Mengenal 10 Patung Ikonik Bandung dan Kisah di Baliknya

Mengenal 10 Patung Ikonik Bandung dan Kisah di Baliknya

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Senin, 19 Okt 2026 07:00 WIB
Melihat lebih dekat patung sepak bola di Jalan Lembong, Kota Bandung, yang jadi simbol kejayaan Persib Bandung.
Patung persepakbola di Jalan Lembong, Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Kota Kembang memang tidak hanya terkenal dengan sejuknya udara, kreativitas warganya, atau deretan bangunan kolonial yang masih kokoh berdiri di pusat kota.

Di sela hiruk-pikuk Jalan Asia Afrika, keindahan Taman Balai Kota, hingga jalanan yang tiap hari dilalui ribuan kendaraan, detikers akan menemukan patung-patung yang diam-diam menyimpan kisah panjang.

Ada yang dibangun untuk mengenang pahlawan, ada yang menjadi simbol identitas kota, bahkan ada yang lahir dari penghormatan kepada sosok yang tak pernah menetap di Bandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Patung-patung itu bukan sekadar hiasan ruang publik, melainkan penanda waktu, pengingat perjuangan, sekaligus cermin bagaimana Bandung tumbuh dari masa kolonial hingga menjadi kota metropolitan yang dinamis.

Berikut sepuluh patung bersejarah di Bandung yang kisah di baliknya patut untuk dikenal lebih dekat.

ADVERTISEMENT

1. Patung Persib (Monumen Sepak Bola)

Di prapatan Jalan Lembong dan Jalan Tamblong, sebuah sosok pemain sepak bola tampak berlari dengan penuh semangat. Meski masyarakat akrab menyebutnya Patung Persib, nama resminya adalah Monumen Sepak Bola.

Berdasarkan arsip detikJabar berjudul "8 Fakta Menarik Patung Persib Karya Nyoman Nuarta", patung ini dibuat oleh seniman Nyoman Nuarta dari bahan tembaga dan kuningan, lalu diresmikan pada 8 Mei 1990. Pembangunannya sendiri digagas oleh Wali Kota Bandung Ateng Wahyudi sebagai persembahan Pemerintah Kota Bandung kepada warga.

Menariknya, sosok dalam patung ini tidak menggambarkan pemain Persib tertentu. Ia dibuat sebagai simbol universal semangat sepak bola Bandung, kota yang telah lama dikenal memiliki kecintaan mendalam terhadap olahraga tersebut.

Pemilihan lokasi di Jalan Lembong juga strategis karena berada di jalur utama yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan sekitarnya, sehingga patung ini mudah dilihat dan menjadi salah satu penanda ruang bagi warga. Hingga kini, monumen ini sering menjadi titik perayaan, termasuk ketika warga merayakan keberhasilan Persib.

2. Patung Dewi Sartika

Di Taman Dewi Sartika, di sisi selatan Balai Kota Bandung, berdiri patung R.A. Dewi Sartika di atas pilar monumen yang tinggi. Patung ini mengenang sosok pahlawan nasional kelahiran Bandung yang dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan Indonesia.

Melansir dari laman Pemerintah Kota Bandung, taman tersebut merupakan taman tertua di Bandung dan telah ada sejak 1885 dengan nama Pieter Sijthoff Park pada masa kolonial.

Patung Dewi Sartika diresmikan pada 4 Desember 1996, bersamaan dengan perubahan nama taman menjadi Taman Dewi Sartika. Lokasinya dipilih karena berada di jantung kota, satu kawasan dengan Balai Kota Bandung, sehingga nilai perjuangan dan pendidikan yang ia perjuangkan terus hadir dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Patung ini juga pernah direlokasi dari pinggir taman ke posisi yang lebih sentral, menegaskan kedudukannya sebagai pusat perhatian kawasan tersebut.

3. Patung Badak Putih

Tidak jauh dari Taman Dewi Sartika, di halaman Balai Kota Bandung, berdiri Patung Badak Putih yang sering menjadi sasaran foto warga dan wisatawan. Patung ini bukan lambang resmi Kota Bandung, melainkan simbol kerinduan akan alam yang lestari, tertib, kaya air, dan rindang oleh pepohonan.

Mengutip Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, pada masa lalu di kawasan beberapa ratus meter di sebelah utara Kampus Institut Teknologi Bandung, orang masih melihat kawanan badak berkeliaran di sana.

Bahkan, Haryoto mengisahkan bahwa pembangunan Bandung pada masa itu sering terhalang oleh kawanan hewan buas seperti harimau, macan tutul, dan badak.

Sehingga nama-nama seperti Cibadak, Rancabadak, dan kawasan sekitar Institut Teknologi Bandung kerap dikaitkan dengan jejak keberadaan badak di Bandung pada masa lampau.

Dengan demikian, patung ini seolah menghadirkan kembali ingatan tentang Bandung yang dahulu lebih hijau dan alami, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga lingkungan kota.

