Menkes Cerita Banyak Orang Kaya Kesal Gegara Omicron, Kenapa?

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Jumat, 21 Jan 2022 19:38 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin di Bantul, Jumat (21/1/2022)
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin di Bantul, Jumat (21/1/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
Bantul -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menceritakan kasus Omicron yang membuat jumlah kasus baru COVID-19 melonjak bahkan kini kasus hariannya tembus angka 2.000 orang. Budi juga bercerita soal Omicron yang bikin orang kaya kesal. Kok bisa?

"Sekarang masuk Omicron, sudah naik belum? Sudah. Kita biasanya 200-300 sehari sekarang sudah 2.000 per hari," kata Budi saat di Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (21/1/2022).

Budi menyebut, pihaknya sudah berupaya semaksimal mungkin menahan laju Omicron agar tidak masuk ke Indonesia. Namun, akhirnya laju Omicron tidak bisa tertahan dan malah menyebar di Indonesia hingga saat ini.

"Saya juga ditanya ini mesti ngapain? Saya bilang teman-teman Omicron ini sudah pasti nggak bisa ketahan. Kita berusaha menahan akhirnya masuk, kita negara ranking nomor 100 yang masuk Omicron," ucapnya.

Selanjutnya, Budi mengungkapkan kebijakan wajib karantina 10 hari terhadap orang yang pulang dari luar negeri menjadi pro-kontra di masyarakat. Bahkan, Budi bercerita jika kebijakan yang ketat ini sempat membuat banyak orang kaya di Jakarta menjadi kesal.

"Karena banyak orang kaya Jakarta kan pulang (dari luar negeri) jadi kesel karena harus suruh 10 hari di situ," ujarnya.

Terlepas dari hal tersebut, Budi menilai apa yang terjadi di Indonesia saat ini tidak terlalu buruk untuk negara berkembang. Mengingat pihaknya melakukan karantina ketat pada orang yang datang dari luar negeri.

"Meski kebijakan tersebut juga tak lepas dari bully di media sosial. Terima kasih Polri-TNI walaupun di-bully terus karena karantina kita ketat di-bully terus di sosial media. Kita bilang nggak papa lah di-bully kita mau lindungi rakyat di-bully nggak papa," ucapnya.

Kasus Omicron cepat naik dan cepat turun

Budi menjelaskan Omicron memiliki karakter penyebaran yang cepat dan tinggi. Pasalnya Omicron hanya butuh 30 sampai 40 hari dari pertama masuk.

"Jika Delta butuh 3 sampai 4 bulan untuk mencapai puncak penyebaran, dan kalau Delta puncaknya misalnya 100 (kasus harian) ini puncaknya bisa 1.000 sampai 10 ribu," ujarnya.

"Cuma bagusnya apa, turunnya juga cepat, selain itu yang masuk rumah sakit dan wafat rendah," lanjut Budi.

Tak hanya itu, tingkat keparahan kasus juga tidak terlampau tinggi. Hal itu dilihat dari 1.000 orang yang terpapar Omicron tidak ada yang sampai membutuhkan ventilator dan tidak ada pula yang sampai membutuhkan HFNC.

"Jadi hampir 50 persen sampai 60 persen tanpa gejala, dan mungkin yang 30 persen itu masuk kategori gejala ringan," kata Budi.



Simak Video "Menkes Upayakan PeduliLindungi Jadi 'Paspor Kesehatan' di Negara G20"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/ams)