Polisi Selidiki Kasus Santriwati Diduga Dicabuli Pimpinan Ponpes Bandung

Yuga Hassani - detikJabar
Senin, 15 Agu 2022 20:15 WIB
Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands pressed against a glass window. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the woman is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space.
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/coldsnowstorm)
Bandung -

Polisi melakukan penyelidikan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung.

"Mohon waktu ya sedang proses lidik," kata Kapolresta Bandung Kombes Kusworo Wibowo saat dihubungi detikJabar, Senin (15/8/2022).

Pihaknya berharap kasus tersebut bisa segera disampaikan ke publik dalam waktu dekat. Namun, untuk saat ini, dia belum bisa menjelaskan secara rinci terkait kasus ini.


"Insyaallah segera kita rilis ya," jelasnya.

Kuasa hukum salah satu korban, Deki Rosdia mengatakan, korban yang dia dampingi mengaku dicabuli pimpinan pondok pesantren sejak 2016 ketika masih berusia 14 tahun.

"Dari keterangan korban awalnya pelaku ini memanggil korban, menyuruh untuk bersih-bersih, tapi korban lalu diraba-raba, diciumi hingga dicabuli. Jadi sudah berkali-kali dicabuli," katanya, Senin (15/8/2022).

Deki menyebutkan pelaku mengelabui korbannya dengan berbagai rayuan. Aksi bejat tidak berhenti sampai situ. Pada 2020 korban sempat dijodohkan dengan salah seorang santri untuk dinikahkan tapi pelaku tetap melakukan pencabulan.

"Dijodohkan pada tahun 2020, korban juga bilang ke suaminya dicabuli sama pelaku, tak berani lapor karena ada ancaman dari pelaku," jelasnya.

Deki mengungkapkan dari hasil keterangan korban yang dia tangani terdapat korban lain yang saat ini belum berani melaporkan pelaku. Belum lagi beberapa orang sudah keluar dari pesantren.

"Iya betul karena kita ada beberapa pernyataan dari pelapor ada 12, rohis 4 kalau ga salah jadi udah kalau dihitung 20 mah sampai. Beberapa korban belum berani melapor karena secara mental malu dan mendapatkan ancaman," katanya.

(iqk/iqk)