4. Patung Tentara Pelajar

Di kawasan Viaduct, tepatnya di bawah jembatan kereta api dan sekitar 100 meter dari Kantor Pemerintah Kota Bandung, berdiri Patung Pemuda Pelajar Pejuang 45. Patung ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Patung Tentara Pelajar.

Berdasarkan arsip detikNews berjudul "Patung Pelajar Pejuang Karya Sunaryo", patung tersebut merupakan karya pematung Sunaryo dan resmi berdiri pada 1996. Patung ini menggambarkan sosok pelajar pejuang pada masa revolusi, dengan lengan kiri memanggul senjata dan tangan kanan membawa buku.

Kehadirannya di kawasan Viaduct memiliki makna historis karena kawasan tersebut berkaitan dengan dinamika perjuangan di Bandung, termasuk peristiwa Bandung Lautan Api. Patung ini mengenang peran Tentara Pelajar, kesatuan yang beranggotakan pelajar dan mahasiswa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bagi generasi muda, kehadirannya menjadi pengingat bahwa semangat belajar dan cinta tanah air dapat berjalan beriringan.

5. Patung Laskar Wanita

Di Jalan Perintis Kemerdekaan, kawasan Babakan Ciamis, Sumur Bandung, berdiri Monumen Laskar Wanita Indonesia atau LASWI. Melansir dari laman Pemerintah Kota Bandung, monumen ini dibangun untuk menghormati perjuangan LASWI, organisasi yang didirikan di Bandung pada 12 Oktober 1945 atas inisiatif Ny. Sumarsih Yati Arudji Kartawinata.

LASWI sendiri merupakan gabungan Barisan Srikandi dan Pemuda Putri Indonesia yang berperan membantu perjuangan melawan Sekutu, mulai dari bertempur, kegiatan sosial, hingga tugas intelijen.

Patung ini diresmikan oleh Wali Kota Bandung R. Husein Wangsaatmadja pada 10 November 1981. Pemilihan lokasi di kawasan Viaduct tidak sembarangan karena daerah tersebut memiliki keterkaitan dengan peristiwa perlawanan pada masa revolusi.

Kehadiran monumen ini menegaskan bahwa peran perempuan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tidak boleh dilupakan, dan Bandung menjadi salah satu kota yang menyimpan jejak perjuangan tersebut secara sangat kuat.

6. Patung Pastor Verbraak

Di sisi utara Taman Maluku, Jalan Citarum, Bandung Wetan, berdiri Patung Pastor Verbraak yang menyimpan kisah unik. Sosok yang diabadikan adalah Henricus Christiaan Verbraak, pastor Belanda kelahiran 28 Maret 1835 yang dikenal karena pengabdiannya kepada anak yatim dan tentara di medan perang.

Melansir arsip detikJabar dengan judul "Kisah Patung Pastor Verbraak yang Konon Bisa Bergerak", rupanya Verbraak tidak pernah tinggal di Bandung, ia hanya menjalankan pelayanan di Padang sejak 1872, lalu di Aceh dari 1874 hingga 1907.

Patung ini dibuat oleh seniman G.J.W. Rueb dan diresmikan pada 27 Januari 1922 di Mollukken Park, nama lama Taman Maluku. Lokasinya dipilih karena pada masa itu kawasan tersebut berkaitan dengan kehadiran militer kolonial di Bandung, sementara patung ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi kemanusiaan Verbraak.

Hingga kini, patung ini juga dikenal karena legenda urban yang menyebut patung tersebut bisa bergerak pada malam hari, meski cerita itu tidak memiliki dasar historis yang kuat.

7. Patung Maung Bandung

Di Simpang Braga, tidak jauh dari Balai Kota Bandung, berdiri sosok maung atau harimau putih yang kini menjadi salah satu penanda kawasan paling dikenal di pusat kota.

Patung Maung Bandung hadir bukan hanya sebagai hiasan jalan, melainkan sebagai simbol keberanian, ketangguhan, dan identitas masyarakat Sunda yang melekat erat pada julukan Bandung.

Mengutip dari beberapa sumber, tugu patung maung Bandung awalnya dibangun atas inisiatif Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil, pada akhir 2017. Keberadaannya juga berkaitan dengan upaya penataan kawasan cagar budaya, khususnya kawasan Braga yang telah lama menjadi salah satu wajah historis dan ikonik Kota Bandung.

Tak hanya itu, maung sendiri memiliki kedudukan khusus dalam budaya Sunda. Ia kerap dikaitkan dengan sosok Prabu Siliwangi dan menjadi simbol kekuatan yang juga digunakan oleh Kodam Siliwangi, bahkan melekat pada julukan Persib sebagai Maung Bandung.

Dengan demikian, patung ini tidak hanya menandai ruang publik, tetapi juga menghadirkan ingatan kolektif tentang keberanian dan semangat juang yang menjadi bagian dari identitas kota.

8. Patung Husein Sastranegara

Di Jalan Padjadjaran, dekat gerbang masuk utama Bandara Internasional Husein Sastranegara, berdiri patung yang mengenang salah satu perintis TNI Angkatan Udara Indonesia.

