Hidup di tahun 2026 memang serba sat-set. Buat Generasi Z, makanan cepat saji atau minuman manis sering jadi penyelamat di tengah jadwal padat karena praktis dan gampang dicari. Belum lagi godaan tren kuliner yang sliweran di media sosial, rasanya sayang banget kalau nggak ikutan coba.
Tapi di balik tampilannya yang estetik dan rasanya yang nagih, banyak makanan favorit Gen Z, mulai dari fast food sampai makanan olahan (ultra-processed food) yang menyimpan 'bom' tersembunyi. Kandungan gula tambahan, lemak jenuh, dan kalorinya tergolong tinggi. Kalau keseringan dikonsumsi, taruhannya adalah kesehatan jantung dan pembuluh darah kita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang, menjaga kolesterol tetap aman itu gampang-gampang susah. Kadang kita bingung mana makanan yang benar-benar oke buat jantung dan mana yang harus dikurangi. Melansir data dari Everyday Health yang merujuk pada American Heart Association hingga Journal of Nutrition, ada beberapa kategori makanan yang perlu diwaspadai karena bisa memicu kolesterol tinggi.
Melansir detikHealth, simak 5 makanan dan minuman favorit anak muda yang sebaiknya dikonsumsi lebih bijak mulai sekarang.
1. Pastry dan Donat
Siapa yang bisa nolak aroma pastry atau donat yang baru matang? Sayangnya, camilan cantik ini biasanya tinggi gula tambahan dan lemak jenuh dari mentega. Bahkan, ada juga yang pakai margarin dengan kandungan lemak trans, tergantung bahannya.
Donat punya risiko ekstra karena proses masaknya digoreng deep frying. Menurut Taylor, donat itu isinya gula dan pati olahan yang digoreng, jadi lemaknya makin berlipat ganda. Bayangkan, satu donat berlapis gula saja bisa mengandung 26 gram gula, 306 kalori, dan 13 gram lemak. Padahal, Kemenkes menyarankan batas konsumsi gula harian cuma 50 gram atau sekitar 4 sendok makan. Makan dua donat saja sudah hampir melewati batas aman harian kita.
Ilustrasi donat Foto: Getty Images/iStockphoto/AnjelaGr |
2. Kentang Goreng dan Burger
Duo maut ini memang paling juara buat makan siang praktis. Tapi, kandungan lemaknya nggak main-main kalau jadi menu rutin. Melansir Verywell Health, gorengan mengandung lemak jenuh dan berpotensi mengandung lemak trans akibat proses hidrogenasi minyak, meski kadarnya beda-beda di tiap resto.
Burger pun sama. Kalau dagingnya berlemak ditambah topping keju dan saus yang melimpah, lemak jenuhnya bakal melonjak. Satu porsi kentang goreng ukuran sedang punya sekitar 2,7 gram lemak jenuh, sementara lemak trans di burger bisa mencapai 0,7 gram.
"Semakin sedikit lemak jenuh berbasis hewan yang kita konsumsi, semakin baik untuk kesehatan kita," kata asisten profesor di UCLA Fielding School of Public Health, Dana Hunnes, PhD.
Ahli diet Ashlee Boric juga menyarankan kita buat beralih ke protein yang lebih rendah lemak, seperti daging tanpa lemak atau ayam tanpa kulit.
3. Boba dan Susu Gula Aren
Minuman dengan topping kenyal dan rasa manis gula aren memang susah buat ditolak. Tapi ingat, minuman ini biasanya pakai susu full cream, krimer, dan gula tambahan yang banyak. Gula berlebih bisa menaikkan kadar trigliserida, sedangkan lemak jenuhnya bisa memicu kolesterol jahat (LDL).
Studi di The Journal of Nutrition (2022) yang melibatkan 29.000 orang membuktikan bahwa minum minuman manis lebih dari satu porsi (sekitar 350 ml) sehari berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung. Bahkan, segelas besar boba bisa mengandung 47,21 gram gula dan 675 kkal. Itu artinya, satu gelas saja sudah hampir menghabiskan jatah gula harian kamu. Tipsnya? Coba pesan yang less sugar, pilih ukuran kecil, dan jangan minum setiap hari.
Raw Dry Organic Tapioca Pearl Balls in a Bowl Foto: iStock |
4. Seblak
Makanan pedas kebanggaan warga lokal ini memang juara soal rasa. Tapi, sehat atau tidaknya seblak tergantung apa yang kamu masukkan ke dalam mangkuk. Kerupuk yang jadi bahan utama itu asalnya dari tepung dan sifatnya menyerap minyak. Belum lagi kalau ditambah sosis, bakso, dan jeroan yang tinggi garam serta lemak.
Terlalu banyak makan tepung olahan memang kurang oke buat metabolisme. Spesialis penyakit dalam dr. Yunita Indah Dewi, SpPD, menyarankan agar kita lebih ngerem makan tepung-tepungan.
"Iya, baiknya dikurangi konsumsi makanan mengandung tepung, mungkin seminggu sekali," kata dr. Yunita kepada detikcom beberapa waktu lalu.
Biar lebih sehat, coba kurangi minyaknya dan perbanyak sayur serta protein asli sebagai topping.
5. Camilan Mozzarella dan Olahan Keju
Dari corndog sampai mi instan, semuanya sekarang pakai keju leleh. Rasanya memang gurih, tapi keju tetaplah sumber lemak jenuh. Sebagai gambaran, keju mozzarella bebas lemak punya 18 mg kolesterol, sedangkan cheddar bebas lemak sekitar 5 mg.
"Satu ons keju dapat memberikan sekitar 5 gram lemak jenuh, tergantung jenis kejunya," ungkap ahli diet Alanna Cabrero. Masalahnya, kita sering kebablasan kalau makan keju. "Dan kebanyakan orang tidak hanya duduk dan makan sedikit (keju)," tambahnya.
Jadi, kuncinya adalah kontrol porsi dan jangan lupa imbangi dengan makanan berserat seperti buah dan sayur.
Pola Makan adalah Kunci
Bukan berarti kamu nggak boleh sama sekali makan makanan di atas. Intinya ada pada porsi, frekuensi, dan keseimbangan. Menjaga kolesterol bukan berarti hidup tanpa rasa, tapi lebih ke arah membatasi lemak jenuh, mengurangi gula, dan rajin gerak. Dengan pilihan yang lebih cerdas, kita tetap bisa menikmati tren kuliner 2026 tanpa harus mengorbankan kesehatan jantung di masa depan.
Artikel ini sudah tayang di detikHealth


