4 Kebiasaan Pagi yang Picu Gangguan Ginjal

4 Kebiasaan Pagi yang Picu Gangguan Ginjal

detikHealth - detikJabar
Minggu, 30 Agu 2026 07:30 WIB
Kidney disease, Chronic kidney disease ckd, Female doctor explains the causes of the disease and treatment guidelines on kidney model to female asian patient at desk at urology hospital room.
Ilustrasi kesehatan ginjal. (Foto: Getty Images/Nansan Houn)
Jakarta -

Ginjal menjadi salah satu organ vital yang berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh. Organ ini menyaring darah, membuang cairan berlebih, sekaligus membantu mengeluarkan limbah dari tubuh melalui urine.

Karena itu, menjaga kesehatan ginjal perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Sejumlah rutinitas pada pagi hari yang terlihat sepele ternyata dapat meningkatkan beban kerja ginjal jika dilakukan terus-menerus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, kebiasaan apa saja yang perlu dihindari untuk menjaga kesehatan ginjal?

1. Menahan Buang Air Kecil

Kandung kemih dapat terisi penuh selama tidur. Kondisi tersebut kemudian memicu keinginan buang air kecil ketika seseorang bangun.

ADVERTISEMENT

Menunda buang air kecil terlalu lama dapat memberi tekanan pada kandung kemih dan ginjal. Kebiasaan menahan urine dalam waktu lama juga dapat melemahkan otot kandung kemih dan meningkatkan risiko infeksi.

Jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu jaringan ginjal. Ginjal juga dapat menghadapi tekanan lebih besar ketika tubuh akhirnya mengeluarkan urine.

"Jangan pernah menahan buang air kecil terlalu lama di pagi hari, dan jangan lakukan hal tersebut sepanjang hari," kata ahli urologi di India Dr Venkatsubramaniam, dikutip dari Times of India, Selasa (25/8/2026).

2. Tidak Minum Air Putih Setelah Bangun

Tubuh dan ginjal mengalami dehidrasi ringan setelah tidak mendapatkan asupan cairan selama tidur. Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk menjalankan fungsi penyaringan darah dan membuang limbah dari tubuh.

Karena itu, tubuh perlu segera mendapatkan asupan cairan setelah bangun tidur. Kebiasaan langsung mengonsumsi kopi atau teh tanpa minum air putih terlebih dahulu dapat membuat asupan cairan pagi hari tidak optimal.

"Awali hari dengan setidaknya segelas air putih daripada memilih kopi atau teh," ujar Dr Venkatsubramaniam.

Ia juga menekankan bahwa menjaga tubuh tetap terhidrasi pada pagi hari dapat membantu memulai metabolisme, mendukung pencernaan, dan menjaga energi sepanjang hari.

Minum air setelah bangun tidur juga dapat membantu menjaga kejernihan pikiran, mengurangi rasa lelah, serta mendukung proses pembuangan zat sisa dari tubuh.

3. Mengonsumsi Obat Pereda Nyeri Saat Perut Kosong

Ibuprofen dan aspirin kerap digunakan untuk meredakan sakit kepala atau nyeri tubuh pada pagi hari. Namun, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) atau non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) perlu dilakukan secara bijak.

Obat tersebut dapat mengurangi aliran darah menuju ginjal. Penggunaan berulang dapat meningkatkan risiko peradangan dan kerusakan ginjal.

"Obat pereda nyeri dapat membahayakan ginjal jika tidak digunakan secara bijak, terutama jika dikonsumsi saat perut kosong," katanya.

Mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa makanan juga dapat memberikan tekanan tambahan pada tubuh karena tidak ada asupan makanan yang mendampingi obat tersebut.

4. Melewatkan Sarapan Sehat

Orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan atau memiliki aktivitas padat terkadang memilih melewatkan sarapan.

Tidak makan dalam waktu lama dapat memengaruhi keseimbangan kadar gula darah dan meningkatkan produksi asam dalam tubuh. Kondisi tersebut dapat menambah beban kerja ginjal karena organ tersebut turut membantu menjaga keseimbangan kimiawi tubuh dan membuang zat sisa.

"Dengan melewatkan sarapan, seseorang cenderung mengonsumsi camilan tinggi garam yang memiliki kandungan natrium sangat tinggi," ungkap Dr Venkatsubramaniam.

Sarapan dengan menu seimbang dapat memberikan nutrisi penting untuk menjaga energi sekaligus mendukung proses metabolisme yang berkaitan dengan kesehatan ginjal.

Baca berita selengkapnya di detikHealth.

(avk/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads