Tradisi Baratan di Jepara Digelar Lagi Jelang Ramadan

Tradisi Baratan di Jepara Digelar Lagi Jelang Ramadan

Dian Utoro Aji - detikJateng
Selasa, 22 Mar 2022 05:04 WIB
Tradisi ini digelar menyambut bulan suci Ramadan. Ada pemeran Ratu Kalinyamat yang diarak keliling desa dalam tradisi ini.
Tradisi Baratan di Jepara (Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng)
Jepara -

Warga Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah kembali menggelar Tradisi Baratan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi Baratan ini sekaligus memberikan penghormatan kepada sosok Ratu Kalinyamat yang tersohor kala itu.

Pantauan di lokasi, Senin (21/3) ratusan warga berkumpul di depan masjid Al-Ma'mur Desa Kriyan. Acara diawali dengan berdoa di masjid setempat. Ada satu gunungan berisi makanan yang disajikan di tengah warga. Tokoh masyarakat setempat pun melakukan doa bersama.

Setelah itu gunungan tersebut diarak berkeliling desa dengan seorang perempuan yang berperan sebagai Ratu Kalinyamat. Tampak sosok peraga Ratu Kalinyamat duduk di atas kereta kuda dan diikuti para dayang atau prajurit.


Paling depan ada sosok Ratu Kalinyamat kemudian diikuti gunungan dan warga. Arak-arakan dimulai dari depan Masjid Al-ma'mur dan kembali ke masjid tersebut.

Ketua Panitia Baratan, Desa Kriyan, Hisyam Maliki mengatakan Tradisi Baratan sempat vakum selama dua tahun karena pandemi COVID-19. Tradisi ini mulai digelar kembali dengan menerapkan protokol kesehatan dan jumlah pesertanya dibatasi.

"Jadi ini memang pertama kali pasca COVID-19, kami mencoba menggunakan skenario semaksimal mungkin untuk menurunkan animo masyarakat," ujar Hisyam kepada wartawan ditemui di lokasi, Senin (21/3/2022).

"Ini ada perbedaan yang menonjol, terutama pada gunungan saja dan pemaknaan. Dari gunungan biasanya ada dua gunungan, tapi karena terkendala beberapa hal, sehingga kita hanya melaksanakan satu saja," sambungnya.

Hisyam mengatakan tradisi ini dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Dulunya tradisi ini dilaksanakan tingkat kecamatan, namun kini hanya berlangsung di tingkat desa saja.

"Ini tradisi untuk menyambut bulan Ramadhan, dulu memang kecil-kecil dari 10 orang, akhirnya terkoodinir, dulu ada satu Kalinyamatan," jelasnya.

Tradisi ini digelar menyambut bulan suci Ramadan. Ada pemeran Ratu Kalinyamat yang diarak keliling desa dalam tradisi ini.Tradisi ini digelar menyambut bulan suci Ramadan. Ada pemeran Ratu Kalinyamat yang diarak keliling desa dalam tradisi ini. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Di lokasi yang sama, salah seorang tokoh masyarakat, Muhtadi Marateruno menjelaskan Tradisi Baratan dilakukan setiap bulan Nifsu Sya'ban, tepatnya tanggal 15.

"Ini sudah berjalan berpuluh tahun, memang saat bulan Nifsu Sya'ban itu diadakan acara tradisi seperti ini, dulu sekarang kan ramai sekarang," jelas Muhtadi kepada wartawan ditemui di lokasi.

Menurutnya kata Baratan berasal dari bahasa Arab baroatan yang memiliki arti berbagi keselamatan. Dia menyebut kata ini bermakna dengan harapan memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan.

"Baratan ini dari arti bahasa Arab baroatan, artinya ya andum selamat artinya itu memohon perlindungan kepada Allah agar supaya kita selamat. Dengan adanya tradisi ini, selain memohon kepada Allah dengan andum selamat juga mengenang Ratu Kalinyamat, karena dia ini adalah Ratu Kalinyamat, sedangkan keraton Ratu Kalinyamat ini kan di Kriyan," terang Muhtadi.

Muhtadi mengatakan di balik tradisi ini juga sekaligus mengenang sosok Ratu Kalinyamat. Konon pusat kerajaan Ratu Kalinyamat berada di Desa Kriyan. Namun ketika akan dibangun kerajaan, Ratu Kalinyamat mendapatkan musibah. Suami Ratu Kalinyamat, Sultan Hadirin dibunuh oleh Arya Penangsang.

"Rencana di sini akan dibuat keraton, itu kan diawali dengan pembuatan pagar tembok atau benteng, tepatnya di Robayan. Setelah benteng jadi kan terus keraton dibuat, karena tadi ada musibah besar suaminya, Ratu Kalinyamat yaitu Sultan Hadirin kan itu dibunuh yang membunuh Arya Penangsang," ujar dia.

Menurutnya tradisi ini untuk memberikan penghormatan atas kematian suaminya, Sultan Hadirin yang tewas oleh Arya Penangsang. Saat itulah, Ratu Kalinyamat membawa jenasah suaminya pulang dengan iring-iringan pasukan pengawalnya.

Sepanjang perjalanan warga desa menyaksikan iring-iringan tersebut. Lampu obor yang menyala sebagai penerangan jalan untuk melintas pasukan pengawal. Untuk mengenang peristiwa tersebut warga menyelenggarakan Tradisi Baratan.

"Kemudian terjadi seperti itu, karena merasa sakit hati, kemudian pergi menyendiri di hutan Donorojo," pungkas dia.



Simak Video "Megawati Dukung Ratu Kalinyamat dan dr. Soeharto Jadi Pahlawan Nasional"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/ams)