Lebaran saat ini tak hanya identik dengan opor dan rendang, tetapi juga menghadirkan kebiasaan unik di tengah masyarakat, yakni menyantap bakso setelah bersilaturahmi. Tren ini menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang, termasuk Baso Balowo yang telah eksis sejak 2006.
Satriyo (23), putra pemilik Baso Balowo, mengungkapkan lonjakan pembeli saat Lebaran bukanlah fenomena baru. Sejak awal berdiri, usaha kuliner keluarganya selalu kebanjiran pelanggan setiap momen hari raya tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari awal buka sampai sekarang, setiap Lebaran itu selalu terasa lebih ramai dibanding hari biasa," ujar Satriyo.
Menurut Satriyo, peningkatan jumlah pelanggan saat Lebaran bisa dikatakan sangat signifikan. Bahkan, omzet penjualan mampu melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Namun, ia enggan menyebut secara rinci kenaikan omzet jualannya saat momen Lebaran.
"Peningkatan penjualan bisa dua atau tiga kali lipat. Dan setiap tahun itu ada kenaikan lagi, jadi makin ramai," ucapnya.
Satriyo mengaku bersyukur dengan adanya tren ini. Baginya, momen tersebut bukan sekadar soal mengejar keuntungan pribadi, melainkan juga berkaitan dengan tanggung jawab terhadap kesejahteraan para karyawan.
"Alhamdulillah pasti bersyukur, karena di sini juga ada pegawai yang harus dibayar. Jadi momen Lebaran ini bisa jadi kesempatan buat nambah pemasukan, sekaligus buat kasih bonus ke karyawan," ungkapnya.
Ia menambahkan, lonjakan omzet saat Lebaran menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga keberlangsungan usaha. Hal ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi kepada para pekerja yang tetap setia melayani pelanggan di tengah suasana libur panjang.
Lonjakan pengunjung biasanya mulai terjadi sejak hari pertama hingga hari ketiga Lebaran, bahkan tren ini kerap berlanjut hingga satu pekan setelahnya. Momen ini dimanfaatkan banyak keluarga untuk berkumpul di luar rumah setelah menjalani tradisi silaturahmi formal.
Fenomena makan bakso di hari Lebaran dinilai Satriyo sebagai bentuk titik jenuh masyarakat terhadap menu khas hari raya yang serba santan. Bakso dengan kuah hangat yang gurih dianggap menjadi alternatif hidangan yang menyegarkan.
"Ya mungkin karena di rumah bosan ya, makanannya rendang, opor. Jadi pengen yang berkuah, yang segar-segar. Makanya banyak yang habis salaman langsung ke bakso," tuturnya.
Tak sekadar tren musiman, kebiasaan ini kini semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Hal tersebut turut mendorong peningkatan jumlah pelanggan secara masif, terutama dari kalangan anak muda dan keluarga milenial.
Bagi pelaku usaha seperti Satriyo, Lebaran merupakan periode krusial untuk mendongkrak pendapatan. Dengan lonjakan pengunjung yang konsisten setiap tahun, tradisi sederhana seperti makan bakso terbukti memiliki dampak ekonomi yang nyata bagi ekosistem kuliner lokal.
Harga Baso Balowo ini berkisar dari Rp14.000 hingga Rp36.000 per porsinya. Jam operasionalnya dari pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB.
(sud/sud)










































