Antrean yang Tak Pernah Surut di Bakso Superindo Dago

Antrean yang Tak Pernah Surut di Bakso Superindo Dago

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Minggu, 29 Mar 2026 10:00 WIB
Bakso Superindo Dago
Bakso Superindo Dago (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)
Bandung -

Di tengah riuhnya Jalan Ir. H. Juanda, Kota Bandung, sebuah gerobak bakso sederhana berdiri di depan pintu masuk Superindo Dago. Tanpa spanduk mencolok atau daftar menu yang dipajang, gerobak itu justru dikenal lewat antrean panjang yang hampir tak pernah benar-benar sepi.

Pemandangan tersebut kembali terlihat pada Kamis (26/3/2026) menjelang sore. Di tengah suasana libur Lebaran, jumlah pembeli tampak lebih banyak dari biasanya. Antrean mengular, sementara para pembeli datang silih berganti, seolah tak terputus.

Dari balik gerobak, dua orang tampak cekatan meracik pesanan. Tangan mereka bergerak cepat, meramu mie, bakso, dan kuah panas ke dalam mangkuk demi mangkuk. Di sisi lain, dua orang lainnya sibuk mencuci piring yang terus menumpuk, memastikan perputaran tetap berjalan di tengah tingginya permintaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak ada penjelasan panjang tentang menu yang dijual. Hanya sebuah stiker barcode bertuliskan "Bakso Superindo Tri" yang menempel di kaca gerobak, menjadi satu-satunya penanda.

ADVERTISEMENT

Di antara antrean, para pembeli datang dengan alasan yang sederhana: rasa yang sudah akrab. Reni, seorang warga yang tinggal tak jauh dari lokasi, mengaku cukup sering membeli bakso di kawasan tersebut, terutama yang berada di pintu keluar.

"Gerobak yang ada di pintu keluar belum jualan lagi, jadi sekarang beli yang di sini saja," ungkap Reni.

Ia menjelaskan, meski berbeda posisi, sajian yang dijual pada dasarnya sama. Hanya saja, biasanya gerobak di pintu keluar lebih ramai.

"Kalau yang ini bakso depan pintu masuk. Sebenarnya yang dijual sama saja, cuma memang biasanya lebih ramai bakso pintu keluar," terangnya.

Bakso Superindo DagoBakso Superindo Dago Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Bagi Reni dan suaminya, momen membeli bakso kali ini juga menjadi jeda dari perjalanan panjang. Mereka baru saja menempuh perjalanan dari Garut dengan sepeda motor sehari sebelumnya.

"Kemarin Bapak teh baru sampai motoran dari Garut. Carangkeul (pegal-pegal) katanya, pengen nyantai sambil makan yang segar-segar, yang pedas," ungkap Reni.

Ketika ditanya alasan tetap kembali meski harus mengantre, ia mengaku tak memiliki alasan khusus selain kedekatan lokasi dan rasa yang sesuai selera.

"Baksonya gitu aja teh sebenarnya, bihun sama mie kuning, sama bakso urat. Di mana-mana juga tukang bakso mah kan sama jualannya. Tapi ya rasanya enak, kalau lagi pengen bakso suka otomatis ke sini. Harganya juga murah," paparnya.

Pendapat serupa disampaikan seorang ibu lain yang berdiri di antrean. Ia juga mengaku sering membeli bakso di lokasi tersebut, meski lebih sering memilih gerobak di pintu keluar.

"Saya sama suami lebih sering beli yang di pintu keluar, kata suami saya lebih cocok yang di sana rasanya. Tapi yang ini juga enak sih. Saya sering ke sini kalau istirahat kerja," ungkapnya.

Di balik ramainya antrean, ternyata gerobak bakso di kawasan tersebut masih memiliki hubungan keluarga. Para penjual berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah, dan telah lama berjualan di kawasan itu, bahkan sejak era ketika Superindo masih bernama Gelael.

"Dua-duanya kan masih saudaraan, ada satu lagi di Sulanjana. Jualannya sudah lama, dari jaman Superindo namanya masih 'Gelael'. Ya mungkin sekitar tahun 90'an," ungkap Ikhsan, karyawan Bakso Tri.

Bakso Superindo DagoBakso Superindo Dago Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Sembari berbincang, Ikhsan terus mencuci mangkuk demi mangkuk yang tak pernah berhenti berdatangan. Ia mengaku sulit menghitung jumlah porsi yang terjual setiap hari.

"Bisa jadi ratusan, yah enggak kehitung. Banyak banget," terangnya.

Menurutnya, ramainya antrean hari itu juga dipengaruhi oleh belum beroperasinya gerobak lain di sekitar lokasi.

"Yang di bawah (pintu keluar) itu kan belum buka. Di Sulanjana juga belum jualan lagi. Jadi ramai banget di sini," ungkapnya.

Soal menu, ia menyebut tak ada yang benar-benar berbeda dari bakso pada umumnya.

"Sama saja sih sebenarnya yang dijual, ditambah penyedap saja kuahnya. Ya enggak tahu juga persisnya seperti apa, tapi enggak ada yang beda," ujarnya seraya tersenyum.

Di balik kesibukan itu, sang penjual tetap fokus melayani pembeli. Saat ditanya soal jumlah daging yang digunakan setiap hari, ia hanya menjawab singkat.

"Berapa ya, banyak. Mungkin puluhan (kilogram)," ujarnya.

Dengan harga Rp15.000 per porsi, semangkuk mie bakso lengkap tanpa bakso telur menjadi pilihan banyak pembeli. Porsinya sederhana, namun cukup untuk mengganjal lapar, dengan cita rasa yang familiar dan mudah diterima.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads