Menjelajah Jejak Filateli di Museum Pos Indonesia Bandung

Menjelajah Jejak Filateli di Museum Pos Indonesia Bandung

Zaenab Nurhabibah - detikJabar
Senin, 12 Okt 2026 11:00 WIB
Museum Pos Indonesia
Museum Pos Indonesia (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar)
Bandung -

Bicara soal banyaknya museum yang ada di Kota Kembang, ada satu tempat yang menarik bagi pencinta sejarah sekaligus dunia filateli, yakni Museum Pos Indonesia.

Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang merekam perjalanan layanan pos dan komunikasi di Indonesia dari masa kolonial hingga era modern.

Lokasinya juga cukup strategis karena pusat kota, tepatnya berada di Jalan Cilaki No. 73, Kota Bandung, tepat di kawasan Gedung Sate.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Uniknya lagi, museum ini berada di bagian bawah kompleks Kantor Pusat PT Pos Indonesia. Bisa menjadi pilihan wisata edukasi ketika detikers sedang mengunjungi kawasan Gedung Sate, Gasibu atau Jalan Diponegoro.

Tak hanya menyimpan perangko, Museum Pos Indonesia juga memiliki surat bersejarah, peralatan pos, kendaraan operasional hingga berbagai benda yang berkaitan dengan perkembangan komunikasi.

ADVERTISEMENT

Sejarah Museum Pos Indonesia Bandung

Museum Pos Indonesia memiliki sejarah panjang sejak masa Hindia Belanda.

Bangunan yang menjadi bagian dari kompleks museum dibangun pada 27 Juli 1920 dengan rancangan arsitek Ir. J. Berger bersama Leutdsgebouwdienst, arsitekturnya mengusung corak Renaissance yang berpadu dengan karakter arsitektur Eropa pada awal abad ke-20.

Museum ini kemudian dibuka untuk umum pada 1931 dengan nama Museum Pos, Telegraf, dan Telepon atau Museum PTT.

Saat itu, museum menempati bagian sayap kanan bawah gedung Kantor Pusat PTT di Jalan Cilaki.

Museum Pos Indonesia.Museum Pos Indonesia. Foto: Hanifah Salsabila/detikJabar

Perjalanan museum sempat terhenti dan kondisinya kurang terawat ketika terjadi Perang Dunia II serta pergantian kekuasaan.

Koleksi yang ada kemudian kembali diinventarisasi dan dikumpulkan pada awal dekade 1980-an.

Pada 27 September 1983, museum kembali diresmikan untuk umum oleh Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Achmad Tahir. Saat itu namanya berubah menjadi Museum Pos dan Giro.

Selanjutnya, pada Juni 1995, namanya berubah menjadi Museum Pos Indonesia mengikuti perubahan nama perusahaan pengelolanya menjadi PT Pos Indonesia.

Punya 131 Juta Koleksi Perangko

Daya tarik utama Museum Pos Indonesia Bandung tentu saja koleksi filatelinya, sekitar 131 juta keping perangko dari Indonesia maupun berbagai negara di dunia dapat ditemukan disini.

Jumlah tersebut membuat museum ini menarik bagi para filatelis, sebutan untuk orang yang memiliki ketertarikan terhadap perangko dan benda-benda terkait kegiatan pos.

Koleksi perangko tersebut tidak sekadar dipajang dalam satu lemari, sebagian koleksi disusun pada papan kayu yang dilindungi kaca.

Ada pula koleksi yang disimpan dalam papan-papan vertikal berbentuk seperti lemari sehingga pengunjung dapat melihatnya dengan cara menarik bagian papan tertentu.

Tema perangkonya pun beragam, pengunjung dapat menemukan perangko dari Indonesia dan mancanegara dengan tema tokoh, budaya, flora, fauna, pariwisata hingga berbagai peristiwa penting.

Salah satu hal menarik adalah keberadaan dokumentasi perangko pertama di dunia yang dikenal sebagai Penny Black.

Tak Hanya Perangko, Ada Surat Emas Raja Nusantara

Kalau detikers mengira Museum Pos Indonesia hanya berisi perangko, itu kurang tepat. Faktanya, museum ini juga menyimpan sekitar 200 koleksi peralatan pendukung layanan pos.

Benda-benda tersebut menggambarkan bagaimana kegiatan surat-menyurat dan layanan pos dilakukan pada masa lalu.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah surat-surat bersejarah atau yang dikenal sebagai surat emas yang berkaitan dengan komunikasi antara raja-raja Nusantara dan tokoh pemerintahan pada masa kolonial.

Melalui koleksi tersebut, pengunjung dapat melihat bahwa surat pada masa lalu bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan pribadi, namun juga menjadi bagian dari hubungan politik, pemerintahan dan diplomasi.

Selain surat, ada pula timbangan surat dan paket, alat cetak perangko, mesin atau peralatan layanan pos, seragam pegawai serta kendaraan yang digunakan untuk kegiatan operasional.

Sepeda dan kendaraan dinas lama menjadi salah satu koleksi yang menggambarkan bagaimana petugas pos mengantarkan surat pada masa lalu.

Museum Pos Indonesia.Museum Pos Indonesia. Foto: Istawa Faqih Atthoriq

Harga Tiket dan Jam Buka

Kabar baik buat detikers yang mencari wisata murah di Bandung, Museum Pos Indonesia tidak memungut biaya tiket masuk alias gratis.

Untuk jam operasional, informasi kunjungan yang banyak digunakan saat ini mencatat museum buka:

  • Senin-Jumat: 09.00-15.00 WIB
  • Sabtu: 09.00-13.00 WIB
  • Minggu dan hari libur nasional: tutup

Karena museum berada dalam kompleks kantor, detikers sebaiknya mengecek kembali informasi operasional sebelum berkunjung, khususnya ketika datang bertepatan dengan hari libur atau membawa rombongan.

Museum Pos Indonesia Bandung bisa menjadi alternatif wisata edukasi yang cukup unik. Detikers bisa mengajak teman, sahabat, keluarga, atau komunitas ke museum ini.

Jadi, kalau detikers sedang mencari destinasi wisata gratis di pusat Kota Bandung, Museum Pos Indonesia sangat wajib masuk ke dalam daftar kunjungan.

Bukan cuma cocok untuk kolektor perangko, museum ini juga menarik bagi pelajar, keluarga maupun siapa saja yang ingin melihat bagaimana sebuah pesan bisa menempuh perjalanan panjang sebelum teknologi digital mengambil alih cara manusia berkomunikasi.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads