Sukabumi

Tangis Keluarga Pecah Saat Pesepakbola Tewas Tersambar Petir

Siti Fatimah - detikJabar
Minggu, 14 Agu 2022 14:35 WIB
Edi Kurnia, pesepak bola yang tersambar petir di Sukabumi.
Edi Kurniawan (kanan), pesepakbola yang tewas tersambar petir di Sukabumi (Foto: Istimewa).
Sukabumi -

Suasana haru menyeruak ketika datang kabar duka mengenai Edi Kurniawan (45), pesepakbola yang tewas tersambar petir di Lapang Korpri, Sukabumi pada Sabtu (13/8). Saat ini, jenazah sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) di dekat rumah keluarga.

Derai air mata keluarga dan peziarah pun ikut tumpah saat berkunjung ke rumah duka di Kampung Cangkorah, Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi. Mira (31) adik kandung Edi tak dapat menahan tangis dan masih belum percaya kakaknya telah meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya.

"Hoyong dihapunten nya uwa si aa (Mohon dimaafkan kesalahan almarhum ya paman)," kata dia kepada salah satu pelayat.


Dia mengatakan awal mula mengetahui kabar duka kakaknya itu dari orang tua siswa asuhan SSB (Sekolah Sepakbola) Magma FC.

"Ngasih tahu ke bapak (ayah korban), katanya 'si aa itu kena petir,' kita teh nggak percaya, di telepon (nomor korban) nggak aktif hpnya," kata Mira saat ditemui detikJabar, Minggu (14/8/2022).

Lebih lanjut, orang tua siswa tersebut merasa segan untuk mengabarkan kakaknya sudah tiada. Mereka diajak untuk datang ke RS Betha Medika, tempat jenazah dibawa dari Lapang Korpri.

"Sudah gitu kita mau berangkat, ada orang tua siswa lain ke sini ditanya gimana? Bilang Pak Edi sudah meninggal, orang lain sudah pada tahu sedangkan kita keluarganya baru tahu," ujarnya.

Dia menceritakan, pertemuan terakhir dengan sang kakak pada hari saat peristiwa sambaran petir terjadi. Menurutnya, Edi sangat dekat dengan anaknya yang berusia 8 tahun hingga memanggilnya dengan sebutan Ayah.

"Da berangkatnya mah biasa. Terakhir ketemu hari Jumat, saya titip anak mau dianterin sekolah. Ketemu lagi kemarin tapi nggak ngobrol, cuman ke anak aja bilang 'Ayah berangkat,' ke anak saya bilangnya ayah," ucapnya.

Tangis anaknya pun pecah saat tahu pamannya meninggal. "Asalnya nggak tahu (anak Mira) terus tahu. Dia dengar ada ambulans ke sini 'Ayah teh meninggal?' Dia nangis kejer-kejer, soalnya dari kecil sama almarhum karena almarhum nggak punya anak," tuturnya.

Edi merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Mira mengenal kakaknya sebagai sosok yang baik dan tak pernah memiliki masalah dengan orang lain.

Selain itu, kakaknya sangat menyukai sepakbola hingga semasa hidupnya berkarir di bidang sepakbola.

"Dari kecil suka bola, sekarang jadi pelatih di Magma FC. Baik, nggak pernah banyak ngomong, nggak neko-neko. Nggak pernah punya masalah sama siapapun," kata dia.

Tak hanya aktif di SSB Magma FC, sehari-harinya almarhum bekerja sebagai pedagang perlengkapan olahraga seperti sepatu dan seragam tim.

"Pekerjaan di sini kan jualan sepatu bola, terus ada yang pesen baju tim bola. Jadi setiap hari, hari Selasa ngelatih ke Magma. Yang pesan apa-apa ke sini," tutup Mira.

Kini, kata dia, hanya bisa berdoa agar kakaknya mendapatkan tempat peristirahatan terbaik di sisi Allah. Rencananya, kegiatan tahlilan akan dilaksanakan pada sore hari ini hingga 7 hari ke depan.

(mso/mso)