Riuh langkah penumpang memenuhi sudut Stasiun Bandung menjelang Lebaran. Tas-tas besar ditarik tergesa, suara pengumuman bersahutan, dan wajah-wajah penuh harap tampak di setiap peron.
Di tengah hiruk pikuk itu, Rian Cahya berjalan sigap, membantu satu per satu penumpang yang membutuhkan tenaganya. Sudah hampir 18 tahun Rian menjalani profesi ini.
Sejak 2006, ia akrab dengan beratnya barang bawaan penumpang, sekaligus kisah-kisah perjalanan yang datang dan pergi. Namun, di balik rutinitas itu, ada satu hal yang terus ia tahan setiap tahunnya: keinginan untuk pulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjelang Lebaran, suasana stasiun mulai terasa berbeda. Penumpang perlahan meningkat, meski menurutnya belum terlalu melonjak dalam penggunaan jasa porter.
"Sejauh ini ya alhamdulillah kalau penumpang sudah kelihatan sih. Tapi ya di sisi lain ya yang pakai saja porter itu belum ada lonjakan," kata Rian saat berbincang dengan detikJabar belum lama ini.
Rutinitas Rian pun tak ringan. Ia mulai bekerja sejak pukul 08.30 pagi hingga keesokan harinya di jam yang sama. Sistem kerja bergantian membuatnya harus siap menjalani shift panjang demi mengais rezeki.
"Mulai jam 8.30 pagi, sampai 9 besok pagi, soalnya ada 2 grup di sini, jadi sehari masuk sehari libur, gantian dengan grup satunya," tuturnya.
Dalam sehari, jumlah penumpang yang ia bantu tak menentu. Kadang ramai, kadang sepi. Namun bagi Rian, semua tetap disyukuri. "Tergantung, kalau lagi banyak ya Alhamdulillah, kalau lagi kurang tetap Alhamdulillah," ujarnya.
Sebagai porter resmi, ia mengikuti tarif yang telah ditentukan yakni Rp38 ribu. Namun bagi Rian, pekerjaan ini bukan sekadar soal tarif. Ada nilai kemanusiaan yang ia pegang sejak lama.
Ia masih mengingat satu momen yang membekas dalam hidupnya ketika membantu seorang perempuan yang hendak pulang ke Malang.
"Dia itu dibelikan tiket sama kakaknya di kampung, saya ketemu di depan dia bawa barang banyak. Saya tanya dia mau kemana, katanya mau ke Malang, itu pertama kali naik kereta kata dia," kenangnya.
Saat itu, perempuan tersebut bahkan tak memiliki cukup uang untuk perjalanan panjangnya. Rian pun memilih membantu tanpa pamrih.
"Karena niatnya bantu ya sudah bantu aja sampai naik kereta dia cuma punya uang Rp20 ribu. Mana cukup kan uang segitu sampai malang, perjalanan jauh ya. Kebetulan saya lagi ada rezeki saya belikan minum dan makanan untuk di kereta dan saya kasih tambahan buat bekal dia, masih ingat Rp45 ribu itu," jelasnya.
Bertahun-tahun kemudian, kejadian tak terduga terjadi. Perempuan itu kembali ke Bandung dan mencarinya dan membalas kebaikan Rian meski tak pernah ia harapkan.
"Ternyata dia kembali lagi ke Bandung, nyari saya, dia ingat nomor seragam saya, saya mah udah lupa karena udah lama. Di situ dia kasih saya rezeki Alhamdulillah," katanya.
Sejak saat itu, Rian punya prinsip sederhana dalam bekerja yakni siap membantu siapapun, tanpa pamrih. "Makanya sampai sekarang saya kalau ada penumpang kalau dia perlu bantuan saya pasti bantu, gak mikirin tarif. Itu yang jadi pegangan saya jadi porter di sini," ujar Rian.
Namun, di balik ketulusan itu, ada pengorbanan besar yang harus ia jalani. Lebaran tahun ini, Rian kembali harus mengubur keinginannya untuk mudik ke kampung halaman di Sumedang.
"Rencana mah ada tapi kayaknya belum bisa. Soalnya pertama istri kan lagi bantu sodara yang punya tempat makan, dia juga gak pulang sama anak di tempat sodara," katanya.
Keputusan itu bukan hal baru baginya. Bahkan, momen Lebaran di kampung sudah lama tak ia rasakan. "Tahun lalu juga gak mudik sebenarnya. Terakhir lebaran di kampung itu udah lama banget, 2012 kalau gak salah," ucap Rian.
Sebagai seorang ayah dari empat anak, Rian memilih bertahan demi kebutuhan keluarga. Meski hatinya tetap tertambat pada kampung halaman.
"Ya setiap orang kan pasti mau mudik, kumpul sama keluarga. Cuma kita ya bukan gak mau begitu, tapi kita kan mikir ekonomi ya. Orang tua sebenarnya ngomong, udah pulang aja, tapi kita gak mau jadi beban orang tua," ungkapnya.
Untuk mengobati kerinduan itu, Rian hanya bisa mengandalkan gawai miliknya untuk melakukan panggilan video. Tapi setelah panggilan ditutup, kerinduan itu tak pernah benar-benar hilang.
"Ya paling video call. Misal lagi istirahat ni, kita video call mereka. Pas video call mah gak kenapa-kenapa, masih bisa ketawa-ketawa. Tapi pas selesai, baru kita keluar air mata," katanya sambil senyum.
(bba/dir)











































