Hari Museum Nasional diperingati setiap 12 Oktober. Pada 2026, peringatan ini jatuh pada Senin (12/10/2026). Detikers bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenal lebih dekat museum-museum yang ada di Kota Bandung dengan simpanan koleksi seni, sejarah, hingga kisah tokoh yang terkenal.
Tanggal 12 Oktober dipilih untuk mengenang Musyawarah Museum se-Indonesia pertama yang berlangsung di Yogyakarta pada 12-14 Oktober 1962. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah resolusi penting untuk perkembangan permuseuman di Indonesia. Penetapan Hari Museum Nasional kemudian dideklarasikan dalam pertemuan nasional permuseuman di Malang pada 2015.
Selain Museum Geologi Bandung atau Museum Konferensi Asia Afrika, masih banyak museum tersembunyi yang menarik untuk dijelajahi dan belum tentu masuk daftar kunjungan wisatawan pada umumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut lima rekomendasi museum hidden gem di Bandung!
1. Museum Srihadi Soedarsono
Bagi pencinta seni, Museum Srihadi Soedarsono bisa menjadi destinasi yang menarik. Museum ini didirikan untuk merawat dan memperkenalkan karya maestro seni lukis Indonesia, Srihadi Soedarsono.
Koleksinya mencakup lukisan cat minyak, sketsa, dan karya cat air dari perjalanan kreatif sang seniman. Menariknya, bangunan museum dirancang oleh arsitek Andra Matin dengan pendekatan minimalis, garis bangunan yang tegas, serta pemanfaatan cahaya alami. Perpaduan tersebut membuat pengalaman menikmati karya seni terasa berbeda dari museum konvensional.
Dengan tempatnya yang luas dan sejuk, museum ini memiliki 3 lantai yang bisa dikunjungi dengan koleksi yang diganti tiap 3 bulan sekali. Ada pula kafe di lantai paling atas jika detikers ingin bersantai setelah keliling museum.
Detikers juga bisa menitipkan barang bawaan di resepsionis agar mengeksplorasi museum dengan leluasa.
Lokasi: Jalan Ciumbuleuit No. 173, Kota Bandung.
Jam operasional: Setiap hari, pukul 10.00-17.00 WIB.
Tiket masuk: Rp30.000 di hari kerja dan Rp40.000 di akhir pekan; anak di bawah 10 tahun gratis, dan bisa bayar pakai QRIS.
2. Museum Kota Bandung
Ingin mengetahui perjalanan Kota Bandung dari masa ke masa? Museum Kota Bandung bisa menjadi pilihan untuk mengenal sejarah perkembangan kota, termasuk profil para wali kota yang pernah memimpin Bandung.
Penyajiannya cenderung informatif dan modern, dengan panel penjelasan, foto, serta materi visual yang membantu pengunjung memahami perubahan kota. Museum ini cocok bagi pelajar, wisatawan, maupun warga yang ingin mengenal sejarah tempat tinggalnya dengan cara yang lebih santai.
Lokasi: Jalan Aceh No. 47, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, di sekitar kawasan Balai Kota.
Jam operasional: Selasa-Minggu, pukul 10.00-15.00 WIB.
Tiket masuk: Gratis.
Karena lokasinya berada di pusat kota, kunjungan ke museum ini juga dapat dipadukan dengan berjalan-jalan di kawasan Balai Kota Bandung.
3. Museum Nike Ardilla
Penggemar musik Indonesia, khususnya karya Nike Ardilla, bisa berkunjung ke museum yang didedikasikan untuk mengenang penyanyi legendaris tersebut.
Museum Nike Ardilla menyimpan berbagai memorabilia perjalanan kariernya, mulai dari foto, album, kliping pemberitaan, penghargaan, hingga barang-barang pribadi, terdapat pula replika kamar yang menghadirkan nuansa era 1990-an.
Museum ini menawarkan pengalaman berbeda karena pengunjung dapat mengenal sosok Nike Ardilla bukan hanya melalui lagu-lagunya, tetapi juga melalui benda-benda yang berkaitan dengan perjalanan hidup dan kariernya.
Lokasi: Kompleks Arya Graha, Jalan Aria Utama No. 5, Cipamokolan, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung.
Jam operasional: Setiap hari, pukul 11.00-17.00 WIB.
Tiket masuk: Gratis (pengunjung dapat memberikan donasi sukarela)
4. Museum Wolff Schoemaker di Hotel Grand Preanger
Museum Wolff Schoemaker atau Museum Preanger berada di dalam Hotel Grand Preanger. Museum kecil ini menyimpan informasi tentang arsitek C.P. Wolff Schoemaker, sosok yang berperan dalam rancangan sejumlah bangunan ikonik di Bandung.
Pengunjung dapat melihat dokumentasi karya arsitektur serta koleksi yang berkaitan dengan sejarah hotel. Ada pula kisah tokoh terkenal yang pernah singgah di Grand Preanger, termasuk Charlie Chaplin dan Amelia Earhart.
Karena berada di area hotel, pengunjung umum sebaiknya meminta izin kepada resepsionis sebelum masuk.
Lokasi: Hotel Grand Preanger, Jalan Asia Afrika No. 81, Braga, Kota Bandung.
Jam operasional: Senin-Sabtu, pukul 11.00-17.00 WIB.
Tiket masuk: Gratis bagi tamu hotel dan Rp5.000-Rp10.000 bagi pengunjung umum, tarif serta akses dapat berubah, sehingga perlu dikonfirmasi kepada pihak hotel.
5. Museum Perbendaharaan
Museum Perbendaharaan cocok bagi detikers yang tertarik dengan sejarah pemerintahan dan pengelolaan keuangan negara, museum ini menempati Gedung Dwiwarna, bangunan bersejarah yang didirikan pada 1938 dan pernah digunakan sebagai bagian dari persiapan Konferensi Asia Afrika 1955.
Koleksinya mencakup dokumen, peralatan kantor lama, bahan pustaka, serta informasi mengenai perkembangan sistem perbendaharaan Indonesia dari masa ke masa. Pengunjung juga dapat mempelajari perubahan pengelolaan keuangan negara melalui galeri sejarah dan koleksi yang dipamerkan.
Lokasi: Gedung Dwiwarna, kompleks Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Jawa Barat, Jalan Diponegoro No. 56, Kota Bandung.
Jam operasional: Pukul 09.00-16.00 WIB pada Senin, Sabtu, dan Minggu, khusus minggu kedua dan keempat.
Tiket masuk: Gratis.
Sebelum berangkat, detikers sebaiknya memeriksa kembali jam operasional, harga tiket, dan aturan kunjungan melalui pengelola masing-masing museum. Dengan begitu, wisata sejarah dan edukasi di Bandung bisa berjalan lebih nyaman.
