P2TP2A Garut Apresiasi Hukuman Mati Herry Wirawan

Hakim Ghani - detikJabar
Selasa, 05 Apr 2022 04:00 WIB
Apa Itu Kebiri Kimia? Tuntutan untuk Herry Wirawan Pemerkosa 13 Santri
Herry Wirawan. (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)
Garut -

Herry Wirawan divonis mati oleh Pengadilan Tinggi (PT) Bandung dalam kasus pemerkosaan 13 santriwati. Vonis mati itu direspons positif oleh para korban pemerkosaan Herry.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut Diah Kurniasari mengatakan, pihaknya sangat bersyukur dengan vonis mati yang dijatuhkan kepada Herry.

"Putusan pengadilan sudah adil karena perbuatannya memang sangat keji," kata Diah kepada wartawan, Senin (4/4/2022) malam.


Herry dijatuhi hukuman mati dalam sidang yang diselenggarakan PT Bandung, Senin siang tadi. Dalam sidang tersebut, majelis hakim menerima permintaan banding dari jaksa/penuntut umum.

Majelis hakim, dalam putusannya juga memperbaiki putusan PN Bandung yang sebelumnya menghukum Herry Wirawan dengan hukuman bui seumur hidup. Diah menjelaskan, sangat mengapresiasi majelis hakim dan jaksa yang akhirnya memberikan hukuman yang adil.

Usai vonis yang dijatuhkan majelis hakim, pihaknya kemudian memberitahu para korban dan keluarganya. "Jawabannya alhamdulillah. Ini sangat adil," katanya.

Perilaku yang dilakukan Herry, kata Diah sangat kejam dan tidak manusiawi. Herry yang seharusnya melindungi para korban justru menjadikannya budak seks hingga hamil dan melahirkan.

Diah menambahkan, kasus ini akan menjadi pembelajaran bagi pihaknya untuk semakin meningkatkan perlindungan bagi anak-anak di Kabupaten Garut. "Bagaimana pun, anak harus dilindungi," tutup Diah.

Sekedar diketahui, Herry dituntut hukuman mati oleh Jaksa. Akan tetapi, dalam vonis, hakim memvonis Herry dengan hukuman penjara seumur hidup.

"Mengadili, menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup," ucap hakim.

Hakim menilai perbuatan Herry Wirawan telah terbukti bersalah sesuai dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Dan (5) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan pertama.

Jaksa mengajukan banding atas vonis seumur hidup yang diberikan majelis hakim terhadap Herry Wirawan. Jaksa meyakini, hukuman mati patut diberikan atas perbuatan Herry memperkosa 13 santriwati. Di tingkat banding, hukuman Herry Wirawan diperberat menjadi hukuman mati.

"Menerima permintaan banding dari jaksa/penuntut umum. Menghukum terdakwa oleh karena itu dengan pidana mati," ucap hakim PT Bandung yang diketuai oleh Herri Swantoro sebagaimana dokumen putusan yang diterima, Senin (4/4/2022)

(ors/mso)