Kematian Petrus Pallangan (74), seorang dosen asal Cimahi yang tinggal di Kampung Bakti, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, menyisakan misteri mendalam. Korban ditemukan tewas membusuk di dalam rumahnya, sementara asisten rumah tangga (ART) korban dilaporkan kabur bersama sejumlah barang berharga.
Peristiwa ini bermula ketika anak korban, Devi Aprilianti, merasa khawatir karena ayahnya tidak dapat dihubungi sejak Selasa (15/9/2026). Upaya menghubungi sang ART berinisial A juga gagal lantaran nomornya sudah tidak aktif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merasa curiga dengan kondisi rumah yang gelap gulita, tertutup rapat, dan tercium bau menyengat sejak dua pekan terakhir, Devi mendatangi lokasi pada Jumat (25/9/2026) didampingi Ketua RT setempat, Abdul Salam.
"Akhirnya anaknya laporan dulu sama RT ya. Datang ke rumah saya. Ternyata begitu sampai masih belum ada kunci," kata Abdul di lokasi kejadian, Jumat (2/10/2026).
Warga sekitar sebenarnya sempat mencium bau tidak sedap tersebut pada hari-hari sebelumnya, namun mengiranya sebagai bangkai hewan. "Kalau yang sering mencium bau mah tukang ojek yang di sini. Merasakan bau itu ada. Naruh motor lewat sini, 'Kayak bau bangkai burung, kayak bangkai kucing,' gitu," ungkap Abdul.
Karena pintu rumah terkunci rapat, pihak keluarga memanggil jasa tukang kunci dengan pendampingan Ketua RT. Proses pembukaan pintu tersebut memakan waktu yang cukup lama.
"Akhirnya anaknya manggil tukang kunci. Sama saya ditungguin setengah jam. Kemudian setelah terbongkar itu kunci, anaknya masuk ngelihat bapaknya udah seperti gitulah," jelas Abdul.
Begitu pintu terbuka, aroma busuk langsung menyeruak. Korban ditemukan terbujur kaku di atas kasur di ruang tengah dalam kondisi tertutup selimut hingga dada dan sudah membusuk.
"Kondisinya pakai selimut, cuman segini (hingga bagian dada). Jadi sini ngelihat ini mah sama hitam, hitam, tapi katanya ke sininya enggak, biasa aja. Bagian mukanya, fisiknya," terang Abdul menggambarkan kondisi jenazah yang posisinya terlentang dengan selimut tertata rapi.
Berdasarkan keterangan warga, korban yang sudah lanjut usia dan mengalami keterbatasan fisik untuk berjalan sehari-hari dirawat oleh seorang ART yang baru bekerja selama empat bulan.
Pasca-kejadian ini terungkap, sang ART justru melarikan diri. Kecurigaan keluarga semakin kuat tatkala mendapati sejumlah barang berharga di rumah korban raib. "Ada (barang yang hilang). Satu HP, AC dua, terus sama ATM," ujar Abdul merinci barang-barang yang hilang.
Aparat kepolisian dari Polres Sukabumi langsung bergerak melakukan penyelidikan mendalam. Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana membenarkan latar belakang profesi Petrus sebagai seorang akademisi.
"Ya betul, informasi yang saya dapat demikian, almarhum seorang dosen," ujar Dudi.
Dudi menegaskan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) awal mendeteksi adanya aroma tindak pidana di balik kematian sang dosen, menyusul temuan kejanggalan serta raibnya barang-barang berharga di dalam rumah.
Kini, tim penyidik tengah mempersempit ruang gerak sosok yang dicurigai memiliki kedekatan relasi dengan korban guna mencocokkan alat bukti dengan sangkaan pidana.
"Saat ini ada pihak atau orang yang memang sedang ada pendalaman khusus. Ada kemungkinan itu termasuk orang yang dekat. Kemudian kita sedang mengumpulkan bukti persesuaian antara sangkaan dengan orang dimaksud," pungkas Dudi.
(orb/orb)
