Serba-serbi Warga

Cerita Muqit dan Sahrul, Disabilitas yang Bikin Website Kuliner

Sudirman Wamad - detikJabar
Kamis, 28 Jul 2022 17:30 WIB
Muqit dan Sahrul.
Muqit dan Sahrul. (Foto: Sudirman Wamad/detikJabar)
Bandung -

Muhammad Muqit Gupay (17) dan Sahrul Aripin (19), dua disabilitas siswa SLBN A Citeureup Cimahi, Jabar, berhasil menyandang gelar Best Design atau Desain Terbaik dalam perlombaan Cloud Computing Club Competition (C4).

Muqit dan Sahrul membuat desain website dalam perlombaan C4. Ia mewakili sekolah tercintanya. Muqit merupakan seorang tunadaksa, ia seorang cerebral palsy. Sedangkan, Sahrul seorang tunanetra. Keduanya berkolaborasi membuat desain website bernama 'Keethcen Space'.

Website yang dibangun Muqit dan Sahrul itu memberikan layanan pemesanan kuliner. Ide website itu berlatar belakang dari kakak Muqit yang punya kedai makanan dan minuman. Muqit dan Sahrul digembleng sekolahnya dan dibantu Yayasan Sagasitas untuk mengikuti lomba C4 itu.


Guru SLBN A Citeureup Cimahi Irfan Pratama (29) yang merupakan pembimbing Muqit dan Sahrul menceritakan, proses pembuatan website itu memakan waktu selama tiga minggu. Keduanya sempat mendapatkan pelatihan selama dua sampai tiga bulan.

"Hingga akhirnya, keduanya punya ide untuk menginstruksi website bertema kuliner," kata Irfan saat berbincang dengan detikJabar usai menerima penghargaan juara di Grand Hotel Preanger Bandung, Kamis (28/7/2022).

Tak hanya menyabet Best Design, Muqit dan Sahrul juga menjadi juara pertama. Irfan menjelaskan Muqit sangat mencintai desain grafis. Proses pembuatan website pun mendorong Muqit untuk terus belajar. Muqit dan Sahrul saling melengkapi, sebab Muqit memiliki keterbatasan dalam gerak.

"Masih kerangka. Tinggal hosting saja. Sebelumnya memang pernah membuat desain-desain, kalau website pertama kali," kata Irfan.

"Karena keterbatasan gerak, jadi kita tak memakai coding-coding. Ini konstruksi dasar website, seperti power point gitu," tuturnya.

Muqit dan Sahrul.Muqit dan Sahrul. Foto: Sudirman Wamad/detikJabar

Muqit dan Sahrul saat ini masih duduk di bangku SMA kelas XI. Irfan, sebagai guru pembimbing mengaku bertanggung jawab atas potensi yang bisa dikembangkan kedua muridnya itu. Irfan awalnya mengidentifikasi potensi keduanya. Hingga akhirnya, minat dan bakat keduanya pun tersalurkan.

"Muqit harus terus dikembangkan ke desain grafis. Sedangkan Sahrul harus kuliah. Dia (Sahrul) punya kecerdasan," kata Irfan.

Inklusi Digital

Irfan berharap terciptanya inklusi digital. Pendidikan digital bagi anak-anak harus berkeadilan, salah satunya kepada anak-anak disabilitas. Muqit dan Sahrul adalah dua murid yang menjadi bagian perjuangan untuk mendapatkan pendidikan digital.

"Kita terus perjuangkan inklusi digital. Semua anak bangsa harus mendapatkan ini," ucap Irfan.

Tak hanya digital, ia juga berharap inklusi terjadi dalam ruang-ruang sosial. Sebab, Irfan mengaku anak didiknya kerap mendapatkan perundungan atau bullying karena keterbatasan.

"Kita harus hindari bullying. Berikan mereka (disabilitas) kesempatan, hanya itu," ucap Irfan.

Sementara itu, Amazon Web Services (AWS) selaku penggagas C4 mengaku terus berupaya meciptakan inklusi digital bagi anak disabilitas. Country Manager AWS Indonesia Gunawan Susanto mengatakan beberapa program computing komputasi, atau penggunaan dan pengembangan teknologi komputer, perangkat keras, dan perangkat lunak komputer terus digulirkan.

"Kami menyebutkan diri kami sebagai builders, sebagai tukang bangunan, membangun berbagai hal salah satunya cloud computing. Kedua adalah membangun talenta di Indonesia," jelas Gunawan.

AWS bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Jabar dan gerakan Pramuka dalam menggelar kegiatan pelatihan computing bagi anak-anak disabilitas di Jabar, termasuk lomba C4. Sejumlah SLB di Jabar pun turut terlibat.

"Ada yang menjual makanan melalui web. Ada portal berita alumni disabilitas. Mereka kreatif. Pendidikan teknologi harus inklusi terhadap siswa penyandang disabilitas," kata Gunawan.

(sud/ors)