Video seorang anak sekolah yang makan di warung makan menarik perhatian di media sosial. Dalam video tersebut, sepiring nasi tampak menggunung dengan porsi yang cukup besar.
Porsi nasi seperti itu memang terlihat mengenyangkan, terutama setelah anak menjalani aktivitas sekolah sejak pagi. Namun, kebiasaan mengonsumsi nasi dalam jumlah besar setiap hari perlu mendapat perhatian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan konsumsi nasi dalam jumlah besar membuat tubuh menerima karbohidrat dalam jumlah tinggi dalam satu waktu.
"Kalau sebanyak ini, kalau jadi kebiasaan, bisa jadi masalah. Meskipun sekarang orangnya ngerasa sehat-sehat aja," ujar dr Yaze.
Porsi Nasi Besar Bisa Picu Lonjakan Gula Darah
Nasi menjadi salah satu sumber karbohidrat yang umum dikonsumsi sehari-hari. Setelah masuk ke tubuh, karbohidrat akan dicerna menjadi glukosa yang kemudian tubuh gunakan sebagai sumber energi.
Ketika seseorang mengonsumsi nasi dalam jumlah sangat banyak dalam satu waktu, tubuh menerima karbohidrat dalam jumlah lebih tinggi. Kondisi itu dapat membuat kadar gula darah meningkat setelah makan.
"Karbohidrat dalam jumlah besar bisa meningkatkan gula darah cukup tinggi setelah makan," jelas dr Yaze.
Menurut dr Yaze, kebiasaan tersebut perlu mendapat perhatian jika terus berlangsung. Konsumsi nasi dalam jumlah besar secara berulang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, prediabetes hingga diabetes.
Resistensi insulin terjadi ketika tubuh tidak merespons insulin secara optimal untuk membantu mengatur kadar gula darah.
"Kalau berlangsung terus-menerus, bisa meningkatkan resiko resistensi insulin, prediabetes, sampai diabetes," kata dr Yaze.
Awalnya Bisa Tanpa Gejala
Masalah pengaturan gula darah pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang khas. Seseorang masih dapat merasa sehat meskipun tubuh mulai mengalami gangguan dalam mengatur kadar gula darah.
Ketika kondisi tersebut mulai menimbulkan gejala, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
- Sering haus
- Sering buang air kecil
- Sering lapar
- Mudah lelah
Karena itu, tubuh yang tetap terasa sehat setelah terbiasa mengonsumsi nasi dalam porsi besar tidak otomatis menunjukkan bahwa pola makan tersebut aman jika terus dilakukan.
Nasi Tetap Boleh Dikonsumsi
Dr Yaze menegaskan masyarakat tetap dapat mengonsumsi nasi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Hal yang perlu diperhatikan ialah jumlah nasi dan kesesuaiannya dengan kebutuhan tubuh.
"Jadi, nasi bukan berarti nggak boleh, tapi harus sesuai dengan kebutuhan tubuh kita," ujar dr Yaze.
Selain mengatur porsi nasi, masyarakat juga perlu menjaga keseimbangan isi piring. Lauk dapat menjadi sumber protein, sedangkan sayuran dan buah melengkapi kebutuhan gizi.
Pedoman Gizi Seimbang melalui panduan Isi Piringku dapat membantu masyarakat mengatur porsi makanan dalam sekali makan. Dengan pola tersebut, nasi tidak mendominasi isi piring dalam jumlah berlebihan.
Baca juga: 4 Kebiasaan Pagi yang Picu Gangguan Ginjal |
Bagi anak sekolah, kebutuhan energi tetap penting untuk mendukung aktivitas dan pertumbuhan. Karena itu, porsi nasi perlu menyesuaikan kebutuhan energi, usia, aktivitas fisik, serta keseluruhan pola makan dalam sehari.
Nasi juga tidak perlu dihindari hanya karena kekhawatiran terhadap gula darah. Yang terpenting, konsumsi nasi tetap sesuai kebutuhan tubuh dan tidak berubah menjadi kebiasaan mengonsumsi karbohidrat secara berlebihan dalam satu waktu.
Baca berita selengkapnya di detikHealth.
(mal/sud)
