Duduk Perkara Gempar Wayang 'Khalid Basalamah' di Ponpes Gus Miftah

Duduk Perkara Gempar Wayang 'Khalid Basalamah' di Ponpes Gus Miftah

Tim detikcom - detikJateng
Sabtu, 26 Feb 2022 06:19 WIB
Pertunjukan wayang di ponpes milik Gus Miftah yang viral.
Pertunjukan wayang di ponpes milik Gus Miftah yang viral. (Foto: Tangkapan layar video viral)
Solo -

Pementasan wayang yang menampilkan perundungan sosok wayang berpeci disebut mirip Ustaz Khalid Basalamah viral dan ramai jadi kontroversi. Pementasan wayang di Ponpes Ora Aji milik Gus Miftah itu pun berujung permintaan maaf dari tuan rumah.

Awal mula kegaduhan muncul setelah video pergelaran wayang dengan salah satu tokohnya menggunakan peci dan berjenggot, dihajar beramai-ramai dalam adegan perang melawan tokoh wayang lainnya viral di media sosial pada awal pekan kemarin.

Dalam potongan video selama 1 menit 15 detik itu, nampak sebuah wayang berpeci dan berjenggot yang dihajar oleh wayang Baladewa yang sedang marah. Dalam marahnya tokoh Baladewa terus menyampaikan kegeramannya pada orang yang asal omong soal keberadaan wayang.


Tak berhenti di situ, wayang berpeci tak hanya dihajar oleh Baladewa. Di akhir potongan video yang viral, dalang juga berdiri lalu membanting-banting wayang tersebut sambil mengucap kata kasar. Selanjutnya wayang dibanting-banting lalu diserahkan kepada orang lain dengar ucapan, "Diremuk! Diremuk!" sambil menyebut nama-nama orang yang diminta merusak wayang tersebut.

Selanjutnya wayang tersebut berputar dari tangan ke tangan. Ada yang membanting, ada yang menonjok.

Diketahui, pertunjukan wayang tersebut digelar di Ponpes Ora Aji milik Gus Miftah di Sleman, Yogyakarta pada Jumat (18/2) malam. Pementasan bertajuk 'Begawan Lomana Mertobat' itu dihadiri oleh sejumlah dalang dari Solo dan Yogya dan diinisiasi oleh dalang kenamaan Ki Warseno Slenk asal Sukoharjo, Jawa Tengah.

Saat dimintai konfirmasi tentang video itu, Gus Miftah mengakui bahwa kegiatan pementasan wayang kulit itu memang digelar di pesantrennya, Ponpes Ora Aji, Sleman, DIY. Namun, dia tidak terlibat dalam proses penyusunan lakon wayang kulit itu.

"Soal konten, atau lakon, atau atraksi di dalam pertunjukan wayang, itu merupakan domain dan wilayahnya dalang itu sendiri," kata Gus Miftah, Senin (21/2).

Sebagai pemilik tempat, pihaknya hanya menerima pemberitahuan lakon dalam bentuk garis besar saja.

"Tetapi pertunjukannya seperti apa itu ya urusan dalang bukan urusan saya dan saya tidak bisa intervensi itu. Itu sudah merupakan kebiasaan, bahwa atraksi panggung atau atraksi dalam pertunjukan wayang itu urusan dalang," kata dia.

Menurut Gus Miftah, selama ini pesantrennya kerap menggelar pertunjukan wayang kulit sejak 2012 silam. Rutinitas tersebut sebenarnya sempat terhenti lantaran pandemi. Adapun pertunjukan yang digelar pada Jumat (18/2) itu digelar atas permintaan para seniman.

"Pentas terakhir kemarin yang kita lakukan itu karena permintaan teman-teman seniman untuk bisa urun rembuk di pondok saya yang kebetulan memang saya begitu care dengan soal seni dan budaya. Karena ada permintaan itu ya sebisa mungkin saya bantu," tegasnya.

Dewan Syariah Kota Solo Menyayangkan

Kritik bermunculan dari berbagai pihak, awalnya datang dari Ormas Islam Dewan Syariah Kota Solo (DSKS) yang menyayangkan tindakan tersebut. Humas DSKS, Endro Sudarsono menilai wayang berpeci dan berjenggot itu mirip dengan Ustaz Khalid Basalamah.

"Kami menyayangkan video dengan kata-kata kotor dengan wayang yang mirip dengan Ustaz Basalamah. Wayang yang seharusnya menyampaikan pelajaran teladan kepada masyarakat, tetapi justru semacam ada tontonan kekerasan yang itu dilatarbelakangi kontroversi dari Ustaz Basalamah," kata Humas DSKS, Endro Sudarsono, Senin (21/2).

Jika ada pihak yang tidak berkenan dengan pernyataan Khalid Basalamah soal wayang yang viral sebelumnya, menurut Endro dapat menyampaikan dengan cara yang baik. Dia sendiri tidak mempermasalahkan keberadaan wayang selama memiliki fungsi konstruktif.

Dewan Kesenian Solo Sebut Tak Wajar

Dewan Kesenian Solo (DKS) turut angkat bicara. Ketua DKS Blacius Subono menilai ada emosi yang berlebihan dalam aksi dalang kondang asal Solo itu, sehingga pentas wayang tersebut menjadi tidak wajar.

"Menurut saya tidak wajar. Itu kan sudah ada emosi yang berlebihan dan terlalu vulgar," kata Subono saat dihubungi detikJateng, Selasa (22/2).

Subono yang juga seorang dalang menyebut seni pewayangan seharusnya bisa menyampaikan secara halus sehingga bisa memberi pencerahan. Meskipun emosi terkadang harus muncul, hal tersebut hanya untuk memperkuat karakter tokoh wayang.

"Tetapi kalau di luar dari karakter kan jelas tidak wajar," ungkapnya.

Menurutnya, pergelaran wayang merupakan penyampaian pesan melalui simbol-simbol. Apabila dalam ingin menyampaikan kritik, maka dapat disampaikan melalui garapan wayang.

"Wayang itu kan sebetulnya simbol. Itu kalau digarap yang bagus, sesuai dengan nilai sekarang, maka akan memberi sesuatu yang bermanfaat," tutupnya.

Permintaan Maaf Ki Warseno Slenk

Permintaan maaf disampaikan pemrakarsa pentas wayang tersebut, Ki Warseno Slenk. Warseno mengutip petuah memayu hayuning bawana yakni selalu turut erta menjaga kedamaian semesta raya dan hamemangun karyenak tyasing sasama yang artinya selalu senantiasa berusaha tidak pernah menyakiti hati sesama.

"Dalam bingkai selalu menjaga prinsip petuah luhur tersebut, saya secara pribadi dari lubuk hati paling dalam meminta maaf jika ada pihak-pihak yang merasa kurang nyaman setelah melihat pementasan kami di Ponpes Gus Miftah pada Jumat (18/2) malam yang lalu," demikian disampaikan Ki Warseno Slenk, Rabu (23/2).

Meski begitu, Warseno menegaskan seluruh ekspresi seni dalam pementasan wayang kulit itu mengikuti pakem pewayangan. Dia mencontohkan karakter tokoh Baladewa yang dalam pakemnya selalu digambarkan temperamental.

"Karakter Baladewa ya seperti itu. Beda lagi dengan karakter Rahwana atau Cakil atau Arjuna. Semua wayang yang jumlahnya ratusan itu punya ciri khas masing-masing," ujarnya.

Selain itu, Warseno menyebut sepanjang pertunjukan wayang itu dalang tidak menyebut nama siapapun. Pihaknya pun merasa tidak ada yang perlu merasa dilecehkan dalam pementasan wayang berdurasi sekitar 4 jam itu.

"Penilaian pementasan seni itu otoritas pemirsa. Pelaku seni hanya menampilkan cerita penuh pesan moral yang dipersilakan untuk ditafsirkan seutuhnya dan selanjutnya dipetik hikmahnya oleh penikmatnya. Sebagai dalang, saya tidak bisa menyamakan persepsi masing-masing pemirsa atas sebuah peristiwa pertunjukan. Tafsir-tafsir pertunjukan itu bisa berbeda-beda tergantung pemahaman dan referensi masing-masing orang," ujar dalang bergelar doktor tersebut.

"Namun demikian, sekali lagi, sebagai pemrakarsa acara pementasan sudah sepantasnya jika saya menghaturkan terima kasih atas semua perhatian yang diberikan dan meminta maaf jika banyak kekurangan serta jika ada yang merasa kurang nyaman," lanjut adik kandung dalang kenamaan Ki Anom Suroto tersebut.

Gus Miftah Minta Maaf Gegara Bikin Gaduh

Tak hanya Ki Warseno Slenk, Gus Miftah selaku penyedia tempat pementasan wayang juga menyampaikan permintaan maafnya. Gus Miftah minta maaf karena telah membuat gaduh.

"Ok fine... Saya minta maaf atas kegaduhan yang terjadi, bukan karena nanggap wayangnya!" tulis Gus Miftah, dikutip detikJateng, beberapa waktu lalu.

Gus Miftah telah mempersilakan postingannya dikutip detikJateng. Dalam postingannya itu, Gus Miftah juga menyertakan penggalan video wawancara Ki Warseno Slenk dalam sebuah program stasiun televisi.

Berikut ini tulisan lengkap Gus Miftah dalam postingannya itu:

Wawancara dalang ki Warseno Slank dengan tv one, dalang dengan segala otoritas nya tidak bisa di intervensi atas lakon yang dibawakannya, dalang independen dengan lakon yang dibawakannya.

Tapi kan pentasnya dipondoknya miftah... yang salah ya miftah!!!

Musnah nya wayang itu sederhana kok, kalau sudah tidak ada yang nanggap dan nguri2... Lha miftah nanggap saja supaya kelestarian nya terjaga malah disalahkan..... pokoknya miftah salah, dan harus minta maaf, ok salahkan saya jangan dalangnya, pokok e salahnya miftah.

Ok fine... Saya minta maaf atas kegaduhan yang terjadi, bukan karena nanggap wayangnya!

#nanggapwayang
#savedalang
#jagabudayaindonesia



Simak Video "Pembelaan Kala Pentas Wayang di Ponpes Gus Miftah Dikritik"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/sip)