Di balik peristiwa kematian tragis di Kampung Bakti, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, terselip rekam jejak mentereng dari sang korban.
Pria lanjut usia yang ditemukan tak bernyawa di kamarnya itu adalah Petrus Pallangan (74), atau yang di panggung riset dan teknologi lebih dikenal sebagai Profesor Ronald P Pallangan.
Almarhum bukan sosok sembarangan. Di kalangan akademisi, pria bergelar Profesor Doktor ini mendedikasikan hidupnya pada riset sains terapan dan dunia pendidikan.
Putri almarhum, Devi Aprilianti, menceritakan bahwa sang ayah semasa hidupnya aktif mengajar hingga ke mancanegara dan melahirkan berbagai temuan.
"Beliau itu profesor doktor. Pernah ngajar di Tiongkok (Cina) juga. Prestasinya banyak sekali, bahkan sempat dapat penghargaan dari Rusia dan Jerman," tutur Devi saat berbincang, Jumat (2/10/2026).
Salah satu mahakarya Ronald yang diakui luas adalah riset sistem pertanahan pengaman petir (grounding system). Temuannya mampu menekan nilai resistansi pembumian hingga menyentuh titik ekstrem 0,01 ohm bahkan 0 ohm.
Teknologi penjinak petir tersebut sempat diaplikasikan di instansi TNI Angkatan Laut, Angkatan Udara, hingga pengamanan kawasan residensial Sentul.
Tak berhenti di instalasi petir, jejak digital almarhum di media sosial memperlihatkan dedikasinya dalam menciptakan teknologi pelacak air tanah yang ia beri nama AWUG Detector (Analysis Water Under Ground Detector).
Keberadaan akun media sosial tersebut turut dibenarkan oleh sang putri. Devi mengonfirmasi bahwa akun yang kerap membagikan inovasi detektor air itu memang milik sang ayah semasa hidup.
Melalui alat berbentuk boks pemindai berantena tersebut, Ronald merancang metode deteksi titik sumber mata air murni dan sehat berdasarkan pendekatan frekuensi gelombang alam, tanpa harus merusak kontur lingkungan sekitar. Karya inovasinya itu bahkan diakui rekan maupun anak didiknya memiliki tingkat akurasi tinggi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Di masa mudanya, almarhum juga memiliki rekam jejak literasi yang kuat dengan sempat berkarier sebagai jurnalis di harian nasional Kompas.
"Zaman dulu Papa juga pernah jadi wartawan di koran Kompas. Jadi memang wawasannya luas sekali, sosok yang pintar banget," kenang Devi.
Namun di balik kecemerlangan pemikirannya, kondisi fisik sang profesor menurun drastis dalam dua tahun terakhir akibat kelumpuhan.
"Sebenarnya dua tahun lalu Papa sempat jatuh. Karena orangnya aktif, enggak sabaran dan banyak kerjaan ke sana-kemari, beliau memutuskan operasi. Tapi setelah operasi malah enggak bisa jalan. Sejak itu gerak beliau terbatas," beber Devi.
Di mata keluarga, Ronald merupakan figur ilmuwan sejati yang berprinsip tegas dan memiliki kedekatan hangat dengan anak-anaknya.
"Di mata anak-anaknya, Papa itu tegas, ya sedikit galak khas profesorlah ya, orangnya unik. Beliau juga orangnya aktif, senang pasang status di WhatsApp. Kemarin saya sempat unggah foto Papa di Instagram karena beliau kan baru saja ulang tahun. Kami sekeluarga tentu sangat kehilangan sosok beliau," pungkas Devi.
(sya/sud)