Hari Bahasa Ibu Internasional

Nama Jorok Kuliner Jawa, Ekspresi Tuturan Rakyat yang Menolak Tunduk

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 21 Feb 2022 13:23 WIB
10 Nama Makanan Indonesia yang Jorok, Kontol Kejepit hingga Ketupat Jembut
Makanan bernama Kontol Kejepit. (Foto: detikfood/Istimewa)
Solo -

Akhir pekan lalu, 19-20 Februari 2022, detikJateng mengulas sejumlah makanan dan minuman tradisional di Jawa Tengah-DIY yang bernama unik seperti kupat jembut, es dawet jembut kecabut, kontol kejepit, peli kipu, dan lain-lain.

Sekilas, nama-nama makanan itu terkesan vulgar. Tapi di balik itu terkandung pesan bahwa bahasa ibu terbukti lebih kuat dari norma buatan sekelompok elit yang hendak menguasai segala lini kehidupan, termasuk dalam hal berbahasa. Di samping itu, kebetulan hari ini, Senin 21 Februari, bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional. Jadi klop sudah.

Dalam bukunya Language and Power: Exploring Political Culture in Indonesia (1990), Benedict Anderson mengungkapkan semula tak ada tingkatan dalam Bahasa Jawa. Dulu, semua masyarakat Jawa berbahasa ngoko, tanpa klasifikasi ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama inggil.

Anderson mengatakan, krama sebenarnya dibuat-buat dari bahasa yang lazim di kalangan rakyat oleh para penguasa Jawa sebagai kompensasi dari hilangnya kekuasaan konkret mereka setelah abad 18.

"Ada alasan bagus untuk berpikir bahwa karakter ekstrem dari perkembangan linguistik di Jawa merupakan fungsi dari meningkatnya impotensi kelas atas Jawa - dan secara tidak langsung dari dorongan kolonial Belanda, dengan kata lain semacam kompensasi atas hilangnya otoritas nyata," tulis sejarawan dan pakar politik dunia yang pernah dilarang masuk ke Indonesia pada masa Orde Baru itu.

Sementara itu, menurut G Moedjanto, dikutip dari Kekuasaan, Kebahasaan, dan Perubahan Sosial (1987) karya Ariel Haryanto, "Tataran ngoko-krama memang sengaja dikembangkan sehingga menjadi rumit sebagai alat politik."

Terciptanya tingkatan bahasa krama-ngoko, menurut Moedjanto, digunakan penguasa Jawa pada masa itu untuk menaikkan derajatnya, untuk menciptakan 'jarak sosial' antara mereka yang berkuasa dan mereka yang dikuasai.

Tingkatan bahasa krama-ngoko itulah yang menyebabkan orang Jawa kini harus memperhatikan dan membeda-bedakan lawan bicaranya berdasarkan usia maupun status sosialnya.

"Bahasa ngoko dipakai orang yang sudah dikenal akrab terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah derajat dan status sosialnya," tulis Kodiran dalam artikelnya, Kebudayaan Jawa, di buku Manusia dan Kebudayaan Indonesia (1984).

Namun, kita tahu urusan perut itu hak asasi manusia. Tak peduli status sosial atau derajatnya, tiap orang berhak menciptakan berbagai jenis makanan dan menamainya sesuka hati dengan bahasa ibunya, bahasa Jawa ngoko, tanpa harus "izin" kepada para penguasa bahasa.

Dan jangan lupa, humoris termasuk salah satu sifat orang Jawa yang termaktub dalam primbon. Seperti weton Jumat Kliwon yang disebut mudah menghidupkan suasana dengan humornya atau Minggu Wage yang dikenal suka menghibur dengan canda tawa. Di Jawa ada istilah sembrana parikena, menyampaikan pesan dengan cara santai dibungkus dengan gurauan.

Maka itu wajar saja jika kemudian muncul nama es dawet jembut kecabut di Kabupaten Purworejo yang ternyata merupakan singkatan dari lokasi penjualnya di timur Jembatan Butuh (Jembut) Kecamatan Butuh (Kecabut).

Ada pula kupat jembut, makanan khas yang hanya disajikan saat tradisi Syawalan di Kota Semarang. Kupat itu diberi tambahan nama jembut karena isian taugenya yang keluar seperti rambut kemaluan.

Terlepas dari kelucuan di balik penamaan itu, setidaknya detikJateng turut berupaya mengabadikan banyaknya istilah dalam tradisi kuliner dari bahasa Jawa yang belum terekam, terutama istilah-istilah yang bersifat dialektik. Selamat menikmati.



Simak Video "Serunya Berebut Kupat Jembut saat Perayaan Syawalan di Semarang"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)