Wisata Sejarah Tanpa Sekat di Museum Kavaleri Bandung

Nedzar Rabbany El Haq - detikJabar
Minggu, 25 Okt 2026 11:00 WIB
Museum Kavaleri Bandung (Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar)
Bandung -

Aroma kopi menyeruak di antara deru tipis angin sore di Jalan Gatot Subroto, Bandung. Di sebuah sudut semi-terbuka, tawa sekelompok anak muda memecah kesunyian yang biasanya identik dengan markas militer. Tepat di hadapan mereka, deretan kendaraan tempur lapis baja berdiri kokoh, membeku dalam sejarah namun tetap terasa 'hidup' di tengah hiruk-pikuk kota. Pemandangan ini mungkin terasa kontras bagi mata yang belum terbiasa, namun di sini, besi tua dan gaya hidup modern justru berkelindan dengan apik.

Ruang sosial yang hangat ini merupakan bagian dari kompleks Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav) TNI AD. Melalui sentuhan revitalisasi, kawasan ini bertransformasi menjadi Museum Kavaleri, sebuah ekosistem baru yang meruntuhkan sekat psikologis antara militer dan warga sipil. Kehadiran kedai kopi kekinian, tempat pangkas rambut, hingga ruang kerja komunal perlahan menghapus kesan kaku yang selama ini melekat pada instalasi militer. Menariknya, destinasi ini mengukuhkan diri sebagai museum kavaleri pertama di kawasan Asia Tenggara.

Napas Baru Arsitektur Kolonial

Berdiri di Jalan Gatot Subroto Nomor 98 dan 100, bangunan utama museum ini sebenarnya adalah saksi bisu awal abad ke-20. Strukturnya berupa rumah tipe kopel, sisa-sisa kejayaan konsep Garden City atau Kota Taman yang pernah menjadi identitas permukiman di Bandung.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengambil peran penting dalam memugar cagar budaya ini. Tanpa menghilangkan fasad aslinya, bangunan ini disuntik dengan teknologi tata ruang pameran yang mutakhir, desain interior inovatif, hingga sentuhan digital yang membuat narasi sejarah terasa lebih relevan bagi generasi hari ini.

Kini, siapa pun bisa melangkah masuk tanpa rasa canggung. Pihak pengelola sengaja membebaskan biaya tiket masuk untuk umum. Fasilitas parkir yang luas serta kehadiran pelaku UMKM kuliner lokal menjadikan tempat ini bukan sekadar museum, melainkan ruang publik yang ramah bagi keluarga dan komunitas.

Museum Kavaleri Bandung Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar

Menyusuri Jejak Baja Nusantara

Handy, pengelola Museum Kavaleri, menceritakan bahwa perjalanan fasilitas ini dimulai sejak pembangunan pada 2022 hingga diresmikan oleh Menteri PUPR pada 2024. Sejak saat itu, gerbangnya terbuka lebar bagi pelajar dan masyarakat yang ingin mencecap edukasi sejarah.

"Bangunan ini merupakan aset cagar budaya yang dialihfungsikan sebagai wahana museum atau tempat edukasi," ucap Handy belum lama ini.

Melangkah ke dalam area pameran, pengunjung seolah diajak masuk ke mesin waktu menuju 9 Februari 1950, saat korps ini pertama kali dibentuk di bawah kepemimpinan Letkol Kav KGPH Soerjo Soejarso. Berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) terpajang rapi, mulai dari panser roda ban, tank roda rantai, hingga manekin kuda kavaleri lengkap dengan seragam kebesaran yang biasa digunakan saat penyambutan kepala negara.

Salah satu primadona di sini adalah panser Saracen. Kendaraan lapis baja asal Inggris ini bukan sekadar besi tua, ia memiliki nilai historis tinggi karena pernah digunakan untuk mengangkut para pahlawan revolusi pada era 1950-an.



Simak Video "Menuju dan Menikmati Keindahan Candi Sojiwan di Jawa Tengah"


(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork