Mata Air Cikahuripan di Karawang yang Tak Biasa

Mata Air Cikahuripan di Karawang yang Tak Biasa

Irvan Maulana - detikJabar
Senin, 03 Okt 2022 06:00 WIB
Mata Air Cikahuripan di Karawang.
Mata Air Cikahuripan di Karawang. (Foto: Irvan Maulana/detikJabar)
Karawang -

Di Dusun Bojongmanggu, Desa Cintawargi, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang terdapat Mata Air Cikahuripan. Mata air ini jadi sumber kehidupan bagi warga di tiga desa.

Mata air ini menjadi satu-satunya yang istimewa di Karawang. Sebab berasal dari akar pohon dan airnya tak pernah surut, sekalipun di musim kemarau panjang.

Sesepuh Dusun Bojongmanggu, Ustadz Adom Domiri menuturkan, Mata Air Cikahuripan menjadi tumpuan bagi masyarakat.


"Di sini memang banyak yang mengambil air, karena selain airnya bagus, Mata Air Cikahuripan tak pernah surut," kata Adom, saat ditemui di mata air Cikahuripan, Minggu (2/10/2022).

Seperti diketahui, ketika musim kemarau tiba, daerah Karawang selatan memang sering terdampak kekeringan, bahkan sering terjadi kebakaran hutan.

Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, kemarau terparah tercatat pada tahun 2007. Saat itu belasan desa di Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru dilanda kekeringan.

Desa yang paling rawan kekeringan yakni, Desa Cintalanggeng, dan Cintalaksana. Selain itu, beberapa kali pernah terjadi kebakaran hutan di gunung Sinalanggeng dan hutan Cipicung, yang berada di wilayah desa tersebut.

Adom mengatakan, saat kekeringan terjadi, Mata Air Cikahuripan menjadi salah satu tumpuan masyarakat. Mata air ini memenuhi kebutuhan air bersih kurang lebih untuk 10 ribu jiwa masyarakat di tiga desa.

"Kalau mandi dan mencuci masyarakat masih biasa ngambil air di kali Cigeuntis, kalau disini biasanya untuk masak dan minum, dulu juga pernah diteliti oleh kampus, katanya air Cikahuripan bisa diminum tanpa harus dimasak," tuturnya.

Seperti terlihat di lokasi, istimewanya mata air ini, selain berasal dari pegunungan, mata air juga terlihat keluar melalui akar pohon yang sangat besar.

"Ini mata air pegunungan, keluarnya memang dari akar pohon lame, saya nggak tahu persis kapan tumbuh pohon ini. Yang jelas sudah ada sejak tahun 1940, berdasarkan cerita Abah saya," ucap Adom.

"Ya istimewanya bukan airnya, kalau saya bilang pohonnya ini juga istimewa, karena sudah berusia tua juga masih berdiri tegak. Kabarnya sempat ada yang mau nebang untuk diambil kayunya, itu sekitar tahun 1960-an, saya masih kecil. Waktu itu juga nggak jadi karena nggak ada yang sanggup nebang," ungkapnya.

Terpisah, Fajar (26) warga Cintalanggeng, Kabupaten Karawang mengatakan, ia mengambil air di Cikahuripan rutin dua kali dalam sepekan.

"Saya tinggal di Cintalanggeng, tak ada hujan sebulan saja memang sumur di rumah kering, di sinilah tempat saya ngambil air pake jerigen," kata Fajar.

Ia menuturkan, perbedaan air di Cikahuripan dan di mata air lain sangat jelas. Pasalnya airnya terasa lebih sejuk.

"Air di sini beda, selain jernih, airnya juga sejuk, untuk diminum pun bisa," ucapnya.

Sementara pedagang di Mata Air Cikahuripan, Ani (30) menuturkan, kebanyakan orang datang ke lokasi mulai sore hingga malam hari.

"Pagi sampai siang itu cuma satu dua orang aja. Kalau sore, sampai jam 8 malam itu biasanya cukup rame, ada yang harus antri," kata Ani.

(orb/orb)