'Yang Ramai di Lapangan, Kok di Tribun Juga Ditembak Gas Air Mata?'

Kabar Nasional

'Yang Ramai di Lapangan, Kok di Tribun Juga Ditembak Gas Air Mata?'

Tim detikJatim - detikJabar
Senin, 03 Okt 2022 15:52 WIB
Tragedi Kanjuruhan: Kronologi, Penyebab dan Jumlah Korban
Tragedi Kanjuruhan (Foto: AFP via Getty Images/STR)
Malang -

Korban-korban yang selamat dari tragedi Kanjuruhan, Malang mulai membuat pengakuan-pengakuan. Ada yang masih trauma, ada yang berusaha tegar meski mengalami luka.

Salah seorang Aremania, Muhammad Reko Septiyan (19) asal Manyar, Gresik harus menjalani operasi di salah satu rumah di Malang. Tulang kaki kirinya patah karena terinjak-injak.

Ia terinjak-injak ketika semua penonton di tribun 12 panik, menghindari gas air mata dan berusaha keluar. Namun nahasnya, pintu terkunci sehingga harus pasrah terinjak-injak.


Faisol, ayah Reko menceritakan kepada detikJatim, soal pengakuan kawan-kawan anaknya yang turut terjebak di tribun 12 Stadion Kanjuruhan. Tempat di mana gas air mata menghujani mereka.

Dari teman putranya, ia mendapat cerita bahwa polisi menembakkan gas air mata secara langsung ke arah tribun tempat mereka berada.

"Menurut cerita teman-teman anak saya, saat kerusuhan terjadi polisi menembakkan beberapa kali gas air mata. Salah satunya ke tribun 12, tempat anak saya menonton pertandingan," kata Faisol, Minggu (2/10/2022) seperti dikutip dari detikJatim.

Setelah gas air mata itu ditembakkan, banyak penonton yang pingsan karena sesak napas. Pekatnya asap gas air mata membuat penonton lain panik dan berdesakan mencari jalan keluar. Belum lagi, banyak penonton yang pingsan.

"Padahal yang ada di tribun itu, kan, aman-aman saja harusnya. Yang ramai, kan, di lapangan. Tapi kok yang di tribun juga ditembak gas air mata? Banyak yang pingsan karena sesak napas itu," tambah Faisal.

"Jadi gas air mata itu ditembak sana di tembak sini. Otomatis membuat asap gas air mata itu semakin berkumpul di tribun. Tentu hal ini membuat orang enggak bisa bernapas. Karena itulah orang-orang itu berdesakan mencari jalan keluar," tambah Faisol.

Saat penonton berupaya berlari menuju ke pintu keluar untuk mengambil napas, mereka berdesakan hingga saling dorong. Ada yang terjatuh hingga terinjak dan tertindih. Belum lagi, pintu keluar itu ternyata dalam keadaan terkunci.

"Jadi pintu keluar itu dalam keadaan terkunci. Membuat orang-orang itu jatuh, terinjak-injak hingga tertindih penonton lain. Itu yang membuat banyak korban meninggal. Ada yang kepalanya berdarah karena desakan hingga terbentur," katanya.

Menurut Faisol, tindakan polisi menembaki suporter dengan gas air mata langsung ke tribun telah melanggar aturan. Ia pun menuntut agar PSSI bertanggung jawab atas tragedi ini.

"Pihak PSSI juga harus bertanggung jawab. Karena bagaimana selama ini penekanan PSSI terhadap pertandingan bola. Kan, ada larangan menembak gas air mata di tribun," kata Faisol.

Artikel ini telah tayang di detikJatim dengan judul Kesaksian Nyesek Aremania Hindari Gas Air Mata Tapi Pintu Stadion Terkunci



Simak Video "Melihat Tribun 12, Saksi Bisu Mencekam Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/yum)