Sejarah Banteng Jawa di Cagar Alam Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Jumat, 20 Mar 2026 06:00 WIB
Kawasan Lapangan Banteng TWA Cagar Alam Pangandaran. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Taman Wisata Alam (TWA) Cagar Alam Pangandaran menyimpan banyak catatan sejarah, salah satunya soal keberadaan banteng Jawa (Bos javanicus) di kawasan tersebut. Menariknya, lokasi ini sebenarnya bukanlah habitat asli satwa tersebut.

Lalu, bagaimana sejarah perjalanan banteng Jawa hingga bisa berlabuh di Semenanjung Pananjung, Pangandaran? Berikut adalah rangkuman perjalanannya dari masa ke masa.

Tahun 1922

Kawasan perladangan penduduk di sekitar Pantai Pangandaran diusulkan Y. Eycken, yang menjabat sebagai Residen Priangan, untuk dijadikan taman baru. Saat itu, dimasukkan satu banteng jantan, tiga sapi Bali betina, dan beberapa rusa Timor (Cervus timorensis). Lokasi pelepasan ini kini dikenal sebagai Taman Sabana Banteng karena hamparan rumput hijaunya yang luas menyerupai sabana di pegunungan atau Bukit Teletubbies.

Tahun 1934

Pemerintah Hindia Belanda melepaskan sekitar 60 hingga 80 banteng. Saat itu, kawasan Pananjung difungsikan sebagai hutan buru.

Tahun 1979

Hasil inventarisasi populasi oleh Seksi PPA Jawa Barat menunjukkan jumlah banteng di Cagar Alam Pangandaran masih berkisar antara 60 hingga 90 ekor.

Tahun 1982

Populasi terjaga dengan baik hingga terjadinya letusan dahsyat Gunung Galunggung pada 5 Mei 1982. Letusan yang berlangsung selama sembilan bulan tersebut membawa dampak buruk bagi ekosistem di sekitarnya. Sejak saat itu, populasi banteng terus menurun drastis.

Tahun 1986

Populasi banteng menyusut hingga hanya tersisa 5 ekor (4 jantan dan 1 betina).

Tahun 2003-2021

Pada tahun 2003, hanya tersisa 1 banteng jantan. Untuk menjaga kelestarian, dilakukan introduksi sapi Bali yang memiliki karakteristik fisik mirip dengan banteng. Namun, jumlahnya terus berkurang hingga pada tahun 2021 hanya tersisa 1 sapi Bali betina.

Tahun 2024

Setelah hampir lima tahun hanya tersisa satu individu, pada 11 Desember 2024, Kementerian Kehutanan bersama Taman Safari Indonesia melepasliarkan 4 banteng Jawa (2 jantan dan 2 betina). Program reintroduksi ini bertujuan mengembalikan peran ekologis satwa tersebut pasca-letusan Galunggung 1982.

Harapan Baru: Kelahiran Anak Banteng Pertama

Sementara itu, baru tujuh bulan menetap di TWA Cagar Alam Pangandaran, seekor anak banteng Jawa berjenis kelamin betina lahir belum lama ini. Kepala Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pangandaran, Kusnadi, menyatakan bahwa kelahiran ini merupakan harapan baru bagi habitat dan populasi banteng Jawa yang berstatus terancam punah.

"Kelahiran ini adalah yang pertama sejak Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran diresmikan. Induknya, Uchi, berasal dari Taman Safari Indonesia Bogor," ujar Kusnadi, Selasa (3/3/2026).

Sementara itu, pencinta alam Pangandaran, Hadiat Kelsaba, menyebut sejarah banteng Jawa di Cagar Alam wajib dilestarikan.

Menurutnya, penurunan populasi terparah terjadi akibat dampak abu vulkanik letusan Gunung Galunggung yang membuat satwa sulit mencari makan. Selain itu, beberapa sumber menyebutkan banteng-banteng tersebut mati karena terperosok ke dalam jurang-jurang dalam di kawasan hutan.

Kini, dengan program reintroduksi yang menerapkan konsep semi-alami, diharapkan populasi banteng Jawa di Pangandaran dapat pulih dan menjadi daya tarik baru bagi wisata alam berbasis konservasi.




(orb/orb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork