10 Makanan Diet Berkelanjutan yang Murah dan Mudah Didapat

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Kamis, 08 Jan 2026 06:30 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/monticelllo)
Bandung -

Diet berkelanjutan tidak harus mahal atau menggunakan bahan impor. Inti pola makan ini adalah memilih bahan lokal yang padat nutrisi dengan jejak karbon minimal.

Studi berjudul 'Sustainable Diet sebagai Intervensi Pengurangan Konsumsi Fast Food Berlebihan' oleh Nadhifa Salsabillah Riyadi dkk. dalam Jurnal Flourishing (2023) menyebutkan, diet berkelanjutan mengajak individu mengonsumsi makanan beragam yang sehat bagi manusia sekaligus lingkungan.

"Diet ini mendorong individu mengonsumsi makanan beragam dengan mempertimbangkan proses pengolahan yang berdampak rendah terhadap lingkungan namun tetap memenuhi gizi," tulis jurnal tersebut.

Diet adalah pengaturan pola makan untuk mencapai tubuh sehat. Sementara itu, diet berkelanjutan tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga melestarikan lingkungan demi kesehatan generasi mendatang.

Mengutip studi Mark Lawrence dalam Nutrition Journal (2024) berjudul 'Fundamentals of a healthy and sustainable diet', secara historis pemahaman pola makan sehat hanya didasarkan pada kecukupan nutrisi untuk mencegah penyakit defisiensi. Studi tersebut melanjutkan, seiring perkembangan ilmu gizi, manusia menyadari adanya hubungan erat antara pola makan, kandungan nutrisi, serta frekuensi konsumsinya.

Agar tubuh tetap ternutrisi dan lingkungan lestari, kita bisa memilih bahan pangan lokal yang terjangkau. Berikut 10 daftar makanan murah dan mudah didapat:

1. Tempe dan Tahu

Ilustrasi Tahu dan Tempe Foto: Getty Images/iStockphoto/Kathleen Juanda Teo

Kedelai sebagai sumber protein nabati jauh lebih ramah lingkungan daripada daging sapi karena hemat lahan dan air. Mengonsumsi tempe dan tahu, superfood asli Indonesia, dapat memenuhi kebutuhan gizi sekaligus menjaga stabilitas lingkungan. Bayangkan jika kita bergantung sepenuhnya pada daging ternak. Lonjakan permintaan daging akan memicu perluasan peternakan yang berdampak pada perubahan lingkungan serta pencemaran air akibat limbah kotoran ternak.

2. Telur Ayam Lokal

Telur adalah sumber protein hewani dengan jejak karbon terendah. Membeli telur dari peternak lokal juga memangkas emisi gas buang dari transportasi jarak jauh. Ayam kampung memproduksi telur yang sehat karena biasanya dilepasliarkan pada siang hari untuk mencari makan di hamparan rumput dan baru kembali ke kandang saat sore hari.

3. Umbi-umbian

Sebagai pengganti nasi, umbi-umbian sangat berkelanjutan karena tahan hama dan tidak membutuhkan irigasi serumit padi. Selain itu, indeks glikemiknya lebih rendah sehingga baik untuk kadar gula darah. Mengonsumsi umbi-umbian memberikan rasa kenyang yang lebih lama dibanding nasi. Ubi Cilembu, Talas Bogor, hingga singkong (Manihot esculenta) adalah pilihan lezat dan mengenyangkan.

4. Sayur Organik

Di Bukit Amal, Kelurahan Kampung Enam, Kecamatan Tarakan Timur, Tarakan terdapat sentra kebun sayur yang dikelola dengan pupuk organik. Tidak hanya menawarkan udara sejuk, tempat ini juga memanjakan mata dengan panorama alam yang memukau. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan

Sayuran hijau tumbuh cepat dan bisa ditanam di lahan sempit, bahkan melalui sistem hidroponik di rumah. Sayuran ini minim pestisida jika didapat dari petani organik lokal. Memang harganya sedikit lebih mahal. Seikat kangkung organik, misalnya, bisa dua kali lipat harga kangkung biasa. Namun, tentu ada price to pay untuk kesehatan jangka panjang.




(iqk/iqk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork