'Sekte' Bubur Pakai Mentimun Khas Tasikmalaya

'Sekte' Bubur Pakai Mentimun Khas Tasikmalaya

Faizal Amiruddin - detikJabar
Jumat, 17 Apr 2026 09:30 WIB
Bubur ayam pakai mentimun di Tasikmalaya.
Bubur ayam pakai mentimun di Tasikmalaya. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)
Tasikmalaya -

Sebagai salah satu kekayaan kuliner Nusantara, bubur ayam tentu sudah tak asing bagi masyarakat Indonesia. Diperkenalkan oleh warga Tionghoa, makanan berbahan dasar beras itu sudah ada sejak berabad-abad lalu. Maka tak heran jika dalam perjalanannya, muncul beragam kreasi, rupa-rupa modifikasi hingga dualisme cara menyantap, diaduk dan tidak diaduk.

Tasikmalaya termasuk daerah yang memiliki keunikan dalam urusan bubur ayam. Salah satu ciri khasnya adalah taburan atau topping mentimun. Serius, di sini perdebatan buka soal bubur diaduk atau tidak diaduk, tapi pakai mentimun atau tidak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penasaran dengan cerita lengkapnya? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Mentimun (dalam bahasa Sunda disebut bonteng), yang selalu jadi perdebatan apakah termasuk sayur atau buah itu, menjadi andalan keunikan bagi mayoritas pedagang bubur ayam di Tasikmalaya. Mentimun mampu memperkaya rasa sajian bubur ayam khas Tasikmalaya.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, keunikan ini tak jarang membuat warga luar Tasikmalaya mengernyitkan dahi. Aneh, bisa-bisanya mentimun ada dalam komposisi bubur ayam.

Meski demikian, justru keanehan itu mengundang rasa penasaran, dan ketika lidah sudah terpaut bubur ayam dibontengan (diberi mentimun) khas Tasikmalaya, mereka jadi ketagihan.

Lantas bagaimana sejarahnya mentimun yang dicacah kotak-kotak kecil itu bisa masuk 'line-up' sajian bubur ayam Tasikmalaya? Mengapa sayuran bernama latin Cucumis sativus itu bisa berdampingan dengan ayam suwir, cakue, kacang, daun bawang, dan kerupuk di semangkuk bubur ayam khas Tasikmalaya?

Penelusuran ini ternyata tak mudah. Sejauh ini belum diketahui pasti siapa orang yang pertama berkreasi menambahkan mentimun di bubur ayam.

Hanya saja, dikumpulkan dari berbagai sumber atau keterangan lisan, kemunculan bubur ayam dibontengan di Tasikmalaya ditengarai mulai ada di era 1980-an.

"Setahu saya sudah ada sejak tahun 80-an, pedagangnya ada di depan bioskop Kujang dan bioskop Parahyangan, di pusat Kota Tasikmalaya," kata Uyung Aria, pegiat kuliner dan media sosial di Tasikmalaya, belum lama ini.

Pedagang pertama yang menambahkan mentimun di bubur ayamnya dikenal dengan sebutan bubur Mad Max. Gerobaknya pun unik, didesain menyerupai mobil, sehingga pedagang ini cukup terkenal pada masanya.

"Terkenal Bubur Madmax, waktu itu memang lagi demam film Madmax yang dibintangi Mel Gibson. Gerobaknya berbentuk mobil, nah di pedagang itu saya pertama menemukan ada mentimun di bubur ayam," jelas Uyung.

Seiring perjalanan waktu, semakin banyak pedagang bubur yang menambah taburan mentimun di dagangannya. Perlahan hal itu menjadi ciri khas bubur ayam Tasikmalaya.

Lain lagi cerita Dede Amar Soleh, warga Singaparna. Pria kelahiran tahun 1980-an itu pertama kali menemukan bubur ayam dibontengan di sekitar kompleks olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya.

"Waktu kecil di Singaparna nggak pernah menemukan bubur ayam dibontengan. Nah setelah SMP ada kegiatan renang ke Dadaha, di sana baru nemu. Selain pakai mentimun, pakai Aida (merk cabai bubuk) juga. Itu berarti tahun 90-an," ungkap Dede.

