerjakan bersama tim.

"Sudah 11 Al-Qur'an akbar yang sudah selesai kami kerjakan. Ini sekarang kami sedang membuat Al-Qur'an berukuran besar yang ke-12 dan 13. Kebetulan ada yang pesan secara bersamaan, yakni Bupati Karanganyar dan Wali Kota Probolinggo," ujarnya.

Dengan ukuran yang tidak biasa, 11 Al-Qur'an tersebut saat ini tersebar di berbagai tempat. Seperti di Bina Graha, TMII Jakarta, Perpustakaan Jakarta Islamic Center, Masjid Agung Makassar hingga di Brunei Darussalam.

Pria yang juga dosen Kaligrafi di Unsiq ini menyebut, Al-Qur'an akbar pertama diberikan kepada Presiden Suharto yang saat ini disimpan di Bina Graha. Selain itu, ia mengaku pernah mendapat pesanan dari warga Brunei Darussalam yang akan menghadiahkan Al-Qur'an akbar untuk Sultan Bolkiah.

"Kami mulai menulis Al-Qur'an akbar tahun 1991. Dulu setelah jadi diberikan kepada Presiden Soeharto dan saat ini di Bina Graha. Ada juga yang di TMII Jakarta, Perpustakaan Jakarta Islamic Center, Masjid Agung Makassar dan lainnya. Yang di Brunai, dulu itu ada warga sana pesan katanya mau untuk hadiah sultan. Dan Alquran kesepuluh ini dipersembahkan untuk Presiden Jokowi, tapi sekarang masih di sini (Masjid Baitul Qur'an KH Muntaha Al Hafidz Wonosobo)," terangnya.

Meski demikian, proses pembuatan Al-Qur'an akbar ini dilakukan secara manual dengan tulisan tangan. Tidak heran, satu mushaf Al-Qur'an membutuhkan waktu 1 tahun hingga 3 tahun pengerjaan.

Namun, untuk merampungkan mushaf akbar, Hayatuddin tak bekerja sendiri. Setelah selesai ditulis tangan olehnya, ornamen halaman dikerjakan oleh rekannya.

"Waktu pengerjaan antara 1 tahun sampai 3 tahun karena ini ditulis manual bukan cetak. Saya menulis nanti ada yang mengerjakan untuk ornamennya. Untuk yang pesanan dua Al-Qur'an ini, kami hanya diberi waktu 13 bulan harus selesai dua Al-Qur'an," kata dia.

Lebih jauh, Hayatuddin menceritakan, awal mula ia menulis Al-Qur'an dengan ukuran yang tidak biasa ini bermula saat mendapat perintah dari gurunya, KH Muntaha. Sebab saat itu, Al-Qur'an yang ada di pondok pesantren dirusak oleh pasukan Belanda.

"Awalnya saya diperintah oleh KH Muntaha untuk menulis Al-Qur'an. Beliau dulu pernah melihat Al-Qur'an yang ditulis kakeknya. Tetapi rusak saat pasukan Belanda. Nah beliau ingin membuat Alquran lagi tetapi tidak bisa, kemudian memerintahkan santrinya, yaitu saya," tuturnya.

Ia menambahkan, Al-Qur'an akbar ini tidak dijual-belikan. Sehingga tidak ada harga khusus. Hayatuddin menyebut, biasanya Al-Qur'an akbar digunakan sebagai hadiah.

"Kalau harganya berapa, Al-Qur'an ini tidak dijual-belikan. Biasanya ini digunakan untuk hadiah, dan kalau ada yang memesan paling, yang pesan memberi kami hadiah. Jadi tidak ada harganya tertentu," pungkas Hayatuddin.



Simak Video "Proses Pembuatan Al-Qur'an Raksasa yang Bakal Diserahkan ke Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/sip)