Keberadaan ratusan keramik antik di Museum Prabu Siliwangi, Kompleks Ponpes Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, mengungkap fakta sejarah penting. Peninggalan tersebut menjadi bukti autentik bahwa wilayah Nusantara, khususnya jalur Sukabumi, telah terlibat aktif dalam jaringan perdagangan dan diplomasi global sejak abad ke-8 Masehi.
Koleksi keramik bernilai sejarah tinggi ini kini resmi diabadikan dalam buku Katalog Keramik Museum Prabu Siliwangi yang disusun langsung oleh tim peneliti keramologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dari total 350 artefak yang tersimpan, sebanyak 70 keramik dipilih sebagai koleksi masterpiece untuk masuk ke dalam katalog. Peneliti BRIN membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk memilah dan meneliti koleksi lintas peradaban tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koleksi keramik di Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar). |
Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana, menjelaskan bahwa koleksi keramik di museumnya mewakili peninggalan dari berbagai negara dan dinasti dunia yang pernah singgah di Nusantara.
"Koleksi keramik tertua berasal dari abad ke-8. Seluruh era dinasti Tiongkok ada perwakilannya di sini, ditambah keramik dari Eropa seperti Inggris dan Belanda, keramik Asia dari Thailand, hingga artefak Nusantara dari zaman Majapahit," kata Fajar.
Bukti Hubungan Diplomatik dan Perdagangan Internasional
Hadirnya keramik dari berbagai penjuru dunia ini menegaskan bahwa kebudayaan dan posisi strategis Nusantara dalam peta perdagangan internasional sudah terbangun sejak ribuan tahun lalu.
Benda-benda tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan rekam jejak hubungan diplomatik dan mobilitas barang serta manusia di masa lampau.
"Berarti kebudayaan Indonesia itu luar biasa, karena dari abad 8 Masehi sudah terjadi perdagangan internasional, sudah berkunjung dari beberapa negara ke Indonesia dibuktikan dengan adanya keramik ini," jelas Fajar.
Warisan Trah Kesultanan Banten Diteliti BRIN
Menariknya, ratusan keramik bersejarah tersebut tidak didapatkan secara acak. Koleksi ini merupakan warisan turun-temurun dari keluarga besar Raden Sumawinata yang memiliki pertalian sejarah dengan Kesultanan Banten.
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Iim Imanudin, mengapresiasi inventarisasi ilmiah yang dilakukan terhadap artefak ini. Menurutnya, keramik-keramik tersebut adalah saksi bisu pergerakan sejarah.
"Ada pergerakan mobilitas, bukan hanya orang, tapi juga barang, tapi juga artefak, tapi juga benda material yang kemudian itu menjadi indikasi adanya kisah masa lalu yang sampai ke bendanya," ungkap Iim.
Masuk Jaringan Katalog Nasional dan Eduwisata Sukabumi
Buku katalog yang diterbitkan oleh Khalifah Mediatama ini telah mengantongi ISBN resmi. Nantinya, data keramik ini akan masuk ke jaringan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) serta disebarkan ke perguruan tinggi di seluruh Indonesia dalam bentuk fisik maupun digital sebagai rujukan akademik.
Peluncuran katalog yang digelar dalam rangka memperingati Hari Museum Indonesia (Harmusindo) 2026 ini diharapkan dapat memperkuat posisi Sukabumi sebagai destinasi eduwisata sejarah.
Koleksi keramik di Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar). |
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Sukabumi, Olga Pragosta, menilai langkah ini sebagai transfer pengetahuan yang penting bagi generasi muda.
"Dengan kajian yang dilakukan oleh tim yang memang sesuai dengan kompetensinya, murni dan lengkaplah sudah. Nanti sejarah ini bisa ditransferkan kepada generasi berikutnya," tutur Olga.
Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)