Pada masa itu, di Singaparna, yang termasuk wilayah pinggiran Kota Tasik, menurut dia, tak ada bubur ayam pakai mentimun. "Ya, dulu di Singaparna bubur ayam biasa saja, hanya ayam suwir secomot (sedikit), kacang, bawang daun, kerupuk, cakue, nggak ada mentimun," ucap Dede.

Ada lagi Aep Darmawan (58), warga Indihiang, Tasikmalaya, yang menceritakan pengalamannya jajan bubur di Bandung. "Ingat tahun 90-an, diajak saudara jajan bubur Pelana di Bandung. Bubur paling sohor itu, selalu antre. Itu di dekat Tegallega, iya di Jalan Pelana," kata Aep.

Saat bubur disajikan, dia celingukan mencari mentimun di meja dan di gerobak. Tapi tak ada, sampai akhirnya dia bertanya ke pedagang.

"Kata yang dagang, nggak pernah menyediakan. Kata saya teh, gimana atuh jadi teu pararuguh (bagaimana dong jadi serasa ada yang kurang lengkap)," tutur Aep.

Karena dianggap kocak, Aep malah diledek oleh saudaranya. Kejadian culture shock atau gegar budaya ini berakhir dengan derai tawa.

"Kata saudara saya, hese jeung urang Tasik mah sagala kudu dibontengan, jung meuli heula, tah pasar deukeut (susah dengan orang Tasik, semua makanan harus pakai mentimun, sana beli dulu, nah pasar dekat)," jelas Aep.

Sejak saat itu Aep baru sadar jika bubur ayam pakai mentimun hanya ada di Tasikmalaya.

Bubur ayam pakai mentimun di Tasikmalaya.Bubur ayam pakai mentimun di Tasikmalaya. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)

Alasan Mentimun di Bubur Ayam Tasik

Hal lain yang jadi pertanyaan tentu saja menyangkut motivasi di balik penambahan taburan mentimun di bubur ayam tersebut. Terkait hal ini, Uyung Aria menyebut ada hubungannya dengan tiga prinsip sebagian masyarakat saat jajan, yakni murah, mentung, dan ngeunah. Artinya murah, penuh (porsi besar), dan enak.

"Penambahan mentimun otomatis menambah volume, jadi mentung, membikin kenyang. Masyarakat kita kan yang penting murah dulu, terus mentung, harus membuat kenyang dan yang ketiga ngeunah. Mungkin mentimun itu trik marketing agar porsi jadi besar," kata Uyung.

Apalagi, mentimun termasuk bahan makanan yang murah. Pedagang tak perlu tambahan modal besar untuk menyediakan mentimun. Makanya irisan mentimun itu disediakan juga di meja makan. Sehingga, pelanggan bisa menambahkan mentimun jika merasa kurang.

Hal lain yang ditengarai menjadi pemicu penambahan mentimun pada bubur ayam adalah kultur masyarakat yang menjadikan mentimun tak hanya sebagai sayur atau lalapan semata, tapi juga jadi camilan, pengganjal lapar, hingga menu wajib yang tak boleh absen.

Buktinya, masyarakat Tasikmalaya sangat akrab dengan kenikmatan menyantap duet kerupuk dan mentimun. Kreasi lainnya ada reuceuh bonteng, ini adalah cacahan mentimun yang diberi bumbu kencur, bawang-bawangan, dan cabai.

Tak hanya itu, ada juga soteng, ini singkatan dari bakso bonteng. Soteng adalah bakso kuah yang diberi taburan mentimun dan kerupuk mi. Jadi selain di bubur ayam, mentimun juga hadir dalam sajian bakso secara khusus.

Hal ini menjadi deretan bukti jika mentimun sudah sangat akrab di lidah masyarakat Tasikmalaya atau Priangan Timur. Bisa dibilang, warga Tasik memang doyan mentimun. Maka jangan heran jika mentimun selalu hadir pada bubur ayam. Tak lengkap rasanya jika kesegaran dan tekstur renyah mentimun absen dari kelezatan semangkuk bubur ayam khas Tasikmalaya.

Tertarik mencoba bubur pakai mentimun, detikers?

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads