Profil Yaqut Cholil Qoumas, Menag yang Bikin Analogi Azan-Gonggongan

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 24 Feb 2022 13:06 WIB
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas
Menteri Agama Yaqut Chalil Qoumas. (Foto: dok. Istimewa)
Solo -

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas jadi buah bibir usai menerbitkan aturan volume pengeras suara di masjid dan membuat perbandingan dengan gonggongan anjing. Berikut ini profil pribadi pria asal Rembang, Jateng, yang akrab disapa Gus Yaqut atau Gus Tutut tersebut.

Gus Yaqut adalah adik kandung KH Yahya Cholil Staquf yang kini menjabat Ketua Umum PBNU. Kedua tokoh ini merupakan putra kiai kenamaan (alm) KH Cholil Bisri, kakak kandung dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus. Dengan demikian Yaqut adalah kemenakan dari Gus Mus.

Dikutip dari situs DPR, Gus Yaqut dilahirkan di Rembang, 4 Januari 1975. Dia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kecil pesisir utara Jateng tersebut. Selanjutnya dia pernah meneruskan pendidikan di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia (UI), namun tidak tamat.


Sejak muda, Gus Yaqut aktif berorganisasi dan mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Depok di tahun 1996. Dia juga pernah menjabat sebagai ketua DPC PKB Kabupaten Rembang dari tahun 2001 hingga 2014.

Melalui PKB pula, Gus Yaqut pernah menjadi Wakil Bupati Rembang periode 2005-2010. Selanjutnya dia sempat mencalonkan diri sebagai bupati di Pilkada Rembang, namun gagal terpilih.

Gus Yaqut juga sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI Dapil Jateng X, namun gagal meraih kursi. Dia akhirnya berhasil duduk di kursi parlemen usai menggantikan Hanif Dhakiri yang saat itu dilantik menjadi Menteri Tenaga Kerja, melalui mekanisme pergantian antar waktu (PAW).

Gus Yaqut dilantik menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019. Di periode selanjutnya yakni 2019-2024, ia kembali terpilih menjadi anggota DPR RI dan menjabat Wakil Ketua Komisi II.

Pada 23 Desember 2020, Yaqut Cholil Qoumas dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Agama yang baru. Usai dilantik, Yaqut berjanji akan ada terobosan-terobosan baru di kementerian.

"Kita lihat nanti pasti akan ada terobosan-terobosan dari kementerian agar akan berbeda dari masa-masa lainnya," ujar Yaqut di Istana Kepresidenan, dikutip dari detiknews, Rabu (23/12/2020).

Saat sertijab di kantor Kemenag, Yaqut Cholil membuka sambutannya dengan mengutip penyataan eks Menag Lukman Hakim Saifuddin yang menirukan pernyataan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid soal Kemenag.

Ia mengatakan Kementerian Agama harus menjadi kementerian untuk semua agama, bukan satu agama. Ia berharap ke depan tidak ada diskriminasi antara agama satu dengan yang lain.

"Saya dengar dulu Pak Lukman Hakim Saifudin ketika masuk Kementerian Agama ini Gus Dur berseloroh soal Kementerian Agama. Ini populer sekali, Gus Dur mengatakan yang diulang oleh Pak Lukman Hakim, Kementerian Agama itu seperti pasar, semua ada, kecuali agama, itu kata Gus Dur," ujar Yaqut.

"Ini waktunya Bapak/Ibu sekalian kita membuktikan bahwa Kementerian Agama bukan Kementerian Agama, titik, tapi kementerian semua agama. Maka yang disebut Gus Dur soal pasar itu ini, pasar agama-agama ini ada di Kementerian Agama, tidak ada perbedaan, tidak ada diskriminasi semua agama di kementerian ini, kita tunjukkan ke publik," imbuhnya.

Yang paling mutakhir, Menag Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan surat edaran yang mengatur penggunaan pengeras suara atau toa di masjid dan musala. Yaqut kemudian membandingkan aturan volume suara ini dengan gonggongan anjing.

Yaqut awalnya menjelaskan dirinya tidak melarang penggunaan pengeras suara oleh masjid ataupun musala. Menurutnya, pemerintah hanya mengatur besar volume.

"Soal aturan azan, kita sudah terbitkan surat edaran pengaturan. Kita tidak melarang masjid-musala menggunakan Toa, tidak. Silakan. Karena itu syiar agama Islam," katanya di Gedung Daerah Provinsi Riau, Rabu (23/2).

Dia meminta volume pengeras suara diatur maksimal 100 desibel (dB). Selain itu, waktu penggunaan disesuaikan di setiap waktu sebelum azan.

"Aturan ini dibuat semata-mata hanya untuk membuat masyarakat kita semakin harmonis. Meningkatkan manfaat dan mengurangi ketidakmanfaatan," sambungnya.

Yaqut menilai suara-suara dari masjid selama ini merupakan bentuk syiar. Namun, dia menilai suara dari masjid bisa menimbulkan gangguan jika dinyalakan dalam waktu bersamaan.

"Misalnya ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100-200 meter itu ada musala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka menyalakan Toa bersamaan di atas. Itu bukan lagi syiar, tapi gangguan buat sekitarnya," katanya.

"Kita bayangkan lagi, saya muslim, saya hidup di lingkungan nonmuslim. Kemudian rumah ibadah saudara-saudara kita nonmuslim menghidupkan Toa sehari lima kali dengan kenceng-kenceng, itu rasanya bagaimana," kata Yaqut lagi.

Dia kemudian mencontohkan suara-suara lain yang dapat menimbulkan gangguan. Salah satunya ialah gonggongan anjing.

"Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa? Suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak jadi gangguan. Speaker di musala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada terganggu," katanya.

Yaqut kemudian meminta agar suara Toa diatur waktunya. Jadi niat untuk syiar tidak menimbulkan gangguan masyarakat.

"Agar niat menggunakan speaker sebagai untuk sarana, melakukan syiar tetap bisa dilaksanakan dan tidak mengganggu," kata Yaqut.



Simak Video "Heboh Konvoi Khilafah di Cawang, Menag: Tidak Boleh di Indonesia!"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/mbr)