Diputar Balik Urus Izin, Ratusan Kapal Berdesakan di Pelabuhan Tegal

Imam Suripto - detikJateng
Sabtu, 22 Jan 2022 16:18 WIB
Ratusan kapal nelayan menumpuk di pelabuhan Tegal, Sabtu (22/1/2022)
Ratusan kapal nelayan menumpuk di pelabuhan Tegal, Sabtu (22/1/2022). (Foto: Imam Suripto/detikJateng)
Tegal -

Ratusan kapal nelayan yang sedang berlayar diputar balik ke daerah asal di Kota Tegal, Jawa Tengah untuk mengurus perizinan. Akibatnya, terjadi penumpukan ratusan kapal di pelabuhan perikanan setempat.

Pantauan detikJateng di lokasi, para nelayan asal Kota Tegal yang tengah berada di laut tersebut secara hampir bersamaan pulang kembali dan menyandarkan kapalnya di dermaga Serempat. Mereka diputar balik dan tidak diizinkan melaut lantaran harus mengurus izin.

Akibatnya terjadi penumpukan kapal di dermaga perikanan Kota Tegal. Ratusan kapal berbagai ukuran saling berhimpitan satu sama lain.

Bagi kapal yang berlabuh agak jauh dari pelabuhan harus membongkar muatan dengan cara melangsir. Mereka menyewa kapal kecil untuk mengangkut muatan kapal untuk dibawa ke pelabuhan.

Sementara, bagi kapal yang tidak mendapat tempat berlabuh, terpaksa buang jangkar di pinggiran pantai. Mereka parkir di sepanjang pantai dari Kota Tegal sampai ke Brebes.

Menumpuknya kapal ini sebagai dampak kebijakan Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal, Eko Susanto menyampaikan, dalam waktu 10 hari, pemilik kapal-kapal yang sedang melaut harus kembali ke daratan untuk mengurus perizinan.

Atas instruksi tersebut maka para pemilik kapal, nakhoda berduyun-duyun pulang ke daratan Tegal sehingga kapal menumpuk di Pelabuhan Jongor maupun Pelabuhan Pelindo.

Ratusan kapal nelayan menumpuk di pelabuhan Tegal, Sabtu (22/1/2022)Ratusan kapal nelayan menumpuk di pelabuhan Tegal, Sabtu (22/1/2022) Foto: Imam Suripto/detikJateng

"Ini karena dampak kebijakan dari KKP. Para nelayan yang sedang melaut harus putar balik untuk mengurus perizinan. Jadi yang terjadi kapal menumpuk. Sekitar 600 kapal menumpuk di Pelabuhan Jongor dan Pelabuhan Pelindo menunggu proses perijinan sesuai yang diinstruksikan oleh KKP," beber Eko kepada detikJateng, Sabtu (22/1/2022).

Terpisah pemilik kapal, Yusuf Al Baehaqi menyebut, instruksi KKP ini telah menyebabkan kerugian yang cukup besar. Karena kapal yang sedianya berlayar selama dua bulan, baru dua minggu harus diputar balik. Padahal, si pemilik sudah mengeluarkan uang untuk perbekalan dalam jumlah besar.

Dalam melaut, Yusuf mengaku membeli perbekalan mulai dari solar, makanan, es dan lain lainnya mencapai Rp.700 juta. Namun baru dua minggu dipaksa mendarat dengan membawa hasil seadanya.

"Kapal saya berangkat berlayar dan dua bulan biasanya baru pulang mendarat. Ini baru seminggu di laut dirazia disuruh pulang ke daratan untuk mengurus izin. Kita mengalami kerugian karena untuk perbekalan sedikitnya habis Rp 700 juta. Sementara hasil dua minggu kalau dapat Rp 200 juta saja sudah bagus," keluh Yusuf.

Beberapa nelayan mengeluhkan kerusakan kapal terutama kapal-kapal kecil yang terhimpit kapal besar. Salah satu contohnya adalah kapal arad milik Karyono (50) warga Jalan Layang, Tegalsari.

"Posisinya kan berdesakan. Dihimpit kapal kapal besar terus ombak laut jadi akhirnya pecah. Sekarang sudah tenggelam di kolam pelabuhan," ujar Karyono.

(aku/mbr)