Serba-serbi Warga

Menjelajahi Keindahan Alam Indonesia Lewat Kayuhan Sepeda

Nur Azis - detikJabar
Selasa, 02 Agu 2022 13:34 WIB
Goweser asal Kota Bandung.
Foto: Goweser asal Kota Bandung (Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Empat orang goweser atau pesepeda tampak sedang berteduh di bawah pohon di Alun-alun Kabupaten Sumedang. Mereka diketahui goweser asal Bandung yang telah melakukan touring dari Indramayu.

Kegiatan touring semacam itu ternyata sudah menjadi hobi bagi keempat goweser tersebut. Seperti pengalaman yang dibagikan salah satu dari mereka, yakni Chris Mardian (28) atau biasa dipanggil Acil.

Acil belum lama ini atau pada Juli 2022 telah mengayuh sepedanya dari Kota Bandung sampai ke Kota Pekanbaru. Ia mengayuh sepedanya bersama satu orang temannya yang lain dengan mengambil rute jalur timur Sumatera.


"Saat itu saya mengambil jalur timur dari Kota Bandung ke Jakarta, Lampung, Palembang, Jambi, Kayu Agung, Pematang Panggang, Pekanbaru," ungkap Acil kepada detikJabar.

Menurut Acil, jalur tersebut memiliki medan cukup menantang terutama saat melintasi wilayah Pematang Panggang.

"Jalur Sumatera itu rolling naik turun dan di daerah Pematang Panggang itu kawasannya panas banget karena rata-rata pohon sawit," terangnya.

Acil menuturkan, kegiatan touring memiliki kenikmatannya tersendiri. Selain bisa mengenal wilayah juga bisa mengenal kultur warga tiap daerah.

"Keasyikan dari bersepeda, terutama saat touring itu kita bisa berhenti dimana saja, kita bisa lihat pemandangannya, mengobrol dengan warga dan kesenangan lainnya yang tidak bisa didapat dengan berkendara lainnya," paparnya.

Kendati demikian, sambung Acil, segala persiapan perlu dilakukan sebelum menggelar touring. Selain mental, segala kebutuhan pribadi dan peralatan pun perlu dipersiapkan.

"Barang-barang yang saya bawa saat touring kemarin itu di antaranya peralatan sepeda seperti kunci-kunci, rantai, ban serep, tambal ban dan pompa ban. Terus kalau untuk kebutuhan pribadi seperti tenda, sleeping bag, baju, alat mandi, kompor portable dan peralatan masak minimalis lainnya," tuturnya.

Untuk tempat beristirahat sendiri, Acil mengaku lebih memilih tidur diperjalanan seperti di masjid atau menggelar tenda ketimbang tidur di penginapan atau hotel. Selain alasan bujet, tempat menginap di tempat-tempat itu memiliki keasyikan tersendiri.

"Selain karena keterbatasan bujet, menginap di tempat-tempat itu juga cukup menyenangkan, ada survivalnya," ujarnya.

Itu mengapa, kata Acil, saat melakukan touring diperlukan partner yang kompak.

"Rekan touring juga perlu, takutnya ada apa-apa di jalan, tapi partner itu harus yang karakternya sudah kita tahu, agar bisa saling support," kata dia.

Acil menyebut, bujet yang dibawanya saat touring kemarin hanya sebesar Rp1 juta. Bujet tersebut hanya bujet pribadi sementara sisanya mendapat support dari rekan-rekan komunitas.

"Idealnya bujet touring ke Sumatera itu minimalnya 5 jutaan, tapi beruntung saya mendapat support dari komunitas," ujarnya.

Acil telah menggeluti hobinya sejak ia duduk di bangku SMP. Ia pun cukup sering melakukan touring ke sejumlah daerah di Indonesia.

"Kalau di Jawa beberapa daerah sudah pernah saya datangi seperti , Wonosobo, Dieng, Wates, Semarang Boyolali, Cirebon dan daerah lainnya dengan mengambil titik start dari Bandung," ucapnya

(mso/mso)