Mengenal Bedhaya Anglir Mendhung, Tarian Sakral Istana Mangkunegaran

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 06 Mar 2022 11:39 WIB
Tujuh abdi dalem berlatih tarian Bedhaya Anglir Mendung untuk jumenengan Mangkunegoro X pada 12 Maret 2022 mendatang.
Tujuh abdi dalem berlatih tarian Bedhaya Anglir Mendung untuk jumenengan Mangkunegoro X pada Sabtu 12 Maret 2022. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng.
Solo -

Keraton Kasunanan punya Bedhaya Ketawang sebagai tarian sakral yang selalu digelar pada acara penobatan raja atau peringatan penobatan, Keraton Kesultanan Yogyakarta punya Bedhaya Semang, sedangkan Puro Mangkunegaran memiliki Bedhaya Anglir Mendhung. Bagaimana sejarah Bedhaya Anglir Mendhung yang akan digelar pada penobatan KGPAA Mangkunegoro X 12 Maret mendatang?

Suatu hari di Keraton Surakarta pada 1964. Para pesinden menyanyikan syair berbahasa Jawa dari sebuah naskah hasil salinan tulisan tangan. Saat itu mereka sedang mengiringi latihan tari Serimpi Anglir Mendhung yang direkam utuh menggunakan kaset pita oleh N Tirtaamidjaja.

Berbekal kaset rekaman berdurasi sekitar 50 menit itulah Ernst Lodewijk Heins (1937-2019) mengamati musikologis tarian upacara di keraton Jawa Tengah yang kemudian dia tuangkan dalam jurnal The Music of the Serimpi "Anglir Mendung" (Indonesia Volume 3, 1967: 135).

Dalam jurnal terbitan Cornell University Southeast Asia Program, musisi yang termasyhur sebagai dosen senior etnomusikologi di University of Armsterdam itu tak lupa mengomentari syair yang dinyanyikan para pesinden tersebut. "Tak diragukan kekunoannya," tulis EL Heinz.

Berikut cuplikan syair yang ditulis dalam ejaan lama tersebut:

Anglir mendung kang wadja-bala wus tata / anglar samja sumiwi / santana arampak / samja busana indah / neka warna tinon asri / lir singa lodra / sadaja golong pipit /

Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini:

Seperti badai awan yang gelap, tentara berdiri berbaris / dalam formasi seperti sayap / santana sudah berkumpul / semua dalam jubah yang indah / banyak warna, megah dilihat / seperti singa buas / semua berdiri dalam barisan rapat /

Menurut dosen program studi Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Katarina Indah Sulastuti, tari Bedhaya Anglir Mendhung bermula dari Gendhing Ketawang Alit Anglir Mendhung yang sudah diperdengarkan di Kartasura pada masa Raden Mas Garendi.

"Oleh Empu Gendhing Kakawin yang benama Ki Secokarmo dan Ki Kidang Wulung, diciptakan Tari Bedhaya Anglir Mendhung untuk mengisi Gendhing Ketawang Alit Anglir Mendhung," tulis Katarina dalam karya ilmiahnya, Tari Surakarta gaya Mengkunegaran pada Masa Pemerintahan Mangkunegara VIII (1944-1987) dan Masa Pemerintahan Mangkunegara IX (1988-Sekarang).

Untuk diketahui, Raden Mas Garendi alias Sunan Kuning adalah cucu Amangkurat III yang diangkat oleh orang-orang Tionghoa dan Jawa sebagai Susuhunan tandingan Pakubuwono II dalam peristiwa Geger Pacinan di Kartasura pada 1742. Sedangkan Ki Secokarmo adalah saudara Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo, pendiri dinasti Mangkunegaran.

Katarina mengemukakan, tari Bedhaya Anglir Mendung dipentaskan pertama kali pada acara penobatan Raden Mas Said sebagai KGPAA Mangkunegoro I pada 1757. Tari yang mengisahkan pertempuran RM Said saat berjuang melawan Belanda itu masih dilestarikan hingga pada masa kepemimpinan Sri Mangkunegoro III.

Setelah Sri Mangkunegoro III diambil putra menantu oleh Sri Pakubuwono V pada 1835, tulis Katarina menyadur artikel dari majalah Panjebar Semangat (1982:172), tari Bedhaya Anglir Mendhung mengalami sejumlah modifikasi. Sehingga tari warisan Mangkunegaran itu berubah menjadi Bedhaya Srimpi Anglir Mendhung gaya Keraton Kasunanan Surakarta.

"Sejak saat itu Tari Bedhaya Anglir Mendhung tidak lagi menjadi tarian (langenpraja) Mangkunegaran," tulis Katarina. Setelah hampir 1,5 abad 'menghilang' di Puro Mangkunegaran, tari Bedhaya Anglir Mendhung akhirnya direkonstruksi oleh KGPAA Mangkunegara VIII pada 1981.

Tari yang dianggap sebagai pusaka peninggalan leluhur Mangkunegaran itu akhirnya dipentaskan lagi di Pringgitan Pura Mangkunegaran pada malam 12 Desember 1981 dan dilakukan perekaman oleh TVRI Yogyakarta.

"Pelacak dan pelaku rekonstruksi Tari Bedhaya Anglir Mendhung adalah RAy Praptini Partaningrat. Sedangkan informasi tentang Tari Bedhaya Anglir Mendung sebagai milik Mangkunegaran berdasarkan pada tulisan Brajapamulih (informasi dari Moelyono Sastranaryatmo)," tulis Katarina.

Menurut Pengageng Wedhana Satrio Pura Mangkunegaran, KRMT Lilik Priarso Tirtodiningrat, tarian Bedhaya Anglir Mendhung akan dipentaskan dalam acara jumenengan atau penobatan takhta GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo sebagai KGPAA Mangkunegoro X pada Sabtu (12/3) mendatang.

"Akan ditarikan tujuh penari selama 50 menit," kata Lilik kepada detikJateng, Rabu (2/3/2022) lalu.



Simak Video "Tarik Minat Wisatawan, Pura Mangkunegaran Solo Adakan Latihan Tari"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)