Chandle, Wujud Toleransi Kegiatan Keagamaan di SMAN 2 Depok

Chandle, Wujud Toleransi Kegiatan Keagamaan di SMAN 2 Depok

Atta Kharisma - detikJabar
Sabtu, 12 Nov 2022 15:18 WIB
Chandle, Wujud Toleransi Kegiatan Keagamaan di SMAN 2 Depok
Foto: Dok. Disdik Jabar
Jakarta -

Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat melalui Cabang Dinas Pendidikan (Cadisdik) Wilayah II Jawa Barat (Jabar) terus berupaya membentengi warga sekolah dari segala bentuk diskriminasi dan intoleransi. Komitmen itu salah satunya ditunjukkan melalui program Chandle yang diinisiasi oleh Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Depok.

Chandle, atau Christian SMADA People merupakan program yang digagas SMAN 2 Depok dan diikuti oleh Rohkris atau Rohani Kristen di sekolah tersebut. Program ini merupakan wadah bagi siswa-siswi non-muslim untuk melakukan ibadah dan menjalin persahabatan.

Kepala Cadisdik Wilayah II Jabar Otin Martini menekankan penting bagi setiap sekolah memfasilitasi setiap pemeluk agama tanpa adanya diskriminasi. Menurutnya, kehadiran program Chandle menjadi salah satu bentuk upaya menciptakan lingkungan belajar yang tak hanya bebas dari diskriminasi, tapi juga demokratis, menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.


"Salah satu contoh pengimplementasian dari keadilan dalam kegiatan keagamaan di sekolah adalah dengan adanya program Chandle," ujar Otin dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/11/2022).

"Chandle merupakan tempat bagi siswa-siswi SMAN 2 Depok yang berumat Kristen dan Katolik untuk bersekutu, beribadah, menjalin kasih dan persahabatan," sambungnya.

Otin menyebut hal ini sejalan dengan amanat Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional atau UU Sisdiknas.

"Dari pemeluk agama yang mayoritas hingga pemeluk agama minoritas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan dan fasilitas dalam menunjang kegiatannya di sekolah," tuturnya.

Otin pun memastikan upaya meminimalisir bentuk diskriminasi dan intoleransi tidak hanya dilakukan di SMAN 2 Depok. Ia mendorong sekolah lainnya yang berada di lingkungan Cadisdik Wilayah II Jabar, meliputi Kota Bogor dan Depok, untuk melakukan hal serupa.

Di sisi lain, Kepala Sekolah SMAN 2 Depok Wawan Ridwan mengatakan ada berbagai kegiatan keagamaan pada di lingkungan sekolah yang dibinanya dan telah berlangsung sejak lama. Di antaranya, seperti Rohis (rohani Islam), marawis dan program Chandle.

Wawan menerangkan program Chandle adalah wadah bagi siswa dan siswi beragama Kristen dan Katolik yang tidak hanya mengikat pada satu angkatan saja. Dalam berbagai kesempatan, program Chandle kerap kali terhubung dengan para senior yang telah lulus untuk memberikan bimbingan.

"Pada beberapa kegiatan bahkan sering terjadi sinergi dan kolaborasi antara Chandle dan Rohani Islam. Ini juga bukti tingginya toleransi di SMAN 2 Depok," ungkapnya.

Wawan menambahkan bentuk toleransi agama warga sekolah di SMAN 2 Depok juga tampak dari formasi ketua dan wakil ketua Majelis Pewakilan Kelas (MPK). Ia menuturkan ketua MPK di SMAN 2 saat ini diketuai oleh siswa beragama muslim, sementara wakil ketua adalah non muslim.

Selain itu, Wawan mengungkapkan jumlah siswa non muslim di SMAN 2 Depok meningkat dari yang hanya sekitar 35 orang di tahun ajaran sebelumnya, menjadi sekitar 66 orang.

"Keseluruhan siswa non muslim saat ini 160 anak dari berbagai kelas. Dan kami mengatur penjadwalan pelajaran agamanya juga kegiatan pendukung lainnya," ucapnya.

Wawan menerangkan dalam program Chandle, ada sejumlah kegiatan keagamaan yang secara rutin digelar, baik itu harian, mingguan, bulanan hingga tahunan. Untuk kegiatan harian, digelar kegiatan SaTe atau Saat Teduh, sementara untuk mingguan terdapat kegiatan PJ atau persekutuan Jumat.

"Nah untuk bulanan ada PJ Spesial. Di mana dalam persekutuan Jumat ini disertai juga dengan games. Sedangkan untuk tahunan, ada Youth Camp, Natalan dan Retreat," tambahnya.

Wawan juga menegaskan Chandle bukan sekadar tempat berkumpul atau berorganisasi, tapi juga menjalin hubungan sekaligus pembentukan karakter.

"Karena, melalui kepengurusan di Chandle, siswa maupun siswi dapat mengambil peran sebagai anggota, penanggung jawab divisi, sekretaris, bendahara dan ketua. Maka di sini dapat membentuk karakter kepemimpinan juga," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dedi Supandi berharap setiap sekolah di Jabar mampu menjadi yang terdepan dalam memerangi sikap intoleransi. Dengan demikian, Indonesia menjadi negara adidaya di 2045 bukan lagi hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Selain SMAN 2 Depok, sekolah lain di bawah naungan Cadisdik Wilayah II Jawa Barat yang telah menjadi pionir dalam mewujudkan Sekolah Toleransi pertama di Indonesia adalah SMAN 1 Depok. Pada April 2022 lalu, pihaknya bersinergi dengan Pandam Jaya Mayjen Untung Budiharto untuk mengukuhkan SMAN 1 Depok sebagai Sekolah Toleransi pertama di Indonesia.

"Sekolah toleransi pertama di Indonesia ini bisa menjadi contoh lain untuk sekolah yang ada di Jawa Barat, umumnya di Indonesia. Diharapkan bisa diimplementasikan ke tiap sekolah di Jabar," imbuh Dedi.

Dedi mengungkapkan di Jabar terdapat setidaknya 5.033 sekolah yang diharapkan dapat mengimplementasikan nilai-nilai toleransi untuk masuk dalam kurikulum melalui pelajaran PPKn.

Lewat mata pelajaran ini, khususnya di tingkat SMA, juga diselipkan pendidikan antikorupsi yang digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan.

"Generasi Indonesia Emas. Yang akan menjadi penerus bangsa adalah siswa-siswa yang saat ini sedang menjalani pendidikan, khususnya di SMA, SMK dan SLB. Karena itu, terus tumbuhkan sikap toleransi," pungkas Dedi.

(akd/ega)