Ramai-ramai Soroti Kasus Pencabulan Santriwati di Bandung

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 18 Agu 2022 00:17 WIB
poster
Ilustrasi Kekerasan Perempuan (Foto: Edi Wahyono)
Bandung -

Santriwati diduga menjadi korban pencabulan pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Kasus tersebut disoroti oleh sesepuh Jawa Barat Mochamad Iriawan alias Iwan Bule.

Dia mengatakan, kasus tersebut harus ditanggapi dengan langkah-langkah konkret agar tidak terulang lagi. Dia menyoroti agar pihak berwenang dapat memberikan perlindungan terhadap saksi-saksi yang ada.

Menurutnya, bukan hal mustahil jika adanya intervensi dari pelaku pencabulan karena seolah-olah memiliki kuasa karena mengajar di ponpes yang terlibat.


"Ini banyak terjadi, keluarga santri maupun santriwati yang jadi korban diiming-imingi sesuatu agar bungkam. Bahkan ada juga yang diancam oleh pihak ponpes karena berusaha menceritakan kejadian pencabulan tersebut," katanya, Rabu (17/8/2022).

Eks Kapolda Metro Jaya ini pun berharap, kejadian ini jangan sampai terjadi lagi. Jangan sampai karena banyak kejadian semacam ini, para orang tua malas untuk menyekolahkan anaknya ke pesantren.

"Berapa banyak para founding fathers kita yang merupakan lulusan pesantren. Semisal Gus Dur, Buya Hamka, KH Agus Salim dan masih banyak lainnya, negara ini bisa seperti sekarang adalah atas jasa-jasa mereka," ujarnya..

Dia menilai, pesantren memiliki peran penting dalam menentukan sumber daya manusianya. Menurutnya, pesantren-pesantren seharusnya memilah guru-gurunya berdasarkan gendernya untuk mengajar.

"Jadi sebisa mungkin santriwati belajar ke ustadzah, dan santri ke ustadz," tuturnya.

Namun apabila tidak memungkinkan, kata dia, maka mereka harus menjaga jarak saat belajar dari ustadz laki-laki ke santriwatinya. "Misalnya diambil jarak sekitar 20-35 meter, cara mengakalinya pun mudah, tinggal gunakan microphone saja," kata dia.

Selain secara internal pesantren, Iwan juga mengingatkan peran pemerintah sangat penting terkait kasus ini. Menurutnya, pemerintah harus ikut memantau kegiatan belajar mengajar di ponpes tersebut.

"Semisal dari DP3AKB atau P2TP2A, termasuk unit PPA di tingkatan polres atau polda. Tergantung sebesar apa dan sebanyak apa jumlah santri maupun santriwatinya," ucapnya.



Simak Video "Bejat! Pengasuh Ponpes di Banjarnegara Cabuli 7 Santri Pria"
[Gambas:Video 20detik]