Patung ini mengabadikan sosok Husein Sastranegara, tokoh perjuangan yang namanya kini tidak hanya melekat pada bandara, tetapi juga pada sejarah penerbangan nasional.

Mengutip dari penelitian Isla, M. (2019), disampaikan bahwa Husein Sastranegara lahir di Cianjur pada 20 Januari 1919 dan gugur di Yogyakarta pada 26 September 1946 saat usianya baru 27 tahun.

Ia dikenal sebagai salah satu perintis TNI-AU bersama Agustinus Adisucipto, Halim Perdanakusuma, Abdulrahman Saleh, dan Iswahyudi.

Berdasarkan Keputusan Kasau Nomor 76 Tahun 1952, nama Husein Sastranegara diabadikan untuk Bandara Internasional Husein Sastranegara dan Pangkalan Udara Husein Sastranegara, menggantikan nama Pangkalan Udara Andir.

Patung ini pun dibangun untuk mengenang jasa serta pengabdiannya dalam dunia penerbangan dan perjuangan bersenjata pada masa revolusi.

Kehadirannya di dekat bandara memberi makna yang kuat. Setiap orang yang melintas di kawasan tersebut diingatkan bahwa nama besar sebuah bandara bukan sekadar penanda tempat, melainkan juga penghormatan bagi sosok yang rela mengorbankan nyawanya bagi kemerdekaan Indonesia.

9. Patung Kereta Jerman Hartmann

Di gerbang selatan Stasiun Bandung, sebuah lokomotif uap tua berdiri megah sebagai monumen. Masyarakat sering menyebutnya Patung Kereta Jerman Hartmann, meski nama resmi monumen tersebut adalah Purwa Aswa Purba.

Arsip detikJabar dengan judul "Purwa Aswa Purba, Lokomotif Bersejarah yang Mejeng di Stasiun Bandung", lokomotif yang dipajang tersebut adalah lokomotif uap model TC 10 dengan nomor TC 10.08. Lokomotif ini dibuat oleh perusahaan kereta api asal Jerman, Hartmann.

Pada kurun waktu 1915 hingga 1922, Staats Spoorwegen (SS), operator kereta api pada masa itu, mendatangkan 15 unit lokomotif TC 10. Lokomotif tersebut digunakan untuk melayani jalur rel berukuran 600 mm di Jawa Barat, termasuk rute Cilamaya-Cikampek, Cikampek-Wadas, Karawang-Rengasdengklok, dan Karawang-Wadas, hingga sejumlah rute di Jawa Timur.

Monumen Purwa Aswa Purba diresmikan pada 28 September 1992, bertepatan dengan ulang tahun ke-47 Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), oleh Direktur Utama Perumka saat itu, Anwar Supriyadi. Dari 15 unit lokomotif TC 10 yang pernah beroperasi, kini hanya tersisa tiga unit, dan salah satunya adalah lokomotif yang berada di Stasiun Bandung.

Kehadirannya di depan stasiun menjadikannya bukan sekadar benda peninggalan, tetapi juga pengingat bahwa Bandung memiliki peran penting dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Lokomotif itu seolah membisikkan kisah tentang masa ketika kereta uap menjadi tulang punggung mobilitas, ekonomi, dan konektivitas antarkawasan.

10. Patung Dinosaurus Taman Lansia

Di Taman Lansia, Jalan Cilaki, berdiri patung dinosaurus raksasa berjenis T-Rex yang kerap menjadi sasaran foto pengunjung. Patung ini mungkin terasa berbeda dari monumen-monumen pahlawan di Bandung, tetapi kehadirannya menyimpan kisah menarik tentang ruang publik, seni, dan respons warga terhadap perubahan kota.

Mengutip dari beberapa sumber, replika dinosaurus tersebut memiliki berat sekitar 1.200 kilogram. Patung ini semula berada di Taman Alun-Alun Ujung Berung, namun kemudian dipindahkan setelah mendapat protes dari sebagian warga dan budayawan setempat.

Patung tersebut dibentuk pada pertengahan Juni 2016. Meski sempat menuai kontroversi, tidak sedikit warga Bandung yang justru antusias dan menjadikannya tempat rekreasi keluarga atau sekadar tempat berfoto.

Taman Lansia sendiri bukan kawasan baru. Mengutip penelitian Utama, H. S., & Bella, P. A. (2025), taman ini telah berdiri sejak 1885 dan dahulu dikenal sebagai Taman Cisangkuy karena berada di kawasan Jalan Cisangkuy dan Jalan Cilaki.

Kini, di tengah suasana taman yang rindang, sosok dinosaurus tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang berkunjung.

Kehadiran patung ini menunjukkan bahwa sejarah sebuah kota tidak selalu hadir melalui monumen pahlawan atau bangunan kolonial. Terkadang, ia juga muncul lewat objek yang memicu perdebatan, mengundang tawa, dan akhirnya menjadi bagian dari memori warga tentang ruang publik di Bandung.

